NOSTALGIA, Cerpen Yohana Pegas Syane

18
5586

*) Yohana Pegas Syane

Mungkin ini hanya perasaanku, mungkin semua orang sedang sibuk memperhatikan soal-soal sulit Madam Elle di papan, sehingga hanya aku yang melihatnya.Tunggu tapi tidak mungkin, Brandon yang duduk di depanku tidak menyadarinya, tapi bagaimana bisa? Karena di luar jendela ada orang berpakaian aneh tersangkut dipohon dan yang lebih parahnya lagi sepertinya laki-laki itu itu tidak sadarkan diri.

Bel pun akhirnya berdentang dan Mia menolak ajakan temannya untuk berkaraoke bersama. Ia lebih memilih berlari menuju pohon yang ia pandangi sebelumnya di kelas. Kali ini laki-laki itu tidak lagi ada di atas pohon, melainkan sudah terjatuh ditumpukan daun.Wajahnya terpendam meninggalkan hanya rambut keabu-abuan berantakannya yang terlihat.

Kekhawatiran mulai membanjiri pikiran Mia.
“Apa yang akan terjadi jika orang ini benar-benar sudah meninggal?”
Mia pun menggeleng-gelengkan kepalanyadan mengambil dahan pohon yang ikut terjatuh bersama orang misterius ini. Ia berniat untuk membangunkannya, namun ia masih memikirkannya karena ia takut.

Ahkirnya setelah beberapa lama berdiri, Mia memberanikan dirinya dan mendekatkan batang pohon yang ia pegang perlahan kebahu laki-laki tersebut. Dan sebelum Mia bisa berkutik orang itu tiba-tiba bergerak dan menggerutu perlahan sambil menggaruk-garuk kepalanya.Ia bangun dari tempatnya dan segera menemukan Mia yang terlihat bingung dan ketakutan dibaliknya dengan sebuah dahan kering di tangannya.

Laki-laki itu terlihat kusut, ia merapikan baju selututnya dengan kedua tangannya, sama sekali tidak menghiraukan keberadaan Mia. Sampai pada akhirnya Mia menelan ludahnya dan bertanya,

“K-kau siapa?” nadanya bergetar.
Ia terlihat terkejut mendengar pertanyaan namun ia tersenyum padanya dan menjawab
“Aku Suga, Sugawara Koushi.”

Mia masih bingung, hal ini lebih sulit dibandingkan dengan soal-soal tadi, namanya terdengar asing dan sangat aneh seperti bukan orang asal tempat ini. Sekian lama mereka saling pandang, Mia memperhatikan Suga dari atas sampai bawah, menyeleksinya. Rambutnya memberi kilauan putih-abu ketika terkena cahaya matahari, Matanya coklat bulat yang memberi kesan orang ramah, hidung mancungnya yang merah karena terjatuh dari pohon, figurnya yang lebih tinggi, dan dari semuanya Mia sangat menyukai senyumnya yang manis. Jika Mia harus menilai dari 1-10, ia mungkin akan memberikan angka 8 padanya.

Ia menyadari bahwa ia salah tingkah dan menjatuhkan batang yang dipegangnya tadi dan mulai terburu-buru menyisir rambut hitam pendeknya dengan tangan.
“Tunggu-tunggu, kau itu darimana dan kenapa bisa ada dipohon?” Tanyanya dengan panik.

Suga tidak langsung menjawab ia melihat keselilingnya dan memasukkan kedua tangannya kedalam kantong jubahnya
“Entahlah, aku juga ingin tau mengapa aku disini.” Jawabnya sambil meringis.
Terkejut seperti teringat sesuatu Suga balik bertanya
“Kau bisa melihatku?” lagi-lagi orang ini membuatnya bingung, namun ia mengiyakannya.

Bibirnya ahkirnya kembali tersenyum lebar, Ia dengan semangat menjabat tangan Mia. “Berarti kau akan membantuku mencari buku itu!”
“Buku?”
“Iya, Buku Winter Spell.”

Suga menggerakan jarinya keatas dan salju-salju kecil mulai berjatuhan dari ujung jarinya.
“Aneh ya?” katanya sambil tertawa pelan
“Sebenarnya aku hanya tau mengapa aku dikirim kesini.” Lanjutnya, dan Mia mencondongkan kepalanya supaya bisa mendengar Suga dengan jelas.
“Aku datang dari masa depan untuk memenuhi persyaratanku untuk lulus sekolah, yaitu menguasai apa yang tertera di dalam buku tersebut dan aku hanya bisa mendapatkan clue-clue tentang keberadaan buku tersebut jika orang yang mau bekerja sama denganku sedang merasa bahagia, dan kebahagiaanmu adalah tanggung jawabku.” Jelasnya matang matang.

Kepala Mia berputar, semua berjalan dengan cepat
“Apa ini?
“Masa depan?
“Apa Spell?
“Aku bahagia?” Semua pertanyaan berenang-renang dikepalanya dan akhirnya mengangguk pelan tanpa ia sadari. Senyum suga menyesal
“Kau tidak akan menyesal!”

Seminggu berlalu sejak Mia bertemu dengan Suga. Suga banyak bercerita tentang sekolahnya di masa depan. Memang terdengar aneh namun semua ini nyata. Rasanya kadang aneh, bagaimana tidak? Ada laki-laki berambut berantakan seumurmu melayang-layang di sebelahmu saat di kelas dan mengikuti kemanapun kau pergi. Dan tentang buku yang ia katakan, Suga berniat untuk mencarinya di perpustakaan-perpustakaan besar sampai pada ahkirnya sampai pada perpustakaan terakhir yaitu perpustakaan Enspirion. Sesampainya disana kami disapa dengan rak-rak kayu mahogany dengan ukiran-ukiran rumit dan alunan music Reprise Spirited Away. Reprise adaah lagu favoritku, alunnya tenang dan tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

Suga bisa melihatnya, caranya ia menari sedikit-sedikit sambil mencari Winter Spell diantara ribuan buku lainnya, wajah bahagianya saat iramanya berputar, membuat Suga terpaku memandanginya.

Namun lamunannya hancur ketika Mia melirik ke samping sambil tertawa kecil dan meanjutkannya. Saat itu wajah Suga memerah terkejut dan hatinya berdetak lebih cepat dari biasanya, ia berbalik badan dan berusaha memecahkan apa yang terjadi padanya. Mia melihat Suga dan ia menyadari bahwa hari-harinya tidak lagi sepi sejak Suga hadir dalam hidupnya, ia senang menghabiskan waktu bersamanya. Saat itu juga salah satu buku di bagian paling ujung terjatuh dengan sendirinya.

Suga berharap buku itu adalah buku Winter Spell, dan nampaknya ia benar. Namun buku tersebut tidak ada isinya, lembarannya kosong.Suga membalik balik halaman buku itu sampai pada satu-satunya halaman yang bertuliskan petunjuk ke langkah selanjutnya. Suga mengikuti petunjuknya, ia menekan bagian dasar rak, dan seluruh rak berputar pelan memberikan pemandangan jalan yang panjang. Suga melihat kedepan dan berkata

“Aku menemukan jalannya.”
Sebelum memasuki lorong lorong yang panjang Suga memandangi Mia.
“Kau yakin mau ikut bersamaku?” Mia membalas tatapannya
“Aku sudah berjalan sejauh ini dan sepertinya aku tidak punya pilihan lain.” Katanya sambil terkekeh.
“Baiklah, ayo kita mulai.” Suga tersenyum dan tertawa
“Jalan panjang tersebut akan membawa kita ke empat musim yang berbeda.” Jelas Suga berjalan disamping Mia.

“Dan ada kemungkinan kau akan tersesat.” Suga mengayun tangannya membentuk gantungan kucing dan memberikannya kepada Mia.
“Jadi peganglah ini, supaya aku bisa selalu menemukanmu.”

Mia tersenyum dan berterimakasih padanya, Suga membalas senyum.Mia terkesiap melihat senyumnya dan mencoba mengalihkan perhatiannya kembali pada jalan didepannya. Tempat saat itu ia menyadari bahwa ada hamparan bunga di sekelilingnya, karena terlalu lama mengagumi pemandangan Suga tanpa disadari sudah duluan dari Mia. Suga tidak menemukan Mia di sebelahnya dan bergegas menyusul Mia kembali yang sedang berlari-lari kecil di belakangnya.

“Maaf.” Katanya dengan nada khawatir, Mia menggeleng dan memperbaiki postur tubuhnya. “Aku tidak apa-apa.” Suga tidak puas mendengar jawabannya ia masih cemas sehingga ia mengulurkan tangannya
“Ayo.”

Mia memandangi tangan dan wajahnya bergantian, lalu menerima tangan Suga. Tangannya yang hangat membuatnya gugup namun ia tau bahwa semuanya akan baik-baik saja asalkan dia selalu bersamanya.

Mia semakin gugup bukan hanya karena berpegangan tangan namun juga karena ia berada diatas dan melayang. Mereka melanjutkan perjalanan dari musim semi, menuju ke panas dan ahkirnya berada di musim gugur.Mereka menghaiskan waktu bersama dengan saling bercanda dan bercerita bersama.Mia banyak bercerita tentang teman-temannya disekolah saat seperti Ayaka mengingau saat pelajaran dan diberikan hukuman menari oleh Madam Elle. Suga tidak pernah sekalipun merasa bosan dengan semua ceritanya, Suga menemukan bahwa ia senang melihat Mia bercerita dengan penuh semangat di sebelahnya. Suga menyukai cara beberbicaranya, ketika nadanya menjadi tinggi saat tertawa, pipi yang memerah ketika bercerita hal-hal memalukan, gerak-gerik tubuhnya, dan semuanya.Ia menyukai semua tentang Mia.

Malam tiba, mereka ahkirnya membuat tenda sendiri dan menyalakan api unggun ditengah perjalanan menuju musim dingin. Suga menjelaskan bahwa waktu berjalan lebih lambat disini.

“Waktu berjalan lambat ya?” pikir Mia dalam hati. Anehnya ia merasa lega karena ia tahu dengan waktu yang berjalan lambat ia mempunyai alasan untuk tetap dan menghabiskan lebih banyak waktu bersamanya. Api unggun yang redup-redup dan suasananya yang sepi membawa pikirannya pergi mempertanyakan siapa sebenanya Suga itu.Mia mencuri-curi pandang melihat Suga, Suga yang sedang menghangatkan tangannya menatap matanya dan matanya bertemu. Dengan cepat keduanya memalingkan wajahnya dan Mia menggaruk.-garuk rambutya yang tidak gatal.

“Hei, kau punya adik?” tanyanya untuk memecahkan kecanggungan.
Suga hening wajahnya sedih namun ia tetap mencoba tersenyum.
“Ya, namun dia sudah pergi.” Jawabnya pelan. Mia merasa bersalah karena sudah bertanya, Mia tidak berani bertanya lagi, lebih tepatnya ia tidak tahu harus menjawab apa.

Sugawara Koushi menyadarinya.Gerak-gerik tidak nyaman Mia. Ia tersenyum lemah “Hal itu merupakan kesalahanku tapi itu sudah berlalu, dan aku sekarang sudah baik-baik saja.” Jawabnya lagi.
Mia mengangkat kepalanya
“Aku yakin adikmu bahagia melihat kakaknya yang pemberani ini berjuang untuknya.” Katanya menyemangati Suga.

“Dan kau itu hmm…” Mia memainkan jari-jarinya
“Ah! Kau juga keren dan sangat baik hati.” Lanjutnya sambil menepuk pundak Suga.
Suga tertawa dan seiring berjalannya waktu Suga mulai melupakan bahwa ia sedang merasa sedih dan terbawa dalam hangat kehadiran Mia disampingnya.

Keesokkan harinya mereka melanjutkan perjalanannya, untuk menghemat tenaga Suga menggendong Mia di balik punggungnya dan berjalan di atas awan-awan pendek.Mia menyadari bahwa seluruh hidupnya menjadi penuh warna sejak kedatangannya. Mia tidak ingin Suga dan berkata:
“Hei Suga…” Ia mengeratkan pegangannya.
“Apa yang kau akan lakukan setelah ini?”
Suga terdiam sejenak tapi ahkirnya ia menjawab.
“Aku akan kembali.” Suga menggelengkan kepalanya pelan
“Tidak, Aku harus kembali.”

Dada Mia sesak, kesedihan tiba-tiba melanda hatinya, begitupula Suga.Kata-kata harus kembali terasa pahit, berat untuk diucapkan. Sesaat Mia hanyut dalam angannya sendiri, Ini bukan dongeng. Ini bukan dongeng dimana semua orang hidup bahagia selamannya, setidak-tidak nyata dirinya tapi ini masih realita, bukan mimpi.

“Setelah pukul 12 malam nanti, setelah salju pertama.
Katanya sedih dengan seulas senyum hambar diwajahnya. Mereka melewati hari saling menemani satu sama lain menghargai waktu yang tersisa tiap detiknya. Walaupun tahu akan dipisahkan oleh waktu mereka tetap tertawa bersama, sudah saling mengenal sejak lama.

Pukul 09.00, Suga masih berada di sebelahnya, matanya menerawang ke angkasa menerobos bintang-bintang yang menemani mereka.
“Kau tahu aku sangat bersyukur,” katanya.
“Aku bersyukur, aku telah tersangkut dipohon waktu itu. Aku bersyukur aku sudah bertemu denganmu, Aku bersyukur aku bisa mengenalmu.”
“Tidak.”
“Jangan pergi.”

Mia mendapati air matanya mulai mengalir jatuh ke pipinya, ketika tangisannya seperti melewati semua memorinya bersama Suga. Ketika kata-kata sudah tidak mampu ia ucapkan lagi. Ketika seluruh badannya terasa kaku tidak bisa bergerak, Suga memeluknya.

Suga memeluknya, dan salju mulai turun. Ia mengusap air matanya dengan lemah lembut. Dinginnya salju tidak lagi terasa di dalam peluknya.Suga merasakan hatinya yang perih. Suga ingin tinggal, ia ingin terus melihat dan menjalani kesehariannya bersama tawa manis gadis ini. Ia ingin bersamanya.

Cahaya dan butiran salju mulai mengelilingi Suga. Mia menatap wajahnya “Kau adalah kebahagiaanku.” Suga memeluknya erat, tidak ingin melepaskannya, air matanya menitik jatuh ke dalam hatinya sambil berkata,
“Aku mencintaimu.”
Sebelum ia pergi ia membisikkan,
“Aku akan menunggumu.”

Dan semuanya berakhir dalam sekejap dan kembali seperti semula. Mia sedang berada di kelas, Brandon duduk di depannya dan Madam Elle sedang menegurnya karena ia terlalu lama melamun. Mia melihat tanggal di papan kelasnya, hari di mana ia bertemu Suga. Dengan cepat ia melihat ke pohon di luar, namun tidak ada Sugawara Koushi.

Ia tidak pernah melihatnya lagi sejak saat itu, Mia tidak lagi merasa sedih terutama karena ia tahu bahwa dia akan selalu bersamanya, menemaninya. Pertemuan dengannya memang singkat namun ia ingat seluruh momen bersamanya, ia ingat di saat Suga menggandeng tangannya, di saat ia selalu menjaganya, di saat ia menghabiskan waktu bersamanya bercerita dan bercanda, di saat Suga memeluk dirinya yang menangis, di saat dia mengatakan ia mencintainya, dan di saat semuanya berawal ketika Ia melihat keluar jendela.

Disclaimer : I do not own the character, Sugawara Koushi, credits goes to Furudate Haruichi and Shueisha.


Yohana Pegas Syane, biasa dipanggil Nane. Saya umur 13, lahir tanggal 22 Juni 2002, tepat saat ulang tahun Jakarta.Hobi saya adalah menggambar dan membaca buku. Saya suka menonton animasi Jepang yang mengandung banyak nilai hidup seperti film-film Studio Ghibli, Haikyuu dan Gintama. Saya dapat ide untuk menulis dan menggambar dari lagu-lagu yang saya dengarkan.Sekolah saya dari TK sampai sekarang SMP adalah Santa Ursula Jakarta.

18 KOMENTAR

  1. Halo Yohana!
    Saya tertarik menaruh cerpen anda di majalah saya,karena cerpen anda sangat menarik dan cocok untuk majalah saya.Bila tertarik silahkan hubungi no berikut : 0811883234

  2. Halo Yohana!
    Saya tertarik menaruh cerpen anda di majalah saya,karena cerpen anda sangat menarik dan cocok untuk majalah saya.Bila tertarik silahkan hubungi no berikut : 0811883234
    Salam sastra 🙂

  3. maaf maksud saya , saya ingin menaruh cerpen anda di dua media cetak majalah dan koran karena kebetulam majalah tersebut milik say sendiri dan koran adalah bisnia keluarga,sehingga apakah anda keberatan bila saya masukkan ke dalam dua media cetak langsung?terima kasih

  4. Cerita nya bagus sekali nak, menurut saya ini adalah karya terbagus di laman terpopuler.
    Semangat dalam mengembangkan bakat-mu, nak.
    Salam sastra

  5. Syane sy tersentuh untuk memberikan beasiswa kepada kamu di sekolah sastra sy diluar negeri apakah kamu berminat?

  6. Selamat Malam Syane.

    Saya orang Indonesia yang sedang berkuliah di Jerman dengan jurusan Literature,saya tertarik untuk menjadikan cerpen dan kisah kehidupan sastra anda bahan skripsi dan ternyata dosen saya juga tertarik dan membuat kisah ini menjadi sebuah novel.Saya ingin bertemu anda jika anda bisa,tolong kabari saya andiersuhendra@gmail.com

    Terima Kasih.

LEAVE A REPLY