Mendalami Wajah Allah dalam ‘Ekaristi’ Mario F. Lawi

0
315

*) Hengky Ola Sura

Pagi yang cacat
Mengulurkan anamnesis
Kami berdiri di jalanan
Menyaksikan diriMu dikorbankan
Di bawah salib
TubuhMu yang jasad
Kami koyak kelak
Dengan rasa lapar paling purba

(Mario F. Lawi, Ekaristi,hal 77)

PROLOG

Ekaristi merupakan antologi puisi Mario F. Lawi yang ditulis selama periode 2007-  2013.  Antologi terbitan PlotPoint Publishing tahun 2014 ini memuat 89 puisi yang pernah terbit di Kompas, Koran Tempo dan beberapa media lainnya. Antologi ini pun masuk longlist Kusala Sastra Khatulistiwa 2014. Antologi ini juga lebih merupakan pencerminan diri secara khas seorang Mario yang pernah lekat dengan tradisi hidup seminari dengan bacaan-bacaan rohani semisal Kitab Suci yang menjadi cikal bakal warna khas keseluruhan puisi-puisinya. Ekaristi bisa jadi adalah bentuk nyata dari kontemplasi yang membawa Mario, sang penyair untuk menempah imaginasinya menjadi lebih luhur dalam teks puisi. Membaca keseluruhan puisi-puisi dalam buku ini kita seperti dihadapkan pada dunia kontekstual seorang Mario menemukan kaidah-kaidah untuk diri sendiri dan bagi orang lain dalam pergumulan mendalami Kitab Suci. Dari titik bidik inilah Mario bisa jadi menemukan sosok Allah, sang Causaprima itu dalam pengosongan diri, dalam kesunyian, suasana tragik, dalam sikap hidup asketis dan juga perjumpaan-perjumpaan hidup. Wajah Allah jelas tergurat dalam kisah-kisah perjumpaan, perjalanan serentak petualangan spiritual.

Mencari wajah Allah dalam Ekaristi mengandaikan usaha dan perjuangan manusia dewasa ini untuk menemukan Allah dalam keheningan, penderitaan dan aneka persoalan hidup yang dihadapi. Pertanyaannya adalah mungkinkah kita menemukan wajah Allah dalam realitas terbalik? Ekaristi merupakan sebuah cermin bagaimana kita berkaca dalam perjuangan, tantangan dan serentak ikthiar pencarian.

Antologi ini memuat 89 puisi. Membaca puisi-puisi Mario dalam antologi ini banyak terdapat metafora yang menuntut pembaca untuk punya kedalaman pemahaman dari maksud sang penyair untuk menguak tabir bahasa biblis ke dalam bahasa puisi. Ekaristi, dalam gereja Katolik adalah sakramen utama dari antara enam sakramen lain. Wafat dan kebangkitan Kristus, dalam ekaristi dirayakan dengan meriah. Ekaristi dengan demikian adalah sumber dan puncak seluruh hidup orang Kristen.

Dalam salah satu dokumen Konsili Vatikan II, Presbyterium Ordinis, dituliskan bahwa sakramen-sakramen lain, seperti sakramen baptis, krisma sampai sakramen imamat, berhubungan erat dengan ekaristi dan terarah kepadanya. Sebagai sakramen, ekaristi adalah tanda dan sarana persatuan dengan Allah dan persatuan antar sesama umat manusia. Ekaristi juga memuat khasanah biblis yang ada dalam kearifan-kearifan lokal. Mario dalam puisi-puisinya mengangkat realitas kearifan lokal sebagai bentuk dari pesan keselamatan bahwa menghayati iman harus dengan mata terbuka.

