Sepilihan Puisi Penyair Kereta

11
8158

*) Julia Daniel Kotan

SELENDANG BIDADARI
SELENDANG PENYAIR

Di ujung….bulan merenda
Menyulam titian pelangi
Bidadari mengayunkan selendang
Turun ke bumi untuk bercanda di taman Eden buatan
Taman itu penuh gairah
Membuatnya betah dengan air yang berkah
Mengalir mendesir
Menyapu badai hati resah
Taman Eden darimu masih membiusnya
Tak sadar sang jejaka mengambil selendangnya
Selendang itu terjatuh di Pelataran Dharmawangsa
Mengundang sang penyair memandangnya
Diambilnya dengan hati_hati
Dipatutnya dicandranya
Sungguh cantik dan penuh magis
Di kalungnya dan berbinar
Dewi Amor
Merasuknya
Tak bisa dilepasnya
Mengambil hak rupa dan pesona
Sensasi seni mencinta aura di sana
Sungguh tak dipinta
Setiap yang memandangnya
Seakan melihat Sinta
Yang mengaduk hati Laksmana ketika menjaganya dari angkara tatkala
Sang Rama sibuk mengejar buruannya
Selendang terbentang tetap tersandang
Mata memandang jadi tertantang
Salah siapa tak ada pantang
Selalu ada setiap petang
Di sana ingin dia datang
Kembalikan selendang pada yang empunya
Tapi hati menggiring masuk kereta
Berselendang dan bersiap dipandang
Kumandang itu telah dihafal
Layaknya ajaran sekolahan
Selendang itu tersampir di hati penyair
Penyair amatir
Penyair getir
Penyair sihir
Penyair bersyair di perut kereta
Selendang penyair….
Punya siapakah
Kaukah itu…?
Akukah maumu…?
Aku ingin tahu!!!

(JDK, KESIANGAN KERETA, INGAT KEMARIN TAK BERKERETA DAN INGAT SESEORANG punya taman Eden…okl 05.49…KALIBATA_MANGGARAI)

SATU HATI

Pertemuan hati sungguh misteri
Sehari bersama tak ada rintik hujan di hati bersaing
dengan rinai renyah hujan sore di pelataran Dharmawangsa
Bersama langkah kaki
Susuri arah yang dituntun ego diri
Hati berbisik
Bijaksana jika kita bertanya di sini
Sungguh ada sang mata elang silih berganti menanyai
Di manakah lokasi
Sama-sama buta di sini
Berjibaku demi kasih pada mami…
Kaki menjejak di pelataran
Lega sang mata elang dan penyair jadi-jadian
dan sang wartawan berlaku sebagai pengaman
Lebur dalam obrolan
Kaum perempuan seniman yang rupawan
Kumpulan nada buatan penuh balutan sayang
Berpikir nusantara dan nassib
Anak kepulauan akan dapat bagian
mulai semangat
ajakan mulai membangun daerah kebanggaan
Kita hanya perlu seragamkan
Derap langkah ibukota dan pedalaman
Siapa yang tahan kalau pena sudah
menggoyangkan nurani tuk terus berjuang tuk anak negeri
Bangun dan kita akan segera bersua lagi

JDK,05.36 commuter line ku

MATA ELANG

Terdiam seolah tak ada kawan di dunia
Terjebak satu tatap yang akan membuai
Mata elang itu mengajak berayun
Pada rimbun bambu yang satu
Kumpulan
Mata elang yang juga menukik
Tajam ke hati sang relawan
Bersedia dilenakan dalam lelah
Tertidur dan terjaga terbias hiasan
Pujangga tak lagi kaya kata
Habis dikikis masa
Karena pernyataan tak lagi bemagma
Buyarkan rongga dada dari kearifan sementara
Saat ini tidurlah
Mimpilah sesuai skenario
Kalau indah menetaplah
Kalau dia datang hiasi tidur
Menggamit hatimu tuk sedih
Keluarlah
Muntahkanlah
Tak kan bisa tahan
Aroma itu mengurungmu.
Aa
Aa
Aa

