MATA BULAN, Puisi-puisi Steve Elu

0
284

*) Steve Elu

ponsel pintar

sudah lama saya tidak menulis puisi.
maka malam ini saya mau memuat status
dengan memuisi; mengatakan semua yang tandus
dengan kata-kata yang haus

apakah kau akan membacanya? kalau iya, kirimi saya kabar
lewat telpon pintar, yang membuat kita bersembunyi
di antara sunyi. saya sudah lama menunggu.

pasti kau ingat, ketika suatu kali saya menulis status
dari dering ponsel pintar, sebelum membaca pesanmu
karena setiap kabarmu sudah kurawat dalam jagat rinduku

mulai sekarang, saya akan rajin menulis status
dengan bunyi dering ayumu. karena di setiap kayuhmu
ada riak yang membuatku susah tidur malam.

dalam kurungan bulan

hantu dalam dada bersungut-sungut
mulut dalam pikiran memaki-maki
sementara luka dalam mata mencair kecut

dan bulan ialah titik hitam;
tentang simpul yang mengurung aku

ketika kanak-kanak
bulan juga anak-anak
bermain dengan usia sunyiku

ketika remaja
bulan mulai meraja
menguasai linting kata-kataku
yang kuselip di kursi pacarku

ketika aku dewasa
bulan kadaluarsa
kurang luas menampung rasa

mata bulan

senja berserakan dari langit ke langit
dua bola mata menggila
di tepi kata-kata; menunggu bulan

sudi itu pertanda darimu
gilaku padamu tambah menerjang

di dalam minyak, di atas sumbu
aku menerangi langit
menyambut yang agung darimu
sebab kaulah gunung kaum rinduku

meski limbah dari seribu mata tumpah
luka dari sejuta hati muntah
kau masih pulang;
tabah dengan binarmu yang gagah

ayahku mati belum lama ini
dengan mata yang tak kunjung padam
kau ada di sana; menjadikan basahku berkali-kali

dengan kata lain bulan abadi
di dalam mata yang kekasih


Steve Elu; alumnus STF Driyarkara Jakarta. Buku kumpulan puisi terbaru “Parinseja” (Mothion Publishing 2015). Memprakarsai website resensi buku www.kupasbuku.com dan aktif sebagai penulis tetap di LogikaRasa.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY