Astaghfirullah, AURAT!

0
593

“Sayang, dewasa ini justru kaum perempuan sendiri (termasuk muslimah) yang lebih sering ‘memancing’ mata-mata liar tak beriman yang melirik, memelototi dan menikmati auratnya. Lihatlah bagaimana dandanan para muslimah pun kini tak lagi menjadikan jilbab, baju panjang dll sebagai busana yang menyimbolkan keimanan dan penjagaannya pada kehormatan auratnya”
(Abdullah bin Abdul Qadir al-Talidi)

Semua bagian dalam diri perempuan adalah fitnah, termasuk suara, penampilan, dan semua anggota tubuhnya, sehingga karena itu perempuan adalah fitnah terbesar dan makhluk paling membahayakan bagi laki-laki. Tulis Abdullah bin Abdul Qadir al-Talidi dalam bukunya yang berjudul ‘Astaghfirullah, Aurat!’ (DIVA Press, 2008). Lantaran itu Talidi menegaskan agar kaum perempuan menjaga dirinya dan tidak mengumbar auratnya “Wahai saudariku…, jangan umbar auratmu, sebab itu akan menistakanmu di dunia dan di akhirat’.

Mengapa perlu kaum perempuan harus ‘dipingit’ dalam hukum yang sedemikian ketat. Mengapa kaum perempuan dilarang untuk melakukan perjalanan sendirian tanpa didampingi oleh suami atau mahram-nya? Mengapa kaum perempuan dilarang untuk memakai pakaian yang transparan dan ketat? Mengapa kaum perempuan dilarang untuk memakai parfum dan wangi-wangian ketika keluar rumah? Mengapa kaum perempuan dilarang berjabatan tangan dan bersentuhan dengan laki-laki yang bukan mahram-nya? Dan masih banyak larangan lain seperti perempuan yang sedang haid dilarang lewat di depan orang yang sedang shalat.

Talidi menulis, sepanjang sejarah peradaban manusia, kaum perempuan selalu dijadikan sebagai objek yang diremehkan. Pada masa Yunani Kuno perempuan dipandang sebagai bagian dari perbuatan setan, lantaran itu perempuan tidak pantas untuk tampil di ruang public. Pada masa Yahudi Kuno, perempuan adalah najis. Pada masa itu, perempuan dipenjara dalam rumah dan setiap benda yang mereka sentuh, baik makanan, pakaian, bejana, atau binatang akan dianggap najis pula.

Demikian seterusnya, pada masa Romawi dan Masehi (Kristen) masa Arab Jahiliyyah, pada masa Islam dan sampai pada abad 20, perempuan belum memiliki tempat yang pantas dan bermartabat dalam kehidupan sosial dan agama. Ketimpangan relasi antara perempuan dan laki-laki dalam kehidupan social dan agama, menurut Talidi bukan melulu ‘salah’ sejarah ‘kelelakian’. Tetapi juga karena kaum perempuan itu sendiri.

889e51798d5b9ca32a34c6805dfe1dafTalidi menulis “Sayang, dewasa ini justru kaum perempuan sendiri (termasuk muslimah) yang lebih sering ‘memancing’ mata-mata liar tak beriman yang melirik, memelototi dan menikmati auratnya. Lihatlah bagaimana dandanan para muslimah pun kini tak lagi menjadikan jilbab, baju panjang dll sebagai busana yang menyimbolkan keimanan dan penjagaannya pada kehormatan auratnya”

Di atas latar itu Talidi menganggap penting dan perlu agar kaum perempuan ditempatkan dan menempatkan dirinya pada tempat terhormat dan bermartabat dalam kehidupan social dan budaya. Astaqhfirullah, Taurat! Sejatinya adalah ajakan Talidi kepada setiap penghuni jagad, secara khusus kaum perempuan muslimah untuk bercermin dan menghormati auratnya sendiri dalam pengertian yang sesungguhnya. (Kris da Somerpes)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY