DARI BALIK JUBAH; Kebebasan Jiwa Penyair di Ruang Publik

5
686

*) Yohanes Berchemans Ebang

Pengantar

Buku Puisi Dari Balik Jubah merupakan kumpulan pusi tiga orang pennyair yakni Al Tandirassing, Ardyanto Allolayuk dan Flafiani Jehalu. Dua nama pertama merupakan frater (calon imam katolik) tinggal di Seminarium Anging Mammirim Jogyakarta. Sementara Flafini, penulis ketiga merupakn mahasiswi Unika Atmajaya Jakarta kelahiran Alor-NTT, besar hingga tamat SMA di Ruteng-Manggarai-Flores NTT. Dari Balik Jubah (selanjutnya DBJ) menyajikan 56 puisi (15 puisi karya Al Tandirassing, Ardyanto Allolayuk 19 puisi dan Flafiani Jehalu menyumbangkan 22 puisi) ditambah bonus sebuah cerpen Dear Theodora karya Al Tandirassing. BDJ diterbitkan oleh AE Publising, April 2016.

Dari judulnya, pembaca (terkhusus umat katolik) bisa langsung menebak atau paling kurang memiliki gambaran spontan perihal warna dan isi dari puisi-puisi yang termagtub dalam buku tersebut. Biara, frater, jubah dan doa hingga pergulatan cinta pada subyek-obyek di dalam dan luar biara kira-kira menjadi tema-tema sentral puisi-puisi dalam buku tersebut.  Kalau ada tebakan spontan demikian, maka itu kemungkinan besarnya benar. Atau meminjam bahasa para penulis sendiri bahwa Jubah yang selama ini senyap-tak terungkapkan di balik tembok biara yang tinggi, kini hadir dalam bahasa puitis (DBJ, hal.v) sehingga anak judul dari buku tersebut berbunyi ‘Kumpulan Surat Cinta yang Terselip di Saku Jubah’.

***
Setelah selesai membaca seluruh isi DBJ, saya berniat untuk menulis semacam tafsiran atau ulasan sederhana perihal sajak-sajak yang sudah saya baca (beberapa sajak yang mengetarkan dan itu saya membacanya ulang beberapa kali). Dan ketika hendak menulis ulasan ini, berbagai perasaan dan pikiran (subyektif) yang muncul terkait sajak-sajak dalam DBJ. Selain pergulatan rasa, logika berpikir saya agak terganggu oleh sebuah uraian deskriptif Wahyu Wibowo tentang dua kelompok aliran kritik(us) sastra yang pernah muncul dan ada dalam sejarah dan belantika kesusastraan Indonesia. Yakni kritik(us) sastra aliran Rawamangun dan kritik(us) sastra aliran Ganzheit (bdk. Wahyu Wibowo dalam Katarsis, 1984: 45).

Dalam uraiannya, Wibowo membeberkan ‘klaim’ kebenaran dari masing masing aliran kritik sastra tersebut. Aliran Rawamangun yang beranggotakan akademisi Fakultas Sastra Universitas Indonesia yang menekankan objektivitas dalam kritik, sementara aliran Ganzheit memaklumkan prinsip subjektivitas sebagai cara yang paling jitu dalam melakukan kritik. Aliran Rawamngun menekankan struktur dan libisan yang membangun sebuah karya (strukturalis) sementara kritik dan penilaian sastra aliran Ganzheit terkontaminasi ‘susasana hati’ kritikus dan cendrung like and dislike. Landasan dan metode kritik menjadi perbedaan mencolok dalam kedua aliran ini. Wajar jika terasa dilematis ketika saya menulis ulasan ini.

Di atas dua aliran kritik sastra tersebut dan kecendrungan subjektif (saya) ketika mengapresiasi DBJ, melahirkan sebuah kesadaran untuk menulis ulasan ini dengan tetap berusaha seobjektif mungkin. Atas dasar kesadaran itu maka ulasan ini lebih bersifat apresiatif dari perspek estetika (walu sanagt longgar) serta dari perspektif pesan atau nilai (yang mungkin ditawarkan ketiga penulis DBJ) yang saya temukan lewat ‘bacaan atau penafsiran sederhana’.

Karena keterbatasan ruang maka yang pasti saya tidak mungkin membahas setiap sajak satu persatu tetapi secara garis besar saja. Sehingga tulisan ini selain sebagai bentuk apresiasi (terhadap penulis dan karyanya) juga pada bagian lain ulasan ini semacam pengantar agar pembaca memiliki pilihan posisi (rasa) ketika membaca DBJ. Kedua hal ini lebur dan tersirat dalam tulisan ini.

Cinta dan Rindu; Perpaduan yang Estetis

Di bawah payung evolusi dan tonggak-tonggak sejarah peradaban manusia, Franz Dahler (Teori Evolusi, 2011: 169-171) menandaskan bahwa seni (termasuk sastra)  pada mulanya menggambarkan ketenggelaman jiwa dan emosi seniman dalam alam. Bahwa karya seni (masa lalu) begitu akrab bahkan terpolarisasi dengan alam. Baik wujud-rupa-gerak maupun bunyian-berirama, segalanya tersembul dalam emosi dan nada yang disadari hingga yang tidak disadarai.  Namun, kini seni lambat laun mengemban tugas yang semakin berbeda dalam kehidupan manusia (tanpa mengabaikan keakraban dan pola purba di atas), termasuk kebebasan jiwa para seniman.

Walaupun demikian, seni dan estetika dalam setiap karya (baca: sastra) merupakan salah satu unsur penting dan dominan. Estetika tidak sebatas tentang keindahan berbahasa tetapi lebih mendalam soal gerak fisik dan gejolak emosi yang timbul-berirama, hingga tuaian pesan berberkas-berkas nan estetik ketika seorang mengapresiasi karya semisal puisi. Tentang itu Dahler memberi ingatan bahwa sebuah karya seni dikatakan indah,  berestetika dan bermutu ketika seni mampu menggugah dan membangkitkan emosi manusia (pembaca), dari fana-lahiria hingga rohania-spiritual bahkan emosi transenden manusia.

Perihal seni dan pengembanan tugasnya serta kebebasan jiwa seniman dalam berkarya, dapat dijumpai dalam DBJ karya tiga penyair Al Tandirassing, Ardyanto Allolayuk dan Flafiani Jehalu. Tidak hanya itu, ketika membaca kumpulan sajak DBJ, pembaca  dapat menemukan ilham murni tentang ketulusan cinta, hingga konflik yang bernama rindu diejawatakan dengan begitu lugas. Apa adanya. Nyata.

Perhatikan puisi pertama dari buku DBJ karya Al Tandirassing Dari Balik Juba untuk Theodora sebagai berikut:

Aku sudah jauh
Lupakanlah

Maka sisa cintamu yang dulu
Tuangkan dalam secangkir kopi
Untuk suamimu

(DBJ, hal. 1)

Membaca puisi ini, imajinasi pembaca spontan terpanjing. Mereka-reka. Theodora bisa jadi merupakan mantan pacar dari si Aku. Theodora mungkin sudah bersuami sementara si Aku, mmilih hidu membujang demi Kerajaan Allah (merupakan sebutan teologis untuk kaum berjubah, religius-biarawan yang hidup membujang dan berjanji untuk hidup miskin, perawaan dan taat). Hal mencolok lain dari puisi ini adalah penyair berhasil membentuk semacam suasana emosional yang runut dan logis.

Pembaca larut dalam lautan emosi. Luas, dalam dan bergelombang sekaligus membawa pesan moral yakni kesetian. Setia pada jubah bukan karena kungkungan aturan hidup membiara-hidup perkawinan yang dogmatis dan konstitusianal tetapi setia atas dasar hati nurani. Itulah yang dinamakan cinta sejati. Aku setia dengan jubh yang dikenakan, sementara Theodora pun wajib setia pada suami. Theodora, tuangkanlah cintamu itu (hanya) untuk suamimu. Perpaduan cinta dan rindu yang estetis ini juga dapat ditemukan dalam hampir semua puisi Al Tandirsing dalam DBJ misalnya pada puisi Dari Balik Biara Masih Untuk Theodora, Setia, Kita, Puisi untuk Masa Lalu, Sang Adam, Sesal Sang Jubah dan Aku Pergi.

Tidak jauh berbeda dengan Al Tandirassing, kepada para pembaca, Ardyanto Allolayuk pun melayangkan puisi-puisi senada. Kesenadaan atau kemiripan itu sangat terasa antara puisinya Al Tandirassing berjudul Dari Balik Juba untuk Theodora di atas dengan Puisi Untuk Mantan Kekasihku karya Ardyanto Allolayuk sebagai berikut:

Andai cinta itu masih ada
Basulah dia pada setiap derai hujan

Biarlah terlarut dan terkubur di
Kedalaman bumi yang terdalam
Agar para musafir cinta tidak
Menemukannya

(DBJ, hal. 63)|

Kalau dalam puisi Al Tandirassing berjudul Dari Balik Juba untuk Theodora, seolah mengandung makna kesetian tokoh aku dengan Tuhan dan Jubahnya-kesetiaan istri terhadap suami dan sebaliknya, Ardyanto Allolayuk melalui Puisi Untuk Mantan Kekasihku tersirat ajakan untuk mencintai kehidupan dan semesta. Membasu cinta dalam deraian huja, terlarut dan terkubur di kedalaman bumi yang paling dalam membawa pesan kemanusiaan kepada para pembaca. Mencintai sesama termasuk alam semesta dan segala yang hidup merupakan misi umat manusia, misi bersama. Atau dalam konteks Gereja Katolik melaui Dokumen Konsili Vatikan II Gaudium es Spes (GS), seluruh anggota Gereja diajak untuk tanggap dan terlibat dalam dunia dan realitas sosial seluruh umat manusia. Termasuk menjadikan alam sebagai saudara.

Bahwa sesama bukan musuh, tetapi sahabat, demikian juga dengan alam. Di titik ini manusia dipanggil untuk solider dengan yang lain. Gaudere cum gaudentibus, et fire cum fientibus (bersukacita dengan mereka yang bersukacita dan menangis dengan mereka yang menangis). Selain manusia mengasihi sesama manusia, alam pun patut mendapat porsi kasih, dihargai dan dilindungi. Alam diolah untuk hidup, bukan dimusnahkan atau dihancurkan. Dalam puisi itu, tampaknya penyair menayadari bahwa tugas manusia untuk mencintai sesama dan menjaga keutuhan alam ciptaan itu tidak muda. Butuh perjuangan sampai nafas terakhir seperti musafir yang mencari cinta sejati. Tidak kenal batas waktu.

***
Setelah membaca DBJ secara keseluruhan, pembaca dapat merasa dan berimajinasi seolah sedang duduk di depan sebuah panggung pentas. Semacam ada tokoh yang hidup, alur yang runut, berpuncak setelah membuat pembaca larut dalam emosi para tokoh dalam puisi-puisi itu. Kedua penulis pertama (Al dan Ardyanto) berhasil membentuk tokoh imajinatif yang merefleksikan cinta dari dalam biara, sementara penyair perempuan (Flafiani Jehalu), melalui puisi-puisinya tampak terampil dan serius membangun dan menghidupkan tokoh dan kisah imajinatifnya dari luar biara.

Dari permukaan atau kulit luarnya, puisi-puisi Flafiani terasa dan bisa saja dapat dimengerti sebagai curahan hati dan gejolak psikologis seorang perempuan ( si Aku)yang sedang jatuh cinta, mencintai lalu merindu (konsep tentang cinta dalam kalimat ini adalah cinta eros, cinta cinta seksual, cinta pria dan wanita sebagaimana konsep Plato dan Freud Dua Teori Tentang Cinta dalam Gerasimos Santas, 2002). Tetapi sialnya perempuan itu jatuh cinta, mencintai dan merindu pada orang dan tempat yang agak salah. Katakan saja mencintai seorang frater (berjubah) di balik tembok biara. Perhatikan puisi di bawa ini.

SEDERHANA

Sederhana itu tidak berbelit
Tidak basa-basi
Santai namun santun
Maka biarkan aku tidur dengan
Sederhana malam ini
Sembari memikirkanmu

(Flafini Jehalu, DBJ, hal. 71)

Masih dari permukaan, tampak tokoh imajinatif aku (yang feminim) tidak hanya jatuh cinta pada  kau (yang maskulin semisal Frater, Kaum Berjuba, Adam maupun Marcelino) tetapi kadang tampak keduanya (baik yang feminim maupun yang maskulin) berada dalam satu rasa dan suasana yang sama. Mereka sama-sama jatuh cinta dan saling merindu. Coba perhatikan puisi berikut:

KEGAGALAN

Pernah sekali
Kamu berkisah tentang kaum berjubah
Tentang ikrar atau sumpah mereka
Apakah tak boleh jatu rasa
Apakah tak boleh jatuh suka
Jika memang begitu, mengapa aku harus jatuh hati padamu?

Di sini aku kembali menikung
Melepas jejak dalam sesat
Memandang dalam jarak
Agar bisa menuai celah
Menyapa dalam rindangnya rasa yang mungkin salah
Menemukan sobekan cerita pada gereja tua
Tempat pertama kita bertemu
Kini, ku coba belajar memahami
Perasaan yang kian melarut ini bukan dosa
