BALLADA ARAKIAN, Puisi Yoseph Yapi Taum

0
333

*) Yoseph Yapi Taum

Pagi yang damai tiba-tiba pecah
Embun yang kemarin bercanda terkapar
Ama Lera Wulan Ina Tana Ekan* sudah memberi tanda
Senja hari kemarin
sekawanan burung gagak menyilangi desa
dan langit rebah terlalu rendah.
Hari ini tanda itu menjadi nyata.
Kawanan itu memasuki kampong
ketika alam masih terlelap.

Teriakan Oa Dona di ranjang, panjang dan lirih.
Satu-satu disebutnya leluhur kampung,
dan nama suami dilolongnya sambil bergetar:
A-ra-ki-aaannnnn!
Ketika suara itu pupus menghilang,
Oa Dona tersungkur dengan sarung tersingkap.
Leher dan kemaluannya terkoyak
di ranjang di samping suaminya.
Semua terjadi begitu cepat.
Kawanan laknat itu melarikan diri,
bagai taufan, buas dan pengecut
menuju gua Lia Wato di balik jurang.

Arakian terbangun, teririrs jiwanya terkoyak jantungnya
diteguknnya darah di leher Oa Dona,
diselimutinya mayat perempuan terkasih.
Diasahnya mata pedang dan nyali sukmanya
leluhur tujuh turunan memberinya nafas
Kawanan laknat kiriman tuan tanah harus musah!

Dengan dagu terangkat, ia berlari ke atas bukit
Dipukulnya genderang perang, suaranya menggelegar
Darah dan derita Oa Dona menuntut balas siang hari.
Sesekali melompat, Arakian tiba di mulut gua Lia Wato.
Kawanan itu mengernyitkan taring gemeretakkan gigi!

Teriakan Oa Dona di ranjang, panjang dan lirih.
Satu-satu disebutnya leluhur kampung,
dan nama sang suami dilolongnya sambil bergetar:
A-ra-ki-aaannnnn!
Ketika suara itu pupus menghilang,
Oa Dona tersungkur dengan sarung tersingkap.
Leher dan kemaluannya terkoyak
di ranjang di samping suaminya.
Semua terjadi begitu cepat.
Arakian mengayunkan pedang,
tubuh kawanan liar itu semburatkan darah
Di dalam gua Lia Wato, tak ada yang luput.

Tuan tanah murka. Kawanan buasnya tumpas.
Kawanan kedua bergegas menangkap Arakian.
Tangan terborgol, wajah memar,
darah mengucur sekujur tubuhnya,
ia diam tak berkata, dengan dagu terangkat.

Teriakan Oa Dona di ranjang, panjang dan lirih.
Satu-satu disebutnya leluhur kampung,
dan nama sang suami dilolongnya sambil bergetar:
A-ra-ki-aaannnnn!
Ketika suara itu pupus menghilang,
Oa Dona tersungkur dengan sarung tersingkap.
Leher dan kemaluannya terkoyak
di ranjang di samping suaminya.
Semua terjadi begitu cepat.
Tujuh algojo mengokang senjata.
Dengan membusungkan dadanya,
Arakian menyongsong peluru yang merobek jantungnya.
Ini perayaan tubuh dan darahku!
Darah perjanjian perang yang baru,
Sampai nafiri dan sangkakala berbunyi!

Ketika darah mengucur dari jantungnya,
rerumputan mencium harum anggur merah.
Burung camar dua sejoli dendangkan nyanyian malam.
Di ufuk barat langit rebah memerah darah.

Yogyakarta, 12 Agustus 2011

*) Ama Lera Wulan Ina Tanah Ekan adalah istilah dalam bahasa Lamaholot untuk menyebut Tuhan penguasa langit dan bumi (Alamighty God)


Dok. Archadius Budi Adi Santosa/Detik.com
Dok. Archadius Budi Adi Santosa/Detik.com

Yoseph Yapi Taum, adalah seorang penyair, budayawan, kritikus sastra, dan dosen. Yoseph lahir di Atalili, Lembata, NTT, 16 Desember 1964. Menyelesaikan pendidikan di SD dan SMP di Lewoleba kemudian melanjutkan ke SMA Seminari San Dominggo, Hokeng di Flores daratan. Pendidikan tinggi ditempuhnya di IKIP Sanata Darma. Melanjutkan program master pada Program Pascasarjana Universitas Gadjah Mada Jogyakarta. Selanjutnya dengan disertasi berjudul “Representasi Tragedi 1965 dalam Karya Sastra Indonesia” Yoseph tuntas menyelesaikan pendidikan S-3 pada fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada.

Saat ini menjadi dosen tetap pada Jurusan Sastra Indonesia, Fakultas Sastra Universitas Sanata Darma dengan jabatan sebagai akademik Lektor Kepala. Beberapa buku yang sudah diterbitkan antara lain: 1) Studi Sastra Lisan: Sejarah, Teori, Metode, dan Pendekatan Disertai Contoh Penerapannya (Lamalera:2011), 2) Pengantar Teori Sastra: Strukturalisme, Postrukturalisme, Sosiologi dan Teori Represi (Nusa Indah:1998), 3) Kisah Wato Wele-Lia Nurat dalam Tradisi Puisi Lisan Flores Timur (Obor:1997).

Catatan: Puisi ini adalah salah satu puisi Yoseph Yapi Taum dalam buku kumpulan puisinya “Ballada Arakian” (Lamalera:2015). Dan dipublikasikan lagi oleh floressastra.com atas persetujuan penyair.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY