SAAT KAU PERGI, Cerpen Genoveva Emerensi

13
6902

*) Genoveva Emerinsi

Siang itu aku duduk termenung. Entah apa yang ada dalam pikiranku. Minggu lalu aku mendapat kabar dari ibuku bahwa ayahku sakit. Dengan sedikit uang, aku pulang ke kampung halamanku “Beo Lino” untuk menjenguk “Ema Pilut”, ayahku yang sedang sakit. Untung saja sakitnya tidak begitu parah, kalau tidak mati aku, gerutuku dalam hati.

“Ende Ndoak”, ibuku menahanku untuk tidak kembali ke kota kecilku “Bea Beang” secepat mungkin, tetapi karena tugas kuliahku yang menumpuk dan keadaan Ema Pilut yang mulai membaik, membuat aku meyakinkan Ende bahwa tidak ada gunanya aku berlama-lama di Beo Lino. Aku pun memutuskan kembali ke Bea Beang.

Aku, Ferdy biasa disapa Ndik, adalah sulung dari tiga bersaudara. kedua adikku masih duduk di bangku sekolah menengah. Melihat tanggungan ayahku yang begitu berat, apalagi iya hanyalah seorang Marhaen, meminjam istilah Soekarno untuk menyebut petani kecil, aku pun memutuskan kuliah sambil bekerja. Untung saja aku diterima bekerja di sebuah perusahaan selaku Office Boy. Pekerjaannya lumayan berat buat anak remaja seusiaku yang 20-an, minimal menanggalkan gengsiku. Walau begitu, perlahan-lahan aku mulai menikmati pekerjaanku. Betapa tidak, uang gaji yang aku terima setiap bulan cukup untuk membiayai ongkos kuliahku, bahkan sekali-kali aku kirimkan sebagian dari upah bulananku itu buat kedua adikku yang bersekolah di Beo Lino.

Yah, itulah hidup. Untuk mencapai sesuatu dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang luar biasa. Untung saja aku bukan seorang yang idealis. Keadaan mengajarkan aku untuk tidak terlalu mengharapkan sesuatu yang muluk-muluk, aku pun tidak punya cita-cita setinggi langit, tetapi aku menghayati dan menjalani hidupku apa adanya. Aku lebih suka menikmati apa yang ku dapatkan dan ku raih hari ini.

Teng….teng….teng…! Bunyi lonceng Gereja Katedral menandakan bahwa sekarang sudah pukul 4 sore. “Ah, lama juga aku duduk tadi,” gumanku dalam hati. Aku pun bergegas mandi dan kemudian ke perpustakaan untuk menyelesaikan tugas kuliahku. Kampus dan Kost tempat aku tinggal tidaklah jauh. Beberapa menit kemudian aku sudah tiba di perpustakaan. Sambil melirik jam tanganku, aku pun memutuskan hanya satu jam di perpustakaan, karena setelah itu aku harus bergegas ke tempat kerja.

***

“Ferdi, kemari sebentar,” panggil pak Gunawan, bosku.
“Iya pak, saya pak?” sahutku dengan nada sopan.
“Aku minta bantuanmu yah. Bisa, tidak,” ujarnya.
“Selagi saya mampu pak, saya akan berusaha,” sahutku sekenanya.
“Ok, besok siang Anggie, anakku, akan tiba di kota ini untuk berlibur. Untuk itu, aku meminta kamu menjemputnya di Bandara. Bagaimana, kamu bisa kan,” ucapnya.
“Baiklah pak. Kebetulan besok kuliahku hanya 2 jam. Setelah kuliah, saya langsung ke bandara, pak,” sahutku lagi.
“Baguslah, setelah kuliah besok, kamu langsung ke sana yah. Ini kunci mobilnya,” ujarnya sembari pergi dariku.
“Baik pak. Terima kasih,” tutupku mengakhiri pembicaraan dengan bosku sore itu.

***

“Ferd, papa sibuk yah, sampai tidak sempat menjemput Anggie,” Tanya Anggie di sela perjalanan kami dari Bandara menuju rumah bosku.
“Iya Non, bapakmu sangat sibuk di kantor. Ia suruh aku menjemput Non,” jawabku tersipu malu sambil terus berkonsentrasi menyetir.
“Jangan panggil aku Non dong. Panggil saja Anggie, ok. Tapi Anggie senang kok, dijemput sama kamu Ferd,” ungkapnya dengan nada manja.
Itulah awal perjumpaan dan perkenalanku dengan Anggie. Pada mulanya aku merasa malu pada Anggie apalagi aku hanyalah seorang Office Boy di kantor ayahnya. Apalagi aku pun sering mendapat tugas khusus dari Pak Gunawan. “Mungkinkah aku adalah orang kepercayaannya,” gumanku dalam hati.

Selama Anggie berlibur, aku sering dipercayakan ayahnya untuk menemaninya jalan-jalan. Untung saja aku belum punya gandengan, kalau tidak pasti gandenganku itu bakal cemburu setengah mati. Anggie orangnya baik, ramah dan tutur katanya santun. Wajahnya tidak terlalu cantik, tetapi kalau tersenyum, manis sekali. Senyumnya semakin sempurna dengan guratan lesung pipinya. Kulit wajahnya terlihat putih merona. Tubuhnya pun tinggi semampai dengan rambut lurus terurai. Matanya bulat nan indah. Aku pun tak sanggup menatap mata indahnya itu ketika bercakap-cakap dengannya.

Aku tidak tahu, apakah aku menyukai Anggie. Namun aku merasa nyaman berada bersamanya. Setiap perasaan itu muncul, aku selalu menepisnya. “Ah, Anggie, kamu bukanlah levelku,” ungkapku membatin.

Keesokan harinya, kembali aku diminta Pak Gunawan untuk menjemput putrinya yang sedang berbelanja. Sore itu, aku tertegun melihatnya tersenyum anggun melangkah ke arahku. Sejenak aku terpesona dengan kecantikan dan keanggunannya. “Tuhan, kenapa hatiku berdegup kencang,” ucapku membatin. Tetapi kemudian aku sadar, aku harus bisa menempatkan diri.
“Ayo Anggie,” ujarku sambil membukakan pintu mobil dan mempersilahkannya duduk.
“Fred, kamu sudah punya pacar?” tanya Anggie tanpa basa basi.
Aku pun jadi salah tingkah dibuatnya. “Apa aku tidak salah dengar?” ujarku dalam hati.
“Fred, kamu dengar gak sih? Anggie tanya apakah kamu sudah punya pacar,” ungkapnya lagi sambil memperbaiki posisi duduknya dalam mobil.
“Yahhh…., orang seperti saya ini, mana ada yang mau. Lagian kenapa sih kamu tanya begitu,” ujarku ketus.
“Loh, emangnya gak boleh? Anggie kan cuma mau tau aja,” kilahnya.
“Ooooh,” sahutku menutup percakapan sore itu.

***

Pertanyaan Anggie saat itu membuatku tak bisa tidur. Bayangan wajahnya selalu menghiasi anganku. Sebenarnya apa sih maksud Anggie bertanya seperti itu. Apakah dia belum punya pacar? Kalau belum aku mau deh jadi pacarnya.

“Ferdy…. Ferdy…. Sadar tidak sih kamu? Kamu hanyalah seorang Office Boy, sedangkan Anggie anak seorang Direktur. Perbedaan kalian sangat besar. Kamu harus bisa menempatkan diri dan menjaga wibawamu,” kata suara hatiku.

Aku sadar, selama aku dekat dengan Anggie, begitu banyak karyawan di kantorku yang iri padaku. Kadang aku melihat mereka mencibirku dan bahkan menghinaku.

Aku pernah membicarakan hal itu kepada pak Gunawan tetapi ia malah berada di pihakku. Aku dinasehatinya agar tidak terlalu peduli pada omongan mereka yang sirik denganku. Aku pun mencobanya.

Begitu pula dengan Anggie. Ia tahu bahwa aku orang kepercayaan ayahnya, kepercayaannya begitu besar kepadaku. Walau begitu, aku tetap menjaga jarak. Namun, setiap ia memintaku untuk menemaninya ke mana pun, aku selalu bersedia. Aku merasa bahagia berada di dekatnya dan aku pun kini tahu bahwa aku menyukainya. Aku ingin dia tahu perasaanku, tetapi sungguh berat buatku mengatakannya. Bahkan setiap kali aku hendak mengatakannya, mulut ini terasa kaku dan tak dapat berkata-kata. “Hahh…. Aku malu. Biarlah waktu yang menjawab semuanya,” ungkapku membatin.

