DI KOTA KEMBANG CINTAKU BERLABUH, Cerpen Ervino Hebry Handoko

0
173

*) Ervino Hebry Handoko

Kicauan burung menyapa alam pertanda sang fajar telah tiba. Tetesan embun berlahan mengalir mengisi rongga-rongga bumi yang diterpah sang surya berlalu.  Kini sang surya kembali menyapa alam. Sinar mentari pagi yang  indah menusuk hingga ke relung  jiwa memaksa aku beralih dari lamunan dan pangkuan sang khalik. Hari baru, semangat baru, dan teman baru, mengawali kisah perjuanganku di kota Kembang. Hari ini adalah hari pertamaku memasuki dunia baru yaitu dunia perkuliahan. Di sini aku diajarkan untuk lebih mandiri dan dewasa dalam menghadapi realitas kehdupan. Aku bahkan dituntut untuk bertanggungjawab dengan setiap keputusan yang aku ambil. Segala kemalalasan, egois, apatis  telah kutinggalkan di bangku SMA. Dentingan bell tanda berakhirnya ujian nasional memberi petunjuk bahwa masa ABG-ku telah berakhir.

***

Perkenalkan, namaku Tiara, tiara dalam bahasa Inggris berarti mahkota. Konon menurut cerita ibuku, ketika melahirkan aku, seorang malaikat datang menjumpai ibuku dan menghadiakan aku sebuah mahkota. Mahkota itu bertanda bahwa aku adalah anak yang dikaruniai dan kelak ketika dewasa aku akan menjadi mahkota keluargaku. Aku tidak tahu apakah ini sebuah dongeng atau sebuah kenyataan. Aku pun tidak mempersoalkan hal itu, yang paling penting bagiku adalah aku dilahirkan dalam keadaan sehat dan normal.  Aku dilahirkan dalam keluarga yang sederhana.  Aku adalah anak bungsu, kedua kakaku semuanya laki-laki kenyataan ini yang terkadang membuat diriku terus dimanjakan oleh kedua orang tuaku dan kedua kakaku. Aku bersyukur lahir dalam keluarga yang harmonis. Orang tuaku selalu mengajarkan kami akan pentingnya  kerendahan hati, bersyukur, dan peduli dengan orang lain. Maklum, orang tuaku adalah penganut katolik yang taat. Sejak SD sampai SMA kau tinggal bersama orang tuaku, aku tidak pernah tinggal di asrama, karena  tempat sekolahku berdekatan dengan rumah. Di tengah kesederhanaan itu keluargaku mempunyai kerinduan besar  agar kami  harus mendapat gelar minimal sarjana.  Bila dilihat dari segi ekonomi sepertinya tidak begitu mendukung, namun karena atas dasar kemauan keras dan sikap pantang menyerah kedua orangtuaku semuanya pasti terwujud, buktinya kedua kakaku sudah menyelesaikan kuliah bahkan yang sulung sedang mengerjakan tesis magister Hukum di UI dan yang kedua memilih bekerja di perusahan MIGAS milik pemerintah setelah lulus dari UGM. Didikan keluarga yang sangat disiplin membuat kami bertiga meraup segudang prestasi. Prestasi itulah yang mengantar kami pada kesempatan mendapat beasiswa masuk perguruan tinggi.  Sejak SMA aku bercita-cita menjadi seorang arsitek.  Ketika lulus SMA aku melamar masuk ke UNPAR Bandung melalui jalur prestasi. Keberuntungan berpihak kepadaku, seolah-olah semuanya sudah direncanakan Tuhan, aku diterima di  Universitas Parahyangan Bandung jurusan arsitektur. Yah, kota kembang cintaku berlabu, dan harapanku teurai menjadi kenyataan. kota kembang menjadi saksi perjuanganku.

***

Hari ini adalah hari pertama bagiku memulai rutinitas perkuliahan. Hari-hari kulewati dengan penuh kebahagiaan. Teman baru, situasi baru, tempat baru membuat aku merasa nyaman dan sedikit mengalihkan kerinduanku  akan kedua orangtuaku. Maklum, ini merupakan kali pertama aku tinggal jauh dari orangtuaku, untuk melepas rasa rindu, aku selalu meluangkan waktu akhir pekan untuk menelpon kedua orangtuaku. Kami saling berbagi cerita, dan di akhir pembicaraan ibu selalui berpesan “ sayang, jaga diri baik-baik yah, jangan mudah terpengaruh dengan pola hidup perkotaan yang cenderung membuat kamu lupa diri, ingatlah papa dan mama bekerja banting tulang untuk membiayai perkuliahanmu”. Kata-kata ibu selalu kuingat dan menjadi penuntun hidupku. Rutinitas kampus yang padat dan tugas kuliah  yang terus menumpuk memaksaku untuk bekerja lembur. Kebiasaan menelpon orang tuaku di akhir pekan kadang dilalaikan. Aku begitu terlarut dalam duniaku.

Mengenyam pendidikan di kota besar bukanlah perkara mudah, segala sesuatu  bernilai uang tidak ada yang gratis.  Aku bersyukur dengan Beasiswa saya masih bisa mengirit uang kiriman orang tuaku. Memasuki tahun kedua kehidupanku berubah total. Waktu akhir pekan yang biasa aku gunakan menelpon kedua orangtuaku aku habiskan dengan berkeluyuran dengan teman-temanku. Pesan yang  disampaikan ibuku seolah-olah hilang dari memori otakku. Malam minggu  kuhabiskan  dengan berkeluyuran bersama teman-teman sehingga kebiasaan ke Gereja diabaikan. Aku begitu cepat terpengaruh dengan kebiasaan buruk. Kebiasaan ini  berdampak pada niliaku. IP semester genap mengalami penurunan drastis hingga melorot ke 2.75. Hasil yang membuat segenap dosen merasa heran. Sesuai aturan, beasiswa hanya diberikan bagi mahasiswa yang memperoleh IP di atas tiga. Tahun ini kau tidak memiliki kesempatan untuk menerima beasiswa. Untuk membiaya hidup dan kuliah aku harus meminta lebih kepada orang tuaku. Bulan-bulan seperti ini adalah bulan yang sangat sulit untuk mendapatkan uang. Krisis kemarau panjang membuat banyak orang menderita kelaparan dan kemiskian. Hal yang sama juga terjadi pada keluargaku. Aku malu meminta kepada orang tuaku, aku telah mengecewakan mereka.

Aku menceritakan segala persolanku ke teman-temanku. Cuarahan hatiku bukan membuat mereka sedih melainkan tertawa.  Aku merasa kaget, apakah manusia seperti mereka tidak memiliki perasaan empati.  Mereka memberiku solusi dengan cara  menawariku untuk menjadi wanita panggilan. Mereka meyakinkanku bahwa cara demikian merupakan jurus yang paling ampuh untuk mengatasi krisis keuangan bagi anak kuliah.  Maklum dalam hal itu mereka sudah menjadi senior bahkan menjadi guru bagi teman-teman yang lain. “ udah teh, enggak usah dipikirin, hanya dengan sejam ajah kamu udah bisa membiayai kuliah dan membiayai hidup, ngapain susah-susah nyari uang, kan zaman udah berubah”.

Pembicaraan temanku membuat aku merinding , mana mungkin aku melakukan itu sementara kedua orangtuaku adalah penganut katolik yang taat dan menjadi orang terpandang di kampungku. Aku tidak mau membuat mereka malu dan menderita, aku adalah mahkota keluarga. Pikiranku buntu, tidak ada jalan lain yang kutempuh untuk keluar dari persoalan. Alasan tadi tidak sedikit menjamin untuk mengatasi krisis keuangan. Melalui pertimbangan yang konyol akhirnya aku mengiyakan tawaran mereka. Mereka memperkenlkanku kepada seorang direktur sebuah perusahan . Dia mengajaku berkencan dan memberikan jaminan untuk membiayai kehidupanku. Aku bersyukur pikiranku masih jernih sehingga aku tidak secepat itu mengiyakan permintaanya, namun aku sedikit kebablasan  dengan meninggalkan nomor kontaku di meja kerjanya.

***

Minggu depan adalah batas terakhir pelunasan uang kuliah, Pikiranku tak terarah. Aku tidak tahu kepada siapa aku mengaduh. Orang tuaku tidak mengetahui persolanku, aku malu dan takut menceritakan persolan yang menimpah diriku. Aku menagis dan terus mengis. Aku merasa berdosa dengan sikapku yang mengabaikan kesempatan emas mendapatkan beasiswa. Aku merasa berdosa dengan diriku sendiri dan orangtuaku, aku telah menghancurkan kebahagiaan mereka. Tiba-tiba Handphoneku bedering pertanda ada pesan masuk. “gmana neng, mau  ggk kncn sma abng, biar sejm lho, aq jamn akan membiykan ung kliah qmu sampai slsai, ung kos & kebutuhan qmu. Klw neng  mau jd simpann abng, aq kan menghdiakn qmu aprtemn & mbl bru… neng kesmpatn dtg sekalih ajh, jngn disiah2kn,…..abng lg kepengen kencn sma neng….ditunggu ya”. Pikiranku semakin kacau. Aku menjadi galau dengan dua keputusan yaitu mengambil jalan pintas atau berusaha mencari kerja untuk menutupi tunggakan kuliah. Rayuan sang abang begitu indah untuk didengar namun sangat berat  bila dipikul. Tapi apa boleh buat aku sangat mebutuhkan uang.  “ aq pegn bang, nnti qta ketemuan di hotel Citra pukul 22.00 WIB”. Di saat  jariku menekal tobol sent tiba-tiba seseorang mengetuk pintu kamarku, aku meletakan handphoneku  dan beranjak pergi membukakan pintu. Ternyata ibu kosku, dia membawakan sebuah paket, ternyata paket tersebut dikirim oleh ibuku.  Paket tersebut berisi rosario dan beberapa buku doa dan sepucuk surat bersampul biru. Aku berlahan-lahan membuka anflop tersebut dan berlahan-lahan aku membacanya “ Tiara putri kesayangan papa dan mama, papa dan mama udah tahu persolan yang kamu hadapi, papa dan mama mendapat informasi dari dosen pembimbing studimu. Papa dan mama enggak marah kok, tantangan itu jangan dihindari melainkan dihadapi, hanya dengan tantangan kamu bisa belajar  bagaiman menyelesaikan persoalan sehingga kelak kamu bisa menjadi  manusia dewasa dan bertanggungjawab.  Maaf banget yah kalau  papa dan mama tidak secepatnya mencarikan uang untuk perkuliahanmu. Tiara tahu kan, sekarang musim kemarau, papa dan mama sulit mendapatkan uang.

Tiara enggak perlu kewatir dengan uang kuliah, besok kamu akan bertemu dengan teman lama papamu di kampus, dia akan membantu uang kuliahmu, dia  teman baik papamu ketika masih kuliah di Jakarta, sekarang dia menjadi kepala perusahan besar di Bandung, anaknya juga kuliah di Parahyangan jurusan kedokteran. Ini nomornya nanti kamu hubungi yah ( Pak Franky .0852 5356 2706). Tiara pesan mama dan papa, jaga diri baik-baik yah, jangan keluyuran malam, kamu adalah kebahagiaan keluarga, jangan biarakan itu direnggut oleh orang yang tidak bertanggungjawab. Kamu ingat kan temanmu, Mira dan Jesika yang hamil di luar nikah? Mereka putus kuliah, sekarang mereka hidup tak terarah apalagi suaminya tidak bertanggungjawab. Sayang, jangan menyakiti bapa dan mama dengan berbuat seperti itu.  Ingat, kenikmatan  cinta sesaat itu membawa duka  seumur hidup. Jangan pernah lari dari persolan, hadapi itu dengan pikiran jernih dan bijaksana. Papa dan mama selalu mendoakanmu, salam rindu dari papa dan mama buat kamu sang mahkota keluarga”. Aku tidak bisa menahan air mata, sapaan rindu nan hangat kedua orangtuaku mebangkitkan aku dari kematian. Kini air mataku bukan lagi meratapi kepedihan melainkan kebahagiaan yang tiada bandingnya. Terima kasih Tuhan Engkau telah menganugerahkan kedua orangtuaku yang berhati emas.  Kuambilkan Handphone, kubatlkan pesan yang sudak kutulis dan menulis pesan baru,” maaf  bget bang, aq bkn prmpun mrhan, aq pux harg dri & msa dpn, aq tdk btuh hrta, aq hnya btuh kasih syg yg tuls”. Mulai skrg please jgn ganggu aq lgi, abg uda pux istri kn?, jngn menghcrkn persaax,  keegoisn abng akn membut dia teraniaya, Thanks”. Di sini, di kota ini, cintaku berlabu, harapanku teraurai,  dan masa depanku tercapai. Di kota ini aku belajar arti kesetiaan, arti kesabaran, dan seni memaknai hidup. Di kota ini aku menggoreskan kisah indah di setiap lembaran hidupku. Kisah cinta dan cita-cita yang tak pernah lekang oleh waktu.


Ervino Hebry Handoko, Mahasiswa Prodi Filsafat STF Driyarkara Jakarta. Alumnus SMUK Fransiskus Saverius Ruteng

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here