GUNUNG BATU YANG BERSILA, Kepada Paul Budi Kleden

0
4513

*) Bara Pattyradja

di kaki langit Larantuka
engkaulah gunung batu yang bersila
hening bagai kaku pohonan
paul,paul
kau masih saja sesunyi air sebisu tanah
saat nasib yang jalang
memberiku isyarat penuh gemuruh

apakah kita ?
boneka kertas yang pasrah dijarah sejarah
ataukah sishifus
yang tak pernah menyerah
pada kutuk batu? hari demi hari
hanyalah gugusan karma
yang terlunta dan duka maharaja bertahta

dalam perjalanan ini
telah kuikat takdir kasapku
dengan seluruh kebebasanku
tak akan ada batas
yang sanggup melerainya

ke pulau diri……
bersama burung-burung
yang kau lepaskan
dari menara-menara hijau
aku seberangi kembali selat Solor
laut begitu asin
tangan-tangan dingin penuh garam
menyalakan lampu-lampu damar

di daratan
kulihat masalalu berjalan
kucium bau manusia portugis
di seberang lengang benteng Lohayong
inikah tanah ibu?

oh,aku seperti sedang memasuki
kesunyian tiada tara
tak kudengar riak
bahkan disini angin tak bertuba
sayap-sayapku yang patah
kembali utuh bagai bahasa
yang mengikat lidahku

Lamahala…
kucari juga diriku juga disitu
tapi yang kutemui cuma sepotong sedu
yang makin lama makin peri
di dadaku

apa yang salah?
hingga orang-orang kampung butuh kejahatan
untuk menjagal diri sendiri
tak kutanam dendam di kawah darahku
meski mata pisau goreskan luka
silsilah dagingku

pada maut dan kiamat
aku pasrahkan batas duka
segala yang terampas
dari sisiku
akan terampas juga dari sisi mereka

maka jangan titahkan padaku
untuk masuk menemu diri
sebab aku akan mati
seperti Sartre yang mati
memasuki diri orang lain
“sebab neraka adalah orang lain”

dan sedih akan kembali tiba
seperti kapal-kapal kembali
dari bandar-bandar yang jauh
maka buat saja aku lelah
ludahkan padaku segala yang pahit
dengan begitu aku akan merasakan
manisnya pengembaraan***

Catatan: Puisi ini adalah salah satu dari puisi Bara Pattyradja yang ada dalam Antologi puisinya yang berjudul Samudera Cinta Ikan Paus


Bara Pattyradja,

Bara Pattyradja, penyair Indonesia. Lahir di desa Lamahala 12 April 1983. Sekarang sedang menempuh studi Pasca Sarjana di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Karya-karya berupa buku puisi/prosa yang telah diterbitkan; Bermula dari Rahim Cinta, Sebuah Renungan atas Matinya Makna (Kreasi Wacana, Yogyakarta 2005), Protes Cinta Republik Iblis (Yogyakarta, Kreasi Wacana, 2006), Samudra Cinta Ikan Paus (Bandung, Asasupi, 2013). Manuskrip puisi terbaru yang akan segera terbit, “Jangan Cintai Aku Sampai Mati”. Ia aktif bergiat dalam dunia kesusastraan dan kebudayaan. Pada tahun 2012, Bara terpilih sebagai penyair yang mewakili Indonesia Timur dalam acara Temu Penyair Asia Tenggara (Nusantara) di Kota Jambi. Ia juga menjadi koordinator wilayah NTT dalam kegiatan World Culture Forum. Pernah menghadiri Mufakat Kebudayaan Indonesia, di Jakarta, Manado, Aceh dan Bali. Bara Pattyradja juga menginisiasi berdirinya sanggar Rumah Poetika Kupang. Sekarang bermukim di Jakarta sembari bergiat di Federasi Teater Indonesia.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY