MEMBANGKITKAN KEMBALI SASTRA DAERAH, Apresiasi dan Pesan Atas Terbentuknya Komunitas Sastra KAHE

0
217

*)  Patrisius Haryono

Ahli Sosiologi Macionis menyebutkan bahwa ada empat komponen yang membentuk kebudayaan. Dari empat komponen yang dimaksudkannya, bahasa adalah salah satu komponen penting yang membentuk kebudayaan. Bahasa merupakan sarana yang penting dalam membagikan kepercayaan, pemikiran, pengalaman dan perasaan (Raho 2014:130). Bahasa yang terungkap dengan indah dan menarik kita kenal dengan sastra. Dengan demikian sastra adalah bagian dari kebudayaan yang perlu  dikembangkan.

Patut Diapreisasi

Penulis mengapresiasi atas terbentuknya komunitas Sastra  nian tana atau KAHE. Dengan hadirnya komunitas ini sebagai wadah bagi generasi muda nian Sikka untuk menyalurkan hobi, bakat dan kreatifitasnya. Bahkan jauh dari itu, sastra dengan kedalaman nilai rasanya dan keindahan bahasanya sebagai sarana bagi generasi muda  untuk tidak hanya hadir tetapi mengekpresikan diri. Ibarat benih yang baik jika ditabur di ladang yang subur tentu menghasilkan buah yang berlipat ganda. Kehadiran komunitas sastra KAHE kiranya menjadi ladang yang subur bagi pegiat sastra untuk menyalurkan bakat dalam bidangnya.

Sebuah Pesan

Bangunan menjadi kokoh, jika berdasar pada dasar yang kokoh. KAHE atau sastra niang tana akan menjadi kokoh jika menyadari diri sebagai komunitas yang hadir dari, oleh dan untuk nian tana Sikka. Dasar kokoh yang dimaksudkan penulis adalah kembali ke akar kekhasan sastra daerah sebagai bagian dari budaya kita. Kita boleh saja mengagumi penyair dunia yang hebat dalam mengungkapkan setiap maksud hati dan pikiran dengan bahasa yang indah. Alangkah baiknya, jika jauh sebelum mata memandang yang jauh, perlu juga melihat dan melirik sastra daerah yang adalah bagian dari budaya kita.

Di Nusa Tenggara Timur tentu di setiap daerahnya ada beberbagai ungkapan-ungkapan khas, lagu-lagu, cerita rakyat, pantun, syair yang mengandung nilai sastra yang sangat tinggi, bahkan kisah tentang sejarah dan hukum-hukum adat pun terungkap dalam gaya satra. Di Sikka dikenal yang namanya kleteng latar, kula babong, naruk du’a moang dan latun lawang. Ini merupakan contoh dari sastra daerah yang berisi sejarah, nasihat dan larangan juga mengandung pesan moral yang sangat tinggi.

Sayangnya dewasa ini sulit ditemukan orang-orang muda yang mampu untuk mengungkapkan dengan baik atau menguasai sastra lokal kita. Sastra daerah kebanyakan hanya berkembang di kalangan tua yang hadir hanya sebatas dalam seremonial adat. Kecemasan kita adalah ketika generasi tua pun berlau, maka sastra daerah pun akan berlalu bersama mereka. Konsekuensinya adalah salah satu komponen budaya kita pun akan lenyap bersama kepergian generasi terdahulu.

Problemnya  adalah ketika xenosentrisme semakin kuat dalam diri kaum muda sekarang. Xenosentrisme yaitu kebiasaan mengangap tinggi budaya orang dan mengangap rendah budaya sendiri. Kebiasaan ini juga terjadi dalam dunia sastra. Sastra daerah semakin ditinggalkan peminat karena dianggap kuno, dan tidak relevan dan dibiarkan menjadi tugas sejarahwan untuk dijadikan bahan penelitian. 

Generasi muda cenderung untuk melirik syair indah dari Kahlil Gibran, W.S. Rendra, dan tokoh sastra besar lainya. Bukan tidak benar untuk mengagumi mereka, akan tetapi juga mesti diberi perhatian yang khusus juga untuk sastra lokal, lirik bahasa daerah. Justru dari sastra yang berasal dari budaya kita, yang adalah milik kita, kita mempunyai dasar yang kuat untuk menjangkau dan menatap yang  luas.   

Komunitas sastra nian tanah sudah hampir mengarahkan diri ke arah ini. Hal ini terlihat dari nama yang diberikan untuk komunitas ini. KAHE nama yang diambil dari bahasa Sikka yang berarti suara pekikan kebesaran atau semboyan yang berisi semangat atau spirit yang terungkap dalam bahasa yang indah, lugas dan luwes serta mengandung keindahan dalam gaya bahasanya.

Sebagai contoh adalah Kahe yang khas dari sikka adalah a’u lamen tanah alok, yang berarti aku pejantan putra Sikka. Ungkapan yang indah dan singkat namun mengandung arti dan makna yang maha luas. Jantan bukan hanya berarti menunjukan kelaki-lakian tetapi juga semangat, kerja keras, dan jiwa perjuangan yang tentunya menjadi spirit untuk menjiwai generasi muda Sikka.

Kehadiran KAHE atau Sastra niang tana yang dengan spirit dari, oleh dan untuk nian Sikka kiranya juga betul-betul menghidupkan kembali sastra daerah Sikka. Menghidupkan bukan hanya untuk menampung kaum muda pegiat sastra. Lebih jauh, kehadiran KAHE juga mesti menghidupkan budaya lokal lewat menghidupkan juga sastra khas daerah. Sastra daerah juga mesti diberi tempat dan diperkenalkan. Bukan tidak mungkin semangat ini menjadi spirit untuk masyarakat NTT demi menghidupkan kekhasan budaya dan bahasa daerah kita yang penuh makna dan nilai dan perlu untuk diwariskan. Dengan memberi tempat bagi sastra daerah, kita menghadirkan diri seperti kacang yang tidak lupa akan kulitnya.

Catatan: Sumber Foto Ilustrasi: Cover Group Facebook. Komunitas KAHE (Sastra Nian Tana) Redesign-kbs/floresastra.


Patrisius Haryono, Mahasiswa STFK Ledalero-Putra Daerah Sikka

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY