Floressastra.com-“Aku mencintai puisi. Menulis dan membaca puisi adalah santapan jiwa. Laksana musik tak bersuara yang selalu memberi makna dan arti tersendiri untuk jiwa, hati, serta kehidupan, demikian puisi hadir begitu dekat melampaui sekedar sebagai sahabat. Ia yang siap untuk memberi ruang bagi imajinasi dan segala pendaran hati, pikiran dan lagi-lagi jiwa”

Demikian kata Margareta Febriana Irene, penyair muda perempuan kelahiran Ruteng 22 Februari 1993. Eby atau By, demikian nama kecilnya, menyukai puisi sejak Sekolah Dasar. Menurut pengakuan anak sulung dari empat bersaudara ini, ia begitu jatuh cinta dengan puisi sejak pertama kali mengenal kata. “Aku mencintai puisi sejak kelahirannya di dalam diriku. Kepadanya aku akan setia hingga tua”

Dunia sastra, secara khusus puisi bagi Eby adalah sebuah anugerah sekaligus proses yang hidup. Sebagai anugerah, menulis puisi adalah bakat. Putri pasangan Ferdinandus Tese dan Maria Kunek ini menyadari itu. Perjumpaan ayah sebagai orang Ende dan ibu sebagai orang Manggarai menjadikannya sebagai titik jumpa yang istimewa. Ragam latar pengalaman, historisitas, pengetahuan dan berke-ada-an orang tua mengerucut menjadi seorang Eby yang reflektif.

Namun demikian, akunya, menulis puisi butuh proses belajar yang berulang. Lulusan STKIP St. Paulus Ruteng program studi PGSD ini menuturkan agar puisi tetap berenergi maka membaca dan menulis harus selalu diasah.

“Aku akan setia, karena puisi adalah belahan jiwaku juga. Aku ingin berpuisi hingga tua, hingga mataku buram tak lagi bisa melihat dan raga tak lagi bisa hidup. Oleh karenanya aku akan tetap belajar” tutur salah satu pengampuh Komunitas Sastra Hujan Ruteng ini.

Seperti diketahui Komunitas Sastra Hujan adalah sebuah komunitas orang muda dan seniman yang melahirkan karya-karya sajak sahut yang elok. Para penyair merangkai sajak-sajaknya menjadi sebuah dialog yang hidup, bersahut-sahutan di bawah payung kata, memaknai realitas, memendarkan inspirasi.

“Komunitas Sastra Hujan adalah sebuah ruang jumpa” katanya. Tempat dimana bakat dirawat dan diasah secara berterus-terus, tempat menjaga api idealisme dicahayakan kepada yang lain, tempat saling membaca dan mendengarkan, lanjutnya gadis yang memiliki hobby membaca, menulis dan traveling ini.

“Aku punya banyak mimpi, ingin menjadi seorang guru sejati dan menulis tentang banyak warna-warni kehidupan” akunya menutup cerita. (Kris da Somerpes)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here