Puisi-puisi Mario dalam buku ini sebenarnya adalah juga bagian intergral dari semacam ziarah rohaninya. Datang jauh dari masa kecilnya, atau bahkan lebih jauh lagi, dari kisah-kisah dalam Kitab Suci yang dianut ibunya dan ritual-ritual tradisi yang dipercaya kakeknya. Pertemuan dua sungai masa lalu itulah yang Mario dongengkan kembali kepada dalam deret kata apik. Ia selalu penuh perhitungan dan taktis, unik dan indah. Memasuki kisah-kisahnya akan membawa kita bertemu dengan hal-hal yang minta dipeluk sekaligus ditolak. Kisah tentang Musa dalam puisi adalah epos dari perjalanan-perjalanan pembebasan menjadi padu dalam puisi, ‘tempias angin gurun yang gersang/ adalah hujan bagi tongkatmu/setelah diberikanNya nubuat/tentang kesedihan dan air mata.’(Musa, dalam Ekaristi hal 73). Betapa wajah Allah itu diendus dari kontradiksi angin gersang yang menjadi hujan berkat tongkat Musa. Liris, ritmis dan kedalaman maknanya adalah kecemerlangan horison Mario membahasakannya.

MENDALAMI WAJAH ALLAH DALAM ‘EKARISTI’

a. Menemukan Allah dalam Ritus Keagamaan

Ekaristi merupakan salah satu mahakarya Mario, menampilkan pandangan-pandangan khas mengenai Yang Ilahi. Pandangan tentang Yang Ilahi itu tersirat jelas dalam gambaran mengenai salah satu ritus keagamaan (baca, Ekaristi) yang menghantar pembaca untuk masuk dalam pergumulan-pergumulan selanjutnya yang lebih merupakan ekspresi religiositas yang erat kaitannya dengan keagamaan. Hal ini nampak jelas pada puisi Ekaristi;

Pagi yang cacat
Mengulurkan anamnesis
Kami berdiri di jalanan
Menyaksikan diriMu yang dikorbankan
Di bawah salib,
tubuhMu yang jasad,
kami koyak kelak
dengan rasa lapar yang paling purba

Mario memulai puisinya dengan suasana dari sebuah pagi yang sayu. Ekaristi bisa saja menjadi bagian dari kontemplasi Mario untuk membayangkan/mengenangkan (anamnesis) ekaristi yang sayu dari sebuah pagi. Sayu bisa saja menjadi deskripsi kewajiban formal dari manusia sebagai peziarah yang berdoa. Ekarsiti yang dirayakan setiap pagi oleh imam adalah ritus wajib. Toh Mario dalam puisi ini seolah mengajak pembaca untuk lebih dalam memaknai bahwa sebagai sebuah ritus, ekaristi memang abadi sebagai tanda dan sarana tetapi lebih dari itu sebagai sebuah ritus ekaristi menjadi jalan pemurnian yang menjadikan orang-orang Kristen Katolik untuk senantiasa merindukan ekaristi sebagai darah daging yang mengoyak kebatilan menuju hidup beriman pada Allah yang adalah kasih. Karena kasihNya itu ia hadir dalam ekaristi. Simak deret kata ;

kami koyak kelak/ dengan rasa lapar paling purba

Daya pukau Mario dalam deret kata di atas mengetengahkan kepada pembaca bahwa sebagai sebuah tanda keselamatan ekaristi memang menjadi ‘sesuatu’ yang layak untuk dihidupi. Terlepas dari sisi kebaktian kepada Tuhan dalam aspeknya yang resmi, yuridis, dalam peraturan-peraturan dan hukum-hukumnya ekaristi  tetap merupakan conditio sine qua non bagi keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan. Puisi ini sebenarnya juga adalah sebuah sinis dari perilaku hidup beragama. Orang beragama banyak yang religius, namun kenyataannya tidak selalu begitu. Dengan demikian ekaristi adalah ritus keagamaan yang mengantar umat manusia pada pertemuan dengan Allah. Merayakan ekaristi harus menjadi kerinduan yang terus-menerus, ia tidak hanya sekedar sebuah ritus yang dihadiri untuk menyatakan kekudusan tetapi pesan keselamatan di dalam ekaristi itu harus diwartakan dengan kasih, (Alkitab, bdk 1 Yohanes 4:8-16).

b. Menemukan Allah dalam Ritus Adat-Istiadat

Ekaristi sangat dipengaruhi oleh kearifan-kearifan dan mistisisme NTT, khususnya pada daerah Sabu. Bisa jadi faktor ibu sang penyair yang berasal dari Pulau Sabu, NTT mewarnai juga dunia ide Mario untuk coba menelaah lebih ke dalam bahasa puisi. Allah yang hadir dalam keheningan hanya dapat ditemukan jika seseorang mempunyai batin yang tenang dan kerelaan untuk mengosongkan diri serta mempunyai kepekaan untuk mendengarkan apa yang dikatakan kedalaman hati nuraninya. Tentang menemukan Allah dalam keheningan, puisi Gela (Ekaristi hal.40) bisa jadi rujukan betapa kearifan lokal semacam olesan hasil memamah sirih pinang dan daging kelapa  pada dahi menjadi inisiasi yang mengantar sang penerima olesan memperoleh rahmat istimewah.

Di dahiku masih ada tanda salib, dioleskan kakek dengan rasa haru yang harum, sepotong kelapa, serta adonan sirih dan pinang dari mulutnya.

“tanda ini, Cucuku, adalah awal keabadian.” Salibku merah seperti mimisan ibu. Harum seperti kencing pertama bayi waktuku. Kusembunyikan isak dalam lemari, karena sejenak gagak akan diganti burung kenari, sebelum tubuhku menjelma sansak bagi peluru-peluru dinihari.

Kata tetua pada deret kata di atas adalah ungkapan iman. Iman yang dihayati dalam hidup dan memenuhi seluruh hidup, dirayakan dalam ritus khusus serupa ritual keagamaan. Olesan segar kunyahan sirih piang dan daging kelapa muda yang dimakan sang kakek pada dahi sang cucu adalah penghayatan kehangatan hubungan baik dengan Tuhan dan sesama. Tanda dari olesan merah sirih pinang yang dimamah dengan kapur adalah juga makna perayaaan iman untuk menimba kekuatan alam. Pada bait ketiga dari puisi Gela, Mario menulis dengan bahasa leluhurnya (baca bahasa daerah Sabu);

Wo Deo Muri, ne ta herae ta hero’de de ri nyiu wou mangngi, Mita rui kedi ihi kuri, mita haga dara, mita ju mederaa, kelodo pa taga rihi dula (terjemahannya; Ya Allah sumber kehidupan, anak ini dioles-usapi dengan kunyahan kelapa yang harum agar kuat dan segar tubuh serta mentalnya, supaya bertambah besar dan tinggi, supaya mendapat status yang tinggi/terhormat dalam keluarga dan marga, (Gela dalam Ekaristi hal 41). Puisi ini adalah bentuk dari menampilkan kepercayaan tradisi yang sejuk. Wajah Tuhan ditemukan dalam  tanda salib pada kening sang cucu oleh sang kakek.

c. Menemukan Allah dalan Kisah Perjumpaan

Berbahagialah kalian yang telah mendengar suara ibu mengikrarkan Fiat sambil menaksir maksud angin yang menderap-derapkan sepatu mereka dari Selatan (Usapi Sonbai dalam Ekaristi, hal 22).

Puisi ini sesungguhnya adalah persembahan Mario kepada Amanche Franck. Seorang imam diosesan Keuskupan Agung Kupang. Sosok Amanche bisa jadi luahan lebih lanjut Mario dalam puisinya pada perjumpaan mengalami fiat Santa Perawan Maria. Ungkapan fiat Maria sebagai seorang hamba Tuhan menjadi tanda kesetiaan Romo Amanche memilih hidup selibat. Mario bisa jadi menemukan wajah Allah pada imamnya, Romo Amanche yang menanggapi tawaran Allah tanpa syarat dengan batin yang bebas penuh syukur. Imam adalah identitas dari hamba Allah. Pernyataan penyerahan diri untuk menjadi pewarta adalah bentuk mewujudkan misi Allah di dunia. Puisi ini menjadi komitmen misioner sekaligus harapan pada sang imam agar menjadi imam Allah yang sungguh-sungguh menampakan wajah Allah di dunia. Puisi ini menjadi bagian integral kisah perjumpaan dengan Allah. Romo Amanche menjadi tokoh, seorang usapi sonbay, orang terurap yang daripada keseluruhan hidupnya adalah kisah-kisah manusia mengalami dan menemukan wajah Allah.

ALLAH MENURUT MARIO F. LAWI

a. Allah: Eksistensi yang Perlu Dipertanyakan

Mario, dalam Ekaristi, melukiskan situasi keterpecahan manusia oleh penindasan, penderitaan akibat penjajahan. Situasi seperti ini diwakili oleh apa yang dialami masyarakat Perjanjian Lama dan Baru dalam kisahan Kitab Suci. Simak deret kata pada puisi Pentakosta (Ekaristi, hal 6)

Meredam batu karangmu yang terus menjulang mencari lubang kunci di atas sana.
Engkau tidak menyediakan wadah bagi kami

Puisi ini adalah bentuk protes dan pertanyaan dimanakah Allah ketika penderitaan semisal kisah Habel yang terbunuh, kisah Sodom dan Gomora  yang tragis itu. Dalam momen seperti ini, keberadaan Tuhan sebagai sumber segala kebaikan dan keadilan dipertanyakan. Pertanyaan ini adalah serupa juga pengungkapan akan sejumlah rasa putus asa dan ketakberdayaan tentang adanya eksistensi Tuhan yang tak kelihatan namun Roh-Nya yang hadir itu menghidupi.   

b. Allah Pengharapan Bagi yang Menderita

Puisi dengan judul Adventus (Ekaristi, hal 29) bisa jadi pengharapan paling hakiki dari semua yang menderita. Mario secara eksplisit menampilkan rasa percaya dari ketakberdayaan dengan menampilkan judul Adventus. Adventus yang dalam bahasa Latin artinya kedatangan adalah semacam harapan baru untuk bersyukur dan mengalami kasih dan kebaikan Tuhan lewat siarah pergumulan hidup. Berikut petikan dari penggalan diksi puisi Adventus;

Seperti menyongsong kehidupan, pada selongsong penghabisan
Ia temukan wajah Tuhan, di kota yang nyaris kosong akibat pertempuran
Ia hidupkan lagi wajah istri dan anak-anaknya, dengan rasa syukur tak terkira. Pada nasibnya yang kian celaka.

Kalimat pada baris terakhir seolah kontradiksi toh ia tetap sebuah pengharapan dari hidup orang beriman, khususnya Kristen untuk memaknai penderitaan dengan tegar. Kata-kata selongsong penghabisan dan ia temukan wajah Tuhan adalah deskripsi penuh harap dari orang-orang Kristen ketika masa adven tiba pada penanggalan liturgi. Masa adven identik sebagai masa pengharapan untuk membenahi dan mereflesikan seluruh perjalanan hidup.

c. Allah Sang Pembebas Sejati

Mario dalam Ekaristi  secara tersurat juga mempersoalkan kebebasan dari rasa takut dan pandangan sinis sesama. Ia tidak sekedar kebebasan fisik tetapi juga kebebasan batin. Sebagaimana dialami oleh Maria Magdalena yang dilabeli pelacur, toh Allah hadir melalui Isa, anak-Nya sebagai pembebas. Mario memang piawai merajut dalamnya kata untuk membahasakan Allah yang hadir sebagai pembebas sejati itu;

Kuharapkan kau masih mengingat ketika pertama batu-batu bersijatuh di hadapanmu, si janggut putih yang bersikeras mengarahkan rajam tajam ke arah lambungku. Kubuatkan sukatan dengan tanah liat dan sepotong kayu, tak lebih kelit dari jarak hati dan payudaramu
……………………………………………………………..
……………………………………………………………..
Misalkan surga itu doa para imam agung, maka lebih pantas kau menghadapku.

Sesungguhnya kisah Maria Magdalena adalah kisah bagaimana Mario dengan mata tajam penyair membahasakannya secara amat lembut nan dramatis kisah ketika perempuan ini kedapatan berzinah. Kristus yang membebaskannya adalah simbol nyata bagaiaman penyair sendiri mengimani kehadiran Allah sebagai pembebas sejati.

RELEVANSI TEOLOGI PRAKTIS DALAM ‘EKARISTI’

a. Memaknai Penderitaan Hidup

Ekaristi, mahakarya Mario ini adalah semacam ikthiar pencarian menuju pembebasan. Mario menghadirkan kisah-kisah heroik seputar Musa, Maria Magdalena, Zakheus lebih sebagai cara baru ikut mendalami isi Kitab Suci. Cara Mario menghadirkan kisah-kisah tersebut adalah bentuk kedalaman kontemplasi memandang Allah yang ikut terlibat dalam penderitaan manusia. Sebagaiamana halnya Elie Wiesel, pengarang Yahudi terkenal yang ditahan dalam pembunuhan Hitler yang melihat Allah tergantung pada tiang-tiang gantungan begitu pula Mario dalam Ekaristi  memandang wajah Allah dalam kisahan-kisahan teks Kitab Suci ke dalam bahasa puisi.

Inilah cara baru penyair memaknai penderitaan hidup lewat refleksi-refleksi biblis. Ia menembus sekat-sekat kemapanan, ia menjadikan yang transenden menjadi imanen. Bahwa Allah hadir di tengah-tengah penderitaan agar ada spirit untuk pembaharuan. Penderitaan memang menyakitkan tapi tetap harus diperjuangkan agar keluar, ia tidak melulu hadir dalam gores kata yang lirih tapi juga seruan pembebasan. Pada tataran ini Mario mungkin saja mengajak pembaca bagaimana seharusnya menghadapi penderitaan.

b. Mencari dan Mengusahakan Pembebasan

Salah satu tugas yang amat berat bagi setiap orang beriman adalah turut merasakan penderitaan sesamanya. Mario lewat puisi-puisi dalam ekaristi turut mengajak pembaca untuk tertantang mengamalkan inti amanat Kita Suci. 89 puisi yang terhimpun dalam antologi ini adalah cara baru mengendus wajah Allah yang solider.

Gema Teologi pembebasan yang lahir di bumi Amerika Latin bisa jadi terasa juga dalam puisi-puisi Mario. Mario adalah penyair yang mengajak pembaca untuk membongkar akar-akar ketertindasan dengan bahasa penuh metafora. Agak sulit memang mendalaminya tetapi seruan Mario lewat judul antologinya Ekaristi adalah semacam pesan keselamatan.

EPILOG

Ekaristi adalah juga semacam pencarian. Puisi-puisi yang terhimpun di dalamnya memang memiliki kejeniusan dalam pengembangan metafora liris ritmisnya toh ia tetap banyak menghadirkan keterasingan. Ia butuh pembacaan yang ketat. Dari puisi Kamu mulai dengan sebuah keadaan sampai Telaga Bisu menawarkan banyak hal positif serentak pencerahan untuk memandang wajah Allah. Kita perlu melibatkan diri dalam Ekaristi-nya Mario. (Editor: kbs)


12510376_10201322487900593_8164316894165583092_nHengky Ola Sura, peminat sastra. Aktif di Komunitas KAHE Maumere. Pernah menjadi staf pengajar SMA Seminari Bunda Segala Bangsa Maumere. Kini bekerja sebagai Koordinator Divisi Informasi & Dokumentasi Lembaga Perhimpunan Bantuan Hukum Nusa Tenggara.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY