Man jadda wajada

2
922

*) Kris da Somerpes

Tahukah Anda, jika kita memandang diri kita kecil, dunia kita akan tampak sempit, dan tindakan kita pun jadi kerdil. Mari kita mengubah pola pikir kita, memperbanyak melakukan action (tindakan) ketimbang hanya diam. Tak peduli Anda gagal atau sukses yang Anda peroleh sewaktu melakukan tindakan. Yang terpenting adalah Anda memberikan yang terbaik yang Anda miliki untuk mencapai tujuan Anda. Gagal bukan berarti Anda hancur, ada banyak kisah orang-orang gagal yang berakhir dengan sukses lantaran ketekunan dan keyakinan pada kehidupan dan Allah.

Negeri Lima Menara, sebuah novel yang terinspirasi dari kisah nyata, buah karya A. Fuadri mengisahkan perihal perjuangan, komitmen, keyakinan dan ketekutan sebagaimana yang dilukiskan di atas. Sebuah kisah yang tidak hanya unik dan khas tetapi juga memberi makna pada proses dan perjuangan dalam kehidupan. ‘Man jadda wajada’ (siapa yang bersungguh-sungguh pasti sukses) adalah pesan sentral dari karya Fuadri ini.

Negeri Lima Menara diawali dengan tokoh Alif seorang remaja Minangkabau yang lugu. Masa kecilnya sebagaimana layaknya anak desa, selalu bergumul dengan alam: berburu durian, bermain bola di pematang dan juga berenang di sungai. Namun pada suatu ketika, atas permintaan ibunya, Alif harus meninggalkan landai Bukit Barisan dan sahabat masa karibnya Randai untuk merantau ke tanah Jawa dan menjadi seorang santri pada Pondok Pasantren Madani.

Podok Pasantren Madani adalah sekolah setingkat SMP dan SMA dengan masa sekolah enam (6) tahun. Sekolah di Pasantren Madani adalah menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Sistem belajarnya 24 jam. Para santri dibekali dengan didikan para ustad berkualitas. Lulusan Pasantren Madani sudah barang tentu menjadi yang terbaik dan bisa melanjutkan studi hingga ke Mesir, Arab Saudi, Pakistan dan beberapa Negara lainnya.

Di Pondok Pasantren Madani inilah, Alif berjumpa dengan beragam latar orang, kepribadian dan suku. Namun mereka dipersatukan oleh sebuah peristiwa unik yakni ketika mereka dijewer. Sudah sejak itu Alif yang lugu berkenalan dan mulai akrab dengan Raja dari Medan, Said dari Surabaya, Dulmajid dari Sumenep, Atang dari Bandung dan Baso dari Goa.

Perkenalan selanjutnya kedetakan mereka membuat mereka bisa saling berbagi kisah, cerita dan juga cita-cita. Perbedaan di antara mereka menjadi pelengkap yang dibutuhkan untuk masing-masing pribadi. Potensi dan kelebihan saling berbagi untuk memberi kekuatan dan motivasi. Memulai mimpi-mimpi adalah sebuah proses yang panjang penuh perjuangan. Berkisah tentang upaya keras enam orang santri ini dalam menggapai obsesi dan cita-cita besar mereka adalah sebuah kisah yang bermakna. Setelah menghadapi kegiatan belajar-mengajar yang sedemikian padat dan aturan-aturan kedisiplinan ekstraketat di Pondok Ma¬dani (PM), ke-enam santri ini bersembunyi di bawah menara masjid PM, membangun mimpi-mimpi masa depan dengan mantra ampuh yang sama-sama mereka percayai; man jadda wajada (siapa yang bersungguh pasti akan sukses).

Kisah perjumpaan di bawah menara Masjid yang mereka lakukan secara rutin menunjukkan komitmen dan keyakinan mereka. Mereka mengawali semua prose itu dengan tanpa cita-cita apa pun selain yakin bawah mereka bisa. Alif misalnya, sebelumnya tidak pernah mengira bahwa dirinya akan jadi santri PM yang disebut-sebut telah mencetak banyak ulama dan intelektual muslim itu. Sebab, sejak kecil dia ingin menjadi ”Habibie”. Baginya, Habibie tidak dalam arti seorang teknokrat genius, tapi sebuah profesi sendiri lantaran dia sangat kagum pada tokoh itu. Itu sebabnya, Alif ingin masuk SMA dan kelak melanjutkan pendidikan di ITB, sebagaimana riwayat perjalanan intelektual Habibie.

Namun, ibunda Alif menginginkan anaknya mewarisi keulamaan Buya Hamka, ulama kondang yang lahir dan besar tidak jauh dari Bayur, tanah kelahiran Alif. Maka, dalam kebimbangan, Alif menerima tawaran itu sehingga dia bertemu dengan santri-santri berkemauan keras seperti Baso yang mati-matian menghafal 30 juz Quran sebagai syarat guna menggapai impiannya bersekolah di Madinah. Begitu juga Raja, Dulma¬jid, Said, dan Atang.

Kisah yang disudahi pengarang dengan re¬uni bersejarah di Trafalgar Square, Lon¬don, -setelah 15 tahun masa-ma¬sa sulit di PM berlalu- telah terdedahkan sebagai ruang fiksional dengan segenap kemungkinan tak terduga yang menyertainya. Bukankah Alif (Washington DC), Atang (Kairo), dan Raja (London) yang bertemu pada sebuah konferen¬si di London tidak pernah terbayangkan sebelumnya? Mereka tak pernah menyangka para sahibul-menara ba¬kal menggenggam impian masing-ma¬sing. Yang mereka tahu hanya man jadda wajada, siapa bersungguh-sungguh, bakal sukses.***

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here