Sepucuk Surat Dari Bandung

1
238

*) Gina Utami

Bismillah,
Perkenalkan, lalu perkenankan…

Kuawali perkenalan ini dengan salam terhangat yang kutitip lewat dinginnya kota Bandung saat ini. Dapatkah? Menitipkan kehangatan lewat kedinginan? Menurutku dapat. Silahkan setuju saja. Sebelum menulis perkenalan ini, aku berpikir lama tentang apa yang akan kusuguhkan dalam curiculum vitae yang dimintai Flores Sastra. “Yah, mungkin tak perlu terlalu kaku”, pikirku. Detailku akan kusimpan di akhir saja. Siapa namaku, berapa usiaku, alamat rumahku, kota rantauku serta poin (apa yang dianggap perlu) lainnya.

Lalu, aku berterima kasih pada Tuhan yang telah membukakan kesempatan untukku mengenal Flores Sastra melalui seorang teman yang sedang bertugas disana. Menembus suasana Flores tak kuyakin aku dapat. Aku telah cemburu sedari awal. “Cemburu tingkat dewa-ku hanyalah pada keberuntungan yang selalu memihak”. Beruntungnya itu: dilirik sepintas saja, bagiku mereka begitu nyĕni (dalam bahasa Sunda artinya bernilai seni). Melalui wajah Flores (termasuk wajah beberapa sahabat yang kukenal saat masa kuliahku) selalu semangat dan antusias yang terpancar. Selalu, yang terdengar suara lantang yang merdu. Selalu, yang nampak sikap santun dan bersahabat.

Sebenarnya, aku bukan seorang yang pandai menulis. Kebiasaan menulis (lebih tepatnya curhat) merupakan kenangan yang sedang kucoba untuk mengulangnya. Masa-masa sekolah menengah atas-lah masa itu. Masa keemasan bagi rasa untuk bergejolak di kehidupanku. Banyak tulisan bertebaran di setiap buku. Sayangnya, belum ada pengetahuan tentang mengembangkan bakat menulis saat itu. Hingga reduplah kebiasaaanku merangkai curhatan. Dan tulisan-tulisanku pun tak ada jejaknya.

Hingga suatu saat, tiba-tiba aku menjadi seperti penyair lagi. Kata-kata sangat aktif menawarkan dirinya untuk kuracik agar sesuai dengan suasana hati. Setiap detik yang kucari adalah kata. Ya, saat itu aku sedang jatuh cinta. Aku mengiyakan segala hal, bahkan kalimat hiperbola yang seperti: “Jika wangimu saja bisa mengindahkan duniaku, maka cintamu pasti bisa mengubah jalan hidupku” (Raisa-Kali Kedua). Tentunya aku mengiyakan karena merasakan.

Tapi ternyata jatuh cinta bukan sesuatu yang abadi. Hingga tiba ku pada saat patah hati. Saat itu, aku jengah dengan sebaran tulisan yang melulu tentang luka. Tak ingin berlama-lama, lantas aku mencari pengobatan lewat tulisan. Melalui banyak tulisan, kutemui waktu selalu berhasil menghapus luka. Tersiratkah maksudku pada cerita di atas? Aku menulis karena jatuh cinta. Tapi ternyata patah hati lebih memotivasi. Sejak saat itu, aku putuskan untuk mencoba menulis di setiap waktuku. Jika berkenan, Flores Sastra-lah yang harus memaksaku. Semoga menjadi berkah dan bermanfaat hidup kita lewat menulis. Inginku melalui menulis yaitu untuk “memberi arti” pada apa yang kualami. Semoga perkenalan ini tak berkesan berlebihan.

Terima kasih dan salam kenal dariku, aku, Gina Utami Sulasigar. Lahir di Watampone, Sulawesi Selatan pada 10 Oktober tahun 1990-an. Alamat KTP yaitu Garut, Jawa Barat. Sedang merantau dan memang merantau sedari dulu di Bandung. Lulus dari UIN Sunnan Gunung Djati Bandung pada September 2014. Sedang mencari rejeki lewat jutaan angka pada layar komputer. Gemar melamun. Iri pada orang berbahasa Jawa, dan pada dialek manusia Timur. Penikmat film dan juga lagu.*)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here