NADA-NADA YANG REBAH, Cerpen Armin Bell

4
333

*) Armin Bell

“Bulan depan saya ulang tahun,” kata lelaki itu kepada putrinya. Mereka di teras rumah panggung dari bahan bambu. Burung bernyanyi dari hutan. Berjenis nada dimainkannya dalam harmoni yang manis dengan alam yang sejuk dan angin yang lembut. Nyanyian burung dari jenis yang langka, Ngkiong namanya.

“Ulang tahun itu apa?” tanya putrinya, perempuan kecil yang belajar bernyanyi pada notasi yang diajarkan Ngkiong setiap pagi. Belum bersekolah anak perempuan itu. Umurnya sudah tepat, tetapi sekolah cukup jauh letaknya dari rumah mereka di pinggir hutan dan baju seragam belum terbeli. Bapaknya petani dan Mamanya mengolah makanan dari bahan-bahan seadanya. Matahari pagi mesra menyapa.

Seorang perempuan dengan rambut disanggul bergabung. “Ulang tahun itu maksudnya umurnya tambah satu. Bapakmu tambah tua bulan depan. Kalau tambah tua, tak boleh terlalu lama duduk di depan rumah setiap sore. Gampang sakit,” katanya.

“Bulan depan itu apa?” tanya putri kecil itu lagi, perempuan yang belajar berjalan tanpa pernah mengenal alas kaki bernama sepatu. Belum bersekolah dia. Umurnya sudah tepat, tetapi sekolah cukup jauh letaknya dari rumah dan harga sepatu terlampau mewah untuk lahan garapan mereka yang kecil.

Lelaki keriting itu tersenyum mendengar putrinya yang selalu bertanya dengan rasa ingin tahu sebesar dunia. Ada singkong rebus di hadapan mereka, sarapan, dan tiga gelas kopi. Telah sadar lelaki itu, ulang tahunnya akan berlalu tanpa perayaan; siapakah yang merayakan ulang tahun dengan kue-kue dan tiup lilin ketika membeli lilin saja hanya mampu sekali setahun pada Sabtu Suci? Tak akan ada perayaan untuk siapa pun yang sibuk berpikir akan makan apa setelah hari ini.

Ngkiong menyanyi lebih ceria. Keluarga itu tahu nyanyian yang mereka dengar pagi ini adalah penanda rezeki. Telah lama berdampingan di pinggir hutan itu, cukup lama untuk saling mengenal tanpa mesti berbagi kata. Seperti sahabat sejati barangkali, berada di dekatmu meski tak bicara tetapi telah engkau tangkap inginnya. Maka nada ceria Ngkiong pagi ini memberi semangat lebih.

“Akan ada tamu,” kata mereka bertiga serempak sebelum mulai menikmati sarapan khas itu. Tamu bagi mereka adalah setiap orang yang datang dan membawa rezeki. Terakhir datang empat bulan sebelum hari ini, membawa beras yang cukup untuk hidup seminggu, pakaian bekas dan beberapa buku: bacaan anak dan buku-buku doa. Yang terakhir tetap tersimpan rapi dalam bungkusan semula, tak ada yang gemar membaca.

“Ini aksi solidaritas umat untuk Bapak sekeluarga. Semoga bermanfaat. Jangan lupa berdoa. Biar dikaruniai kelimpahan rezeki dan rahmat kesehatan,” kata pemimpin rombongan ketika itu, seorang ibu enampuluhan yang memakai kacamata tebal dan Rosario cendana di lehernya. Rombongan kelompok doa dari paroki di kota.

Sebelumnya ada juga tamu lain. Bapak-bapak. Berpakaian bagus, bicara secukupnya memberi amplop berisi uang dan memberikan stiker. Saat itu menjelang Pemilu.
“Pemilu itu, waktunya kita memimpin pemimpin, Nak,” jelas lelaki itu kepada putrinya yang bertanya: “Pemilu itu apa?”

Belum bersekolah anak perempuan itu. Umurnya hampir tepat untuk sekolah, tetapi sepertinya belum akan bersekolah tahun ini, sekolah cukup jauh letaknya dari rumah dan dia belum tahu untuk apa sekolah ketika dia bisa belajar bernyanyi dari Ngkiong yang merdu dari hutan di belakang rumah.

“Semoga Pemilu bisa setiap hari,” katanya ketika itu saat Bapak-bapak itu pulang dan makan siangnya menjadi lebih istimewa dengan hadirnya ikan goreng dan mie instan yang direbus dengan air yang banyak.

Sekarang sudah hampir siang. Matahari tinggi, tetapi tak ada panas yang menyengat. Betapa baik rumah di pinggir hutan: selalu sejuk. Ngkiong telah berhenti bernyanyi, di pohon yang lebih tinggi, di dahan besar yang pangkalnya membentuk ceruk kecil –tersembunyi, dia sejenak mengambil jeda.

Dua lelaki berpakaian bersih dengan kacamata hitam di bertengger di kepala yang diwartakan Ngkiong telah tiba sejak tadi. Di lantai lencar, ada bantalan stempel terbuka. Jempol lelaki keriting itu telah biru gelap. Ditempelkannya pada selembar kertas berisi tulisan yang tak sempat dibaca. Segepok uang dalam amplop kini jadi milik setelah dua bapak berkacamata hitam pergi dengan senyum yang lebar.

Beberapa bulan setelahnya tak terdengar lagi Ngkiong bernyanyi. Hutan di belakang rumah telah separuh terbuka seiring semakin sering suara mesin terdengar; berderum, sesekali mendenging ditingkah teriak komando melengking. Pohon-pohon berusia ratusan tahun satu per satu tumbang. Ada juga mesin-mesin bertangan besi raksasa lalu lalang dan truk-truk masuk keluar hutan. Setiap pergi, truk-truk itu membawa bongkah-bongkah tanah. Semakin ramai pinggir hutan itu. Para lelaki bertutup kepala topi aneh berwarna terang tampak selalu sibuk.

“Itu namanya helm, Ma,” kata si putri pada Mamanya yang terheran-heran dengan topi serupa itu. Putri mereka telah bersekolah. Gemar bercerita hal-hal baru.
“Tadi di sekolah kami belajar lagu Rayuan Pulau Kelapa. Mama dengar saya nyanyi è,” serunya ceria lalu mulai berdendang. Dia bernyanyi sampai lelah. Bernyanyi sampai senja saat Bapa tiba di rumah setelah bekerja dari tengah hutan.
“Te a, ta. Tambah em, tam. Be a, ba. Tambah eng, bang. Tam… bang. Tambang,” teriaknya ceria berhasil membaca tulisan di baju Bapaknya. Lelaki itu memeluk putrinya yang telah bisa membaca. Ada haru merebak. Hari sudah malam. Datang begitu saja.

Pagi baru. Sekeluarga telah bangun. Lelaki itu batuk-batuk. Bunyinya kering. Lalu kembali tidur. Tak ada obat. Tak ada yang menduga akan ada yang sakit. Dahulu, sebelum pohon-pohon itu tumbang, Ngkiong biasa bernyanyi setiap hari. Nyanyiannya adalah isyarat tak terbantah tentang nasib sekeluarga hari itu dan selanjutnya. Demikianlah dahulu mereka selalu dapat mencari jalan sebelum datang masalah.

Hari ini lelaki itu tak pergi bekerja.
“Bapa ulang tahun lagi?” tanya putrinya. Diingatnya cerita Mama tentang ulang tahun adalah penanda orang akan tambah tua dan menjadi mudah sakit. Mama mendekat. Katanya: “Bapamu sakit. Tidak ada hubungannya dengan ulang tahun. Bulan depan, kalau sudah terima uang hasil kerja Bapakmu sebulan ini, kita ke rumah sakit.”

Anak perempuan itu beranjak. Ke halaman belakang. Ke dekat hutan yang kini semakin terbuka. Dilihatnya pohon yang dahulu menjadi tempat Ngkiong bernyanyi. Masih ada. Tetapi dia sungguh yakin tak didengarnya suara Ngkiong pagi ini yang mengabarkan akan ada yang sakit. Diingat-ingatnya lagi, telah beberapa bulan terakhir Ngkiong tak bernyanyi untuk mereka.

“Ke mana dia?”
Perempuan kecil itu kembali ke rumah dengan langkah lemah. Dicoba-cobanya mengingat notasi yang diajarkan Ngkiong. Dia bersenandung. Yang terdengar hanya nada-nada Rayuan Pulau Kelapa. Terheran dia pada dirinya.
“Bagaimana lagu Ngkiong, Bapa?” tanyanya pada lelaki yang dicintainya yang kini terbaring sakit. Lelaki itu berusaha bangun dan bersenandung, yang terdengar adalah batuk yang berkali-kali, diakhiri dengan darah hitam kental dari mulutnya.
“Sudah, biarkan Bapamu tidur. Bulan depan kita ke rumah sakit!” kata Mama.

Anak perempuan itu lalu teringat, suatu ketika dia pernah bertanya pada Mama pada hari dua bapak berkacamata hitam datang: “Bulan depan itu apa?” Kini baginya, bulan depan berarti ke rumah sakit.

Dia tak ke sekolah hari itu. Sebagai gantinya dia belajar membaca dari baju kerja ayahnya. “Te a, ta. Tambah em, tam. Be a, ba. Tambah eng, bang. Tam… Bang. Tambang.” Diulang-ulangnya membaca semua tulisan di baju kerja ayahnya. Bunyinya telah tepat, dia yakin, tetapi tak tahu artinya. Dari belakang rumah mesin-mesin mulai meraung. Pohon terakhir tempat Ngkiong dahulu mengajarkannya nyanyian, telah rebah sebagai korban pertama pagi ini.(erbell)

Catatan
1. Ngkiong: Bahasa Manggarai untuk burung yang bernama Latin: Pachaycepala Nudigula Nudigula.
2. Sabtu Suci: Perayaan Misa dalam tradisi Gereja Katolik, biasa juga disebut Malam Paskah.
3. Lencar: Pengganti lantai papan. Terbuat dari bambu yang dicacah.


Armin Bell, tinggal di Ruteng. Beberapa cerpen disiarkan di Pos Kupang, Lombok Post, Jurnal Sastra Santarang, Buku Antologi Cerpen Sastrawan NTT, dll. Bergiat di Petra Book Club Ruteng dan Komunitas Teater ‘Saeh Go Lino’ yang menggagas kegiatan “Sore Cerita – Dongeng untuk Anak”. Para sahabat sastra juga bisa mengunjungi catatan digitalnya di arbellmedia.com di sana akan dijumpai catatan kebudayaan, kritik sastra dan karya sastranya.

4 KOMENTAR

  1. keren. bungkusan sederhana untuk sebuah pesan yang kuat dan universal. “tambang telah merampas kebahagiaan dan hidup kami, ya, bumi kami”.

  2. Suka!
    “Dia tak ke sekolah hari itu. Sebagai gantinya dia belajar membaca dari baju kerja ayahnya. “Te a, ta. Tambah em, tam. Be a, ba. Tambah eng, bang. Tam… Bang. Tambang.” Diulang-ulangnya membaca semua tulisan di baju kerja ayahnya. Bunyinya telah tepat, dia yakin, tetapi tak tahu artinya. Dari belakang rumah mesin-mesin mulai meraung. Pohon terakhir tempat Ngkiong dahulu mengajarkannya nyanyian, telah rebah sebagai korban pertama pagi ini.”

LEAVE A REPLY