SAJAK KERETA, SANG BURUNG, Sepilihan Puisi Penyair Kereta

0
754

*) Julia Daniel Kotan

YIN DAN YANG

Hirup nafas detik ini
melampaui oase kehidupan
melayari pertarungan kegelisahan
antara Yin dan Yang yang malas bersentuhan

Ada jarak menjaga keduanya seimbang
ada hati terketuk
beringsut menjalin tapak kaki
menata diri jalani hari
sesuai nurani
ikuti alur
rapi

Ada hati terantuk
beringsut menjauh lari
menapak terjal
ingkari suara
hati

Kemana kemurnian sembunyi
terhampar kehampaan
melingkupi
hati sepi
hati sunyi
tak berkawan
denganmu lagi
bercakap tak mampu lagi

Sepi terasa kian mengetat
sesak merambah duka
sampai lelana
membuka tabir nasib
hendak pertemukan dengan takdirnya….

JDK,DEPOK LAMA -LA,
05’30 hati rasa sepi, 11 Desember 2015

SAJAK KERETA I
:Untuk AAA

Sajak kereta ini tak akan berhenti
Menyambutmu dengan
Perasaan harap cemas
Bahagia suka adalah geliat hati
Saat bertemu denganmu

Hari ini kau dapat senyumku
Kau tepat menjemputku
Tadi pagi kau dapat sumpah serapahku
Jam efektif di pagiku kau cemari
Gangguan persinyalanmu
Walau akhirnya selamatlah kedatanganku

Tanpa teringat tadi berjibaku
Menjaga loyalitas dan dedikasiku
Menggawangi semangat hati

Sementara dalam pertempuran hatimu
Menjaga perasaan sakitmu
Saat semua yang kau simpan di perutmu
hanya bisa ucapkan “sialan”

(Julia Daniel Kotan,, 19 Januari 2016 pukul 16:31 saat gerbong kosongku dah berubah jubelan manusia…terciptalah puisi kedua dalam tempat dudukku yang sama spesial untuk AAA)

SAJAK KERETA II

Sementara proses alami terjadi
Ada yang keluar tetapi yang masuk lebih banyak

Kau tahan air matamu
Kau sembuhkan traumamu
Kau obati hati laramu
Kau baluri tubuhmu
Dengan debu sepatu mereka

Doamu tak sia-sia
Kau kembali berteriak
Kumpulkan gertakan
Berteriak lantang tuk berperang
Menghantar kami
Pada peziarahan harian

Saat kaki menjejak bumi
Tak satupun yang menoleh lagi
Berjejal keluar bak muntahan
Isi muatan perut besarmu

Memimpikan terima kasih tabu bagimu
Saat lelehan airmatamu
tak terpisahkan dari rinai
gerimis hampirimu
Kamu menengok
Tersentak,
Kuelus kamu dan kubisikkan
“Terima kasih kawan,tanpamu apalah jadinya kami…”
Suara lengkinganmu menjerit kencang
Kau melaju dengan hati menggelinjang

Aku ada
Dan kau ada
Kami satu pasang tak terceraikan
Kereta dan penyairnya

(Julia Daniel Kotan,, 19 Januari 2016 pukul 16:31saat gerbong kosongku dah berubah jubelan manusia…terciptalah puisi kedua dalam tempat dudukku yang sama spesial untuk AAA)

BERIBU JEJAK DI PELATARANMU

Jiwa lelah raga mulai lemah
Kau yang setia penopang yang dijejak tanpa hormat

Layaknya keset rumahan
Terjerembab dalam air comberan
Tak bisa bangkit tanpa ada yang berbaik
Mencomotnya kembali ke daratan
Karpetmu yang bersinar kini kusam
Beribu jejak terkapar di pelataranmu
Anggunmu tak tersisakan

Saat suara merdu dari seberang
Stasiun menyapa salah satu yang baru turun.
..”Ma….,itu Papa sudah pulang”
“Hallo, anakku sayang, njemput papa yah,
Terima kasih ya, sayang…”ujar papa anak itu
meraih kepala gadis kecil itu…
“Apa kabar,Ma”,tangan lelaki itu
terulur disambut tangan sang istri
dan dicium dengan hikmat…

Kembali perutmu melaju di atas rel yang beradu
Senyummu puas kau tinggalkan
Rasa sedihmu karena kurang penghargaan tertanggalkan
Terpaku pada adegan keluarga yang beriman

Semangat…
Ribuan Bapak yang lain rindu jemputan
Beribu mama membawa perut besar melongok kedatanganmu
Tak henti menunggumu
“Aku akan terus semangat kawan”,bisik si perut panjang
dengan senyum manisnya pada sang masinis
yang juga tersenyum manis.

(JDK,Selasa , 19 Januari 2016, pkl 16.30 Nyanyian kereta di setiap senja 19 Januari 2016 pukul 16:31Jiwa lelah Seline and Victor mama datang….tq my commuter line kamu and masinisku)

DOA IBUKU DAN SANG BURUNG I
Ibundaku Elisabeth Siti Rezeki Petani tercantikku

Semburat warna perakmu
Menghiba pada samudra raya yang berpesta menyatakan kemenangannya
Menyatakan kegamangan merintih mengadu

Pintu langit tak terbelah juga saat bulir- bulir awan berarak
Menggumpal mengundang basah yang biasa berdendang di padang
Kesenjangan rasa untuk saling mengisi telepati hati
Pemandangan gersang di hamparan lahan petani
Bongkahan asa yang terkikis
Waktu bertanam belum tiba

Seumpama dulu masa begini sudah berisi bulir padi
Saat suara merdu berlarian ditingkah burung -burung nakal menyambangi
Hinggap menari-nari mencuri sedikit punya petani…
orang-orangan melambai tak kalah galak menghardik kawananmu
Bunyi goprak bambu beradu antara

Suara ibuku…
Suara bambu…
Haru…

Dalam sendu perjuangan satu padu
Berjuang dalam versi yang semu
Saling bertahan walau satu merugikan
Satu yang menguntungkan

Tanpa burung tahu
Kalau jenang pintu langit tak terbuka
Padi mulai merana nelangsa menghapus dahaga
Dua pihak takkan dapatkan
Baik majikan ataupun sang penyamun bulir manis

(JDK,EPISODE Rindu Ibu di Lampung
Yang masih susah dapat hujan saat masa bertanam padi sdh lewat lama dari jadwal,CL 13 JANUARI 2016) CITAYAM-CAWANG)

DOA IBUKU DAN SANG BURUNG II
Teruntuk Ibundaku Elisabeth Siti Rezeki Petani tercantikku

Adakah nasihat bijaksana
Mari kita sepakat
Berdoa bersama
Menurut gaya petani tekun yang pendoa
Dan gaya burung

Satu hati meminta setetes embun di saat pagi
Sinar merekah indah siang hari dan
Butiran air mengguyur bumi
Tak akan ada lagi samudra mengangkangi langit
Karena pelit mengirim uapnya
Karena arogansi
Yang ada siapa punya
Dia beri pada siapa
Tak pandang relasinya
Semua sama

Mari ambil sikap doa
Burung dan petani berdoa bersama
Sama meminta berkat
Supaya padi merekah
Petani senyum
Burung senyum
Petani berbisik
“Kau boleh makan padiku,tapi jangan kau habiskan,tinggalkanlah buat anak cucuku”
Petani tersenyum
Burung tersenyum
Penguasa jagat lebih tersenyum

(JDK, Nyanyian rindu ini SELESAI PAS PETUGAS MENEGURKU HARUS BERDIRI DARI KURSI KECILKU HAHA KURSI PALING SETIA DALAM MENEMANI MENULIS UNGKAPAN HATI…sesaat lagi Kereta Anda akan sampai Tebet….up load dah…thanks God, 13 JANUARI 2016) CITAYAM-CAWANG)


floressastraYulia Sri Utami atau Julia Daniel Kotan, adalah seorang Puja Kesuma alias Putri Jawa Kelahiran Sumatera. Yulia, demikian biasa disapa lahir di Lampung pada 28 Mei 1972. Seusai menamatkan pendidikan dasar sampai menengah atas di lampung, Yulia melanjutkan pendidikan sarjana strata satu pada Universitas Sanata Dharma Jogyakarta jurusan Bahasa Indonesia (JPBSI) (Tamat pada 1996) dengan dengan skripsi berjudul “Proses Kreatif Seno Gumira Ajidarma dalam Kumpulan Cerpen Saksi Mata karya Seno Gumira Ajidarma”

Karena skripsinya ini dan konsistensinya pada dunia sastra, Yulia mendapat beasiswa dari Kompas, Yulia bersama 25 mahasiswa dari seluruh Indonesia mempresentasikan karya dan studinya di hadapan petinggi Kompas yaitu Bapak P. Swantoro dan Bapak Daniel Dhakidae. Kemudian Yulia melanjutkan pendidikan master pada Universitas Pelita Harapan dan tamat pada 2010. Semantara ini, Yulia menekuni dunia pendidikan sebagai guru pada SMP Santa Ursula Jakarta Pusat (Sejak 1996 – sekarang).

Pada 1998, Yulia menikah dengan pria kelahiran Flores Nusa Tenggara Timur dan dikarunia dua orang anak. Dalam dunia kepanyairan, Yulia biasa dikenal dengan nama pena sebagai Julia Daniel Kotan. Dia juga dijuluki sebagai “penyair kereta” karena ratusan sajaknya yang akan segera dibukukan tahun ini, lahir dan terinspirasi di atas kereta dalam perjalanan pulang pergi, kunjung dan mengunjungi, rumah, tempat kerja, sahabat dan kenalan atau keluarga. Perjumpaan dengan dirinya sendiri di rahim kereta, melahirkan puisi-puisi bernas dan berkarakter. Sebuah lima sampai sepuluh menit yang dalam dan luas. Sebagai simpul jumpa dengan cinta, humanitas dan Tuhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here