*) Aldus Wae

MENANTI JAWABAN

Gelanggan terbuka lebar
Suara pengusik penuh bisik
Kata memakan rasa, tiada pandang
Semuanya jadi buta, rasa menjajah jiwa

Berteriak sekeras baja biar larut bersama desahan angin
Membawa pada mereka akan pesan yang lama menanti
Terlalu lama berdiam dalam permainan kata, tipu mereka.
Masih merindu rumah, tempat berteduh nan indah

Sang muda, tiada cemas membuka tabir
Bukan membunuh, ingin bertutur sopan
Siang, bersama cuaca ditanggap najis
Ah, masa harus berdiam dalam gelap?
Tidak.
Semuanya untuk kita. Mengapa harus takut?
Bukan melawan, bukan pula menghujat, apa lagi menghina
Biar terang membuka jawaban
Sebab, sabar bukan jawaban bijak dari rintihan sang perindu terang.
Kita masih mencari jawaban, biar nyata rumah dibangun

Malu aku terusan beratap sama adik.
Rumahku masih menanti jawaban dari si tukang
Entah, sejauh mana dia berkelana tiada sadar
Besok, dia kembali membawa miniatur
Jawaban penawar hati yang kian teriris tipu muslihat.
Kapan?

TUAN

Kemana kami mencari batu jika semuanya adalah tanah?
Jika pasir malu membeku kembali membatu
Silahkan marah andai kata bagai senjata penusuk hati
Bukan. Itu hanyalah goresan penggiring jawab
Sebab hujan akan turun setelah badai melanda

Tuan,
Maralah saja jika menyinggung nyonya
Karena rakyat tidak diam dengan derita
Lolongan anjing tiada ujung
Sampai tuan membuka cerita tentang sebenarnya
Dan mata akan terpejam bahagia

GURU

Marahkah engkau jika murid bertanya tentangmu?
Apakah itu sebuah tamparan bagimu?
Atau, guru akan menampar murid yang gelisah mencari jalan?
Menunjuk. Tidak. Menuntun. Ya.
Guru, jangan menghakimi, karena kami tidak tahu soal itu.
Kita sedang belajar bersama tentang berucap kata
Bukan merusak kata dengan rasa tanpa makna
Guru,
Mungkin kita masih harus belajar lagi tentang hidup bersama mimpi

PEREMPUANKU

Lihatlah dirimu pada cermin dalam ruang kamar
Sebelum retak bayang pun pergi
Kembali engkau menjadi diri
Jika mereka sempat memberi lebih
Engkau lebih dari ini
Perempuanku,
Terimakasih
Aku menemukan engkau bersama tawa-tangis dan hidup.

Djogja, 22 April ‘16


Aldus Wae. Mahasiswa asal Kisol, sedang  kuliah di Yogyakarta.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here