Sajak 2 dalam Daging Akar Gus tf, Catatan Untuk Supardi Joko Damono

0
60

*) Kris da Somerpes

Dalam kumpulan sajak ‘Daging Akar’, salah satu sajaknya yang berjudul ‘Sajak 2’ Gus tf mengetengahkan sesuatu tentang hakikat sajak (namun, menurutku tentang hal ini tidak hanya sajak, tetapi untuk semua karya seni dan sastra) di hadapan pembaca.

Dia menulis “Satu kalimat dalam dirimu: Suatu kali. Engkau akan direnggut oleh waktu. Satu kalimat dalam diriku: selalu mencoba ungkapkan diri, tak sampai-sampai. Tak sampai-sampai kepadamu”

Tentang se-kuplet sajak di atas Sapardi Djoko Damono ‘Dalam Catatan Pembaca, Sehabis Membaca Gus’ (catatan akhir pada ‘Daging Akar’) menafsirkan bahwa ‘Sajak 2’ merupakan sebuah pernyataan atau lebih tepatnya kesadaran bahwa bahasa-bahkan yang dirakit oleh penyair pun – toh sia-sia sebagai alat komunikasi. Usaha untuk mengngkapkan diri (melalui sajak) ternyata tak sampai-sampai juga kepada kita (pembaca) meski sampai waktu kita tak ada lagi.

Berbeda dengan yang dimaknai Sapardi, aku justru melihatnya dengan lebih optimis. Bahwa ke-taksampai-an pengungkapan diri seorang penyair melalui sajaknya di hadapan pembaca bukan sebagai kegagalan atau kesia-siaan bahasa sebagai alat komunikasi. Sebaliknya, bagiku, justru merupakan suatu keberhasilan seorang penyair (atau seniman) dalam mengungkapkan dirinya di hadapan pembaca.

“Suatu kalimat dalam dirimu: suatu kali. Engkau akan direnggut oleh waktu” ‘Dirimu’ yang dimaksud Gus tf, bagiku, jelas menunjuk kepada mereka yang bukan penyair (atau seniman). Bahasa yang digunakan oleh mereka seperti, misalkan, politikus atau termasuk tukang gossip, bukan hanya akan sampai, tetapi juga bisa menggugah dan mampu mempengerahui ruang mental pendengar atau pembaca.

Namun perlu dicatat bahwa, bahasa yang demikian akan direnggut oleh waktu, pupus dan hilang. Bahasa yang demikian dalam sekelebat akan sampai ke pendengar atau pembaca, tetapi dalam sekelebat pula dia hilang dan pupus. Bahasa, yang hanya digunakan sebagai alat komunikasi semata, sudah barang tentu tak akan hidup lama di tengah pembaca.

Namun, perhatikan penggalan yang berikut ini: Satu kalimat dalam diriku: selalu mencoba ungkapkan diri, tak sampai-sampai. Tak sampai-sampai kepadamu” bagiku, inilah yang sesungguhnya harus disadari oleh seorang penyair. Bahwa bahasa yang dikemasnya memang bukan untuk sampai kepada pembaca lantas ditelan secara utuh. Bahasa seorang penyair, seniman atau satrawan tidak diciptakan agar sampai kepada pembaca untuk maksud itu. Untuk dimaknai secara utuh apalagi diterima dengan utuh pula.

Bahasa seorang penyair, seniman atau sastrawan (dalam media pengungkapan dirinya masing-masing) karena bagiku bukan melulu sebagai alat komunikasi. Lebih dari itu merupakan pemaknaan atas dirinya sendiri (penyair, seniman atau satrawan) juga merupakan pemaknaan atas realitas yang kompleks dan berselubung ‘misteri’.

Bahasa yang digunakan seorang penyair, seniman atau satrawan adalah bahasa yang hidup. Ignas Kleden dalam pengantar ‘Dalam Rimba Bayang-Banyang’ Mochtar Pobotinggi menjelaskan bahwa penyair tidak menggunakan bahasa sebagai sekedar alat. Tetapi juga sebagai tujuan. Kleden mencotohkan ‘Bahasa pada seorang ilmuwan atau seorang politisi hanyalah imput dan medium sedangkan bahasa seorang penyair adalah sekaligus sarana dan sasaran, imput dan output. Penyair tidak sekedar memakai bahasa, tetapi terlebih mengerjakan, mengolah, menggarap dan menciptakan bahasa.

Dalam penjelasan ini, bagiku sudah cukup jelas bahwa di hadapan pembaca, bahasa penyair itu hidup. Disebut hidup karena selalu dan senantiasa ditafsirkan, dimaknai, dapresiasi dan dikontekstualisasi. Secara dasar Gus tf menyebut “satu kalimat dalam diriku: selalu mencoba ungkapkan diri, tak sampai-sampai. Tak sampai-sampai kepadamu” lantaran selalu dimaknai dan diapresiasi secra baru. Bukan sebaliknya bahasa “Suatu kalimat dalam dirimu: suatu kali. Engkau akan direnggut oleh waktu” hilang dan pupus. Lantas kau selalu menelan setelah itu memuntahkannya. (kbs)

Sumber: Gus tf, Daging Akar, Penerbit Buku Kompas 2005, Mochtar Pobotinggi, Dalam Rimba Bayang-Bayang, Penerbit Buku Kompas, 2003.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here