***

Sampai pada saat ia mengungkapkan perasaannya padaku……
“Ferd, kamu baik deh, selalu temani Anggie kemana aja Anggie mau. Kamu tau nggak, aku merasa sangat bahagia setiap kali kamu ada bersamaku. Aku ingin kita selalu bersama,” ucapnya lembut.
“Aku lakukan itu semua karena aku tidak mau menyia-nyiakan kepercayaan ayahmu Anggie. Ia percayakan aku untuk menjagamu. Itu saja,” sahutku meyakinkan.
“Jadi, kamu tidak memiliki perasaan apa pun terhadapku?” ujarnya dengan nada meninggi.
Aku tertegun, diam tak menjawab.
“Supaya kamu tahu, dari dulu aku belum pernah pacaran karena aku merasa belum ada yang cocok. Tetapi sejak aku mengenalmu, aku merasa bahwa kita cocok dan memiliki banyak kesamaan. Itulah kenapa aku pernah bertanya, apakah kamu sudah punya pacar atau belum. Kamu belum punya pacar kan? Aku tahu kamu belum punya pacar,” ungkap Anggie.
“Dari mana kamu tahu aku belum punya pacar,” jawabku sekenanya.
“Dari papa. Aku sudah banyak tahu tentangmu. Latar belakangmu dan masih banyak lagi,” sahutnya.
“Oh, jadi selama ini, kamu sering membicarakan aku dengan papamu yah?” jawabku lagi.
“Iya. Aku menilaimu sebagai orang yang istimewa, pekerja keras dan pantang menyerah. Apa aku salah memilihmu,” ucapnya.
“Anggie, engkau tahu, kita begitu sangat berbeda. Engkau tahu posisiku dan …… ahhh…., apa kata ayahmu nanti. Aku telah mengkhianati kepercayaannya untuk menjagamu,” sahutku.
“Jadi, engkau tak menerimaku. Ok, begini saja, aku memberimu waktu dua hari,” katanya sambil meninggalkan aku seorang diri.

Aku sadar, Anggie adalah seorang wanita. Karena itu, aku harus menghargai perasaannya padaku. Sebetulnya, aku pun sangat mencintainya. Bahkan di setiap lamunanku, hanya ada Anggie seorang. Apa kata orang nanti. Hanya itu yang kutakutkan.

***

Pagi itu hari Minggu, telpon berdering nyaring di kosku. Dan ternyata telpon itu untuk aku dari bosku. Aku sempat bertanya-tanya, untuk apa lagi bosku, Pak Gunawan menelpon di hari istirahat ini. Mana aku belum ke Gereja mengikuti Misa Mingguan.
Aku pun mengangkat gagang telepon.
“Ferdi, Anggie dikabarkan masuk rumah sakit, ditabrak mobil saat dalam perjalanan ke Gereja. Kamu cepat yah, bersama bapak menyusul Anggie ke rumah sakit,” ujar pak Gunawan dengan nada sedih dibalik telepon.

Aku terkejut setengah mati. Aku pun menutup telepon dan bergegas ke rumah pak Gunawan dan bersamanya ke Rumah Sakit.
“Tuhan, lukanya parah, menangisku dalam hati. Jangan ambil dia Tuhan, aku membutuhkannya, aku mencintainya. Biarkan kami hidup bersama selamanya. Aku berjanji akan membahagiakannya Tuhan. Aku janji,” doaku dalam hati.
“Ferdy, Anggie ingin menemuimu,” kata pak Gunawan memecahkan konsentrasiku berdoa.
“Ohh, iya pak. Terima kasih,” sahutku.

Aku pun bergegas masuk. Kali ini aku begitu bahagia karena aku bisa melihatnya dari dekat. Begitu dekatnya jarakku dengan Anggie yang terbaring lemah di tempat tidur rumah sakit itu. Aku pun menggemgam erat tangannya yang terbujur lemah, kukecup keningnya sebagai ungkapan bahwa aku sudah berada di dekatnya.
“Fred, kaukah itu,” ucapnya.
“Iya sayang, ini aku,”sahutku.
“Fred ….., aku …. aku tidak akan lama lagi hidup di dunia ini,” ucapnya terbata-bata.
“Jangan berkata begitu Anggie. Kamu pasti sembuh. Kita akan jalan-jalan lagi. Kamu mau kan?” ujarku sambil menatap matanya yang berkaca-kaca.
Anggie pun mengangguk tanda bersedia dan tersenyum.
“Fredy, kamu masih ingatkan janji kita. Aku beri kamu waktu dua hari tuk menjawabnya,” kata Anggie.
“Iya….., aku masih ingat,” sahutku
“Jadi…..” jawab Anggie penuh harap.
“Anggie, sesungguhnya sejak pertama kali melihatmu, aku suka padamu. Hanya karena begitu banyak penghalang di antara kita,” ujarku.
“Sekarang penghalang itu tidak ada lagi Ferdy. Semua orang mendukung kita, terutama Papa,” kata Anggie.
Aku pun tersenyum dan sekali lagi mengecup keningnya.
“Aku tahu itu sayang. Cepat sembuh yah. Aku sangat mencintaimu,” sahutku.
“Aku juga ….,” ujarnya menyambut.

Tangan Anggie kupegang erat-erat dan berkali-kali kucium. “Tuhan, sembuhkanlah dia. Jangan ambil dia Tuhan, di saat dia tahu, aku pun mencintainya,” doaku membatin.

Aku pun terus duduk tertegun disamping Anggie sambil memandang matanya yang nampak mulai terpejam dan akhirnya pun tertidur pulas. Sambil tetap menggenggam erat tangannya, aku pun terduduk dan tidur disampingnya.

***

Namun, di tidurku, aku merasa genggaman tangan yang tadinya begitu hangat, perlahan-lahan terasa dingin. Aku pun bangun dari tidurku dan aku melihat mata Anggie mulai terpejam.
“Anggie……..,” aku mencoba membangunkannya.
“Ferdy, aku sayang sa…..ma….. ka ……,”
“Anggie….. Anggie….,” teriakku menangis.
“Tidak Tuhan….. Mengapa Kau ambil dia? Tuhan, Engkau tidak adil,” teriakku lagi.
“Anggie…. Bangun,” teriakku melihat mata Anggie terpejam erat dan tubuhnya terbujur kaku.

Dokter pun bergegas memeriksa nadi Anggie dan menggelengkan kepala. Anggie telah pergi untuk selamanya. Ayahnya pun tak kuasa menahan tangis. Ia pun mendapatiku dan memelukku.
“Ferdy…., Anggie telah pergi,” tangis pak Gunawan.
Aku pun membalas pelukannya sebagai ungkapan duka dan rasa soliderku pada seorang ayah yang kehilangan anak gadis semata wayangnya itu.
“Tuhan, terima Anggie-ku, orang yang kucintai disisi-Mu. Jagalah dia Tuhan,” doaku.
Aku pun mengecup keningnya sebagai tanda perpisahan.
Anggie, mengapa engkau pergi disaat menjelang wisuda Sarjanaku. Mengapa engkau pergi disaat aku ingin engkau sungguh tahu betapa aku mencintaimu.


Genoveva Emerensi Mere, Alumni STKIP St. Paulus Ruteng

13 KOMENTAR

  1. Kisah yg menarik,.. Walau berakhir duka,.. Maknax mndlm bhw tdk smua hal yg diinginkan trgapai,.. Smuax diatur sama sang khalik.. Putri genoveva kisah yg prnh kubc dulu saat msh SMP.bravo buatmu enu ibu chechik Manah

  2. Kisah yg menarik,.. Walau berakhir duka,.. (mklm ibu2 suka kisah yg berakhir bahagia).,.. Tetapi Maknax mndlm bhw tdk smua hal yg diinginkan trgapai dg mudah,butuh prjuangan n pd akhir Smua diatur sama sang khalik.. bravo buatmu enu ibu chechik Manah,..

  3. Makasih buat apresiasinya Alfan Manah dan Ibu Ina Wanut. Kisah ini saya tulis di tahun 2007 saat saya di STKIP. Figur Ferdi dalam kisah itu terinspirasi dari suamiku Alfan Manah yang pernah kuliah sambil kerja di Jakarta. Dan dia bekerja sebagai seorang office boy. Tapi figur Anggie itu murni imajinasi saya. Tunggu edisi selanjutnya ibu,

    • Proficiat saudari Genoveva….. Ceritanya mengalir dan sangat enak dibaca….walau berakhir dengan tragedi namun punya pesan yang sangat kuat! sukses selalu untukmu

  4. Proficiat saudari Genoveva….ceritanya mengalir dan enak dibaca…walau berakhir tragis namun punya pesan yang cukup kuat…sukses selalu untukmu

  5. Comment:ya sbg pemula sy kira cukup lumayan, kisah macam ini sebenarnya bisa jd tragis ketika jd cerita. Setiap kali menulis biarkan cerita bercerita. Bisa gunakan sudut pandang yg beda. Kami tunggu cerpen baru yg lebih matang

LEAVE A REPLY