JDK,BUSWAY ,25 Januari 2016
Hari ini kita mengukur jalan Kota
Pkl 18.16

LUPAKAN CINTA SURGA KITA

Ketika kau sapa aku
Telingaku belum condong padamu
Ketika kau sentuh tanganku
Tanganku masih dipegang yang lain
Ketika kau meraihku dalam pelukanmu
Badanku mengejang membeku
Menolakmu
Kini telingaku terbuka
Kau yang tak lagi sapa
Kini tanganku terulur padamu
Kau sedang meraih tangan yang lain
Kini ku begitu merindu
Luruhkan jiwa raga
Hanyut dalam pelukmu
Kau sedang merengkuh tubuh ringkih lain
Yang tak mungkin kau alih
Padaku yang tak lagi kau pilih
Karena aku tak pantas diberi silih
Kau dan aku
Tak bersatu dalam khayal
Tak bersatu dalam kasih fana
Tak bersatu dalam cinta surga
Sebagai manusia yang bercinta
Kau dan aku hanya pantas dalam maya
Jangan kau harap lebih
Pasti kau kan pulih
Pasti ku kan pulih
Kembali harus memilih
Dunia kita berbeda
Kita lupakan cinta surga
Keabadian dua manusia
Mengagungkan cinta romantika
Kembali ke realita
Tatap siapa yang di sana
Itulah yang kau punya

Lupakan cinta surga kita

(JDK, 25 JANUARI 2016, DALAM RINAI HUJAN DALAM BALUTAN KESEJUKAN COMMUTER LINE KU, KAU YANG MEMBEKU DALAM LAMUNANKU, PKL 04.45)


Yulia Sri Utami atau Julia Daniel Kotan, adalah seorang Puja Kesuma alias Putri Jawa Kelahiran Sumatera. Yulia, demikian biasa disapa lahir di Lampung pada 28 Mei 1972. Seusai menamatkan pendidikan dasar sampai menengah atas di lampung, Yulia melanjutkan pendidikan sarjana strata satu pada Universitas Sanata Dharma Jogyakarta jurusan Bahasa Indonesia (JPBSI) (Tamat pada 1996) dengan dengan skripsi berjudul “Proses Kreatif Seno Gumira Ajidarma dalam Kumpulan Cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma”

Karena skripsinya ini dan konsistensinya pada dunia sastra, Yulia mendapat beasiswa dari Kompas, Yulia bersama 25 mahasiswa dari seluruh Indonesia mempresentasikan karya dan studinya di hadapan petinggi Kompas yaitu Bapak P. Swantoro dan Bapak Daniel Dhakidae. Kemudian Yulia melanjutkan pendidikan master pada Universitas Pelita Harapan dan tamat pada 2010. Semantara ini, Yulia menekuni dunia pendidikan sebagai guru pada SMP Santa Ursula Jakarta Pusat (Sejak 1996 – sekarang).

Pada 1998, Yulia menikah dengan pria kelahiran Flores Nusa Tenggara Timur dan dikarunia dua orang anak. Dalam dunia kepanyairan, Yulia biasa dikenal dengan nama pena sebagai Julia Daniel Kotan. Dia juga dijuluki sebagai “penyair kereta” karena ratusan sajaknya yang akan segera dibukukan tahun ini, lahir dan terinspirasi di atas kereta dalam perjalanan pulang pergi, kunjung dan mengunjungi, rumah, tempat kerja, sahabat dan kenalan atau keluarga. Perjumpaan dengan dirinya sendiri di rahim kereta, melahirkan puisi-puisi bernas dan berkarakter. Sebuah lima sampai sepuluh menit yang dalam dan luas. Sebagai simpul jumpa dengan cinta, humanitas dan Tuhan.

11 KOMENTAR

  1. Ini Agnes Brigitta 8-4 , semangat bikin puisi lagi ya buuu
    saya menunggu puisi selanjutnyaaaaaaaa

LEAVE A REPLY