ELEGI ESOK HARI, Puisi-Puisi Dedi Lolan

0
398

*) Dedi Lolan

ELEGI ESOK HARI
(Buatmu untuk esok pagi)

Bau kopi masih melongo sedang kau pakai malam di mejamu
Sedikit kerutan kecut bertamu di jidatmu
Lihat! Parade semut masih saja berjejal bekal
Tidak seperti kau menggerah
Mengapa tunduk?
Mengapa ringsuk?
Jangan terlalu menunduk
Jangan pula terlalu mendongak
Cukup kau petik horizon agar bisa seperti semut
Tapi dengan cara kau dari rahim pikiranmu
Sontak kagetmu mendobrak kursimu
Kata-kata kau kawinkan dengan teori di mejamu
Kau teguk lagi kopimu yang tak sehangat tadi
Hiruk pikuk anak pikiranmu melitas laju
Kau tangkap begitu cepat dalam sekejap
Kau runut dalam kalimat di genggamanmu
Kau sebut itu anak sulung, sang pewaris
Kepada pagi yang sebentar lagi datang
Bukan lagi carpe diem kau menyambutnya
Kali ini kau raih pagi  dengan pelukan cum laude
Dan orang-orang menyodorkan makanan pagi

Kampus Sanata Dharma 2011.

 Kita Pergi
(buat para sahabat dengan sapaan frater)

Hari kita akan senja sebentar lagi
Berhenti di sini cerita kita habis
Segalanya tenang sepi angin senja
Gerimis di sudut mata kita sendu
Pagi kita hilang pergi menjauh
Cerita, tawa,senyum, dan suara jadi kosong
Kita diam tunduk lesu menangis
Lalu kita mendekap tidak ingin lepas
Sayang, kita terpaksa lepas dan melambai
Sayonara begitu nyeri terucap
Mata kita berkaca, pecah dalam tangisan
Saat kau ingat lukisan hari kita di belakang
Ada yang kabur, terang menyolok, kotor mengeruh
Kau dan aku tidak melangkah satu arah lagi
Kita telah ada pada pilihan kita, jalan itu
Kau dan aku punya jarak, tidak seperti dulu
Teruskan langkahmu, berlarilah, sayonara
Ingatlah, kita pernah melukis bersama
Walau tidak seelok bianglala atau warna senja
Tapi kita mampu melukis dan bermimpi juga
Kau bilang kita adalah sang pemimpi
Dan kita pergi merebut mimpi itu, sekarang

Lembah Hokeng sesado, 18 April 2009

 Kusebut dirimu seperti lilin
(Hormat muliaku untuk kaum yang merakyat)

Ego tidak lagi menyemat busung dadamu
Bukan seperti benalu di pohon beringin
Hancur tubuhmu oleh cahaya
Menyala membakar untuk hari di dunia
Tidak untuk dirimu hanya sebatang
Hingga gelap pekat di kaki kau berdiri
Seperti kelam menyengat malam
Tiada bintang
Apalagi bulan
Gelap sungguh menjilat kakimu
Tapi kau hebat, dunia hidup karena kau
Kau beri terang pada dunia di sekitar kakimu
Nah! Senyum dan tawa pecah di bibir hari
Mereka tertawa, mereka bicara, tapi bukan tentang kau
Panas membakar habis, hingga ragamu susut
Susut, pupus, terhapus lalu habis
Bukan lemah
Bukan pula karena rapuh
Tapi karna tak punya hasrat demi ragamu
Kau tetap seperti itu
Memang kau begitu adanya
Karena kau ada untuk dunia
Bukan untuk egomu, dirimu seorang
Kau hebat, tak tertandingkan, begitu perkasa
Kau tuhan bagi dunia, dewa atas harinya
Meski kau terlupakan di pasar desa dan kota
Hingga senja memburu mati di bangku sekolah
Lalu panas cahayamu membeku di perkantoran
Dunia kembali ke selimut malam
Seluruh hari kemudian merajut pekat
Dan saat penghabisan tiba
Barulah dunia sadar mereka sedang kegelapan

Lembah Hokeng sesado, 15 Februari 2009


Sembari mengenang para pahlawan pendidikan, puisi-puisi ini kualamatkan untuk kawan-kawan di STFK Ledalero yang baru saja diwisudakan. Selamat hari pendidikan. Dari kawan kalian Dedi Lolan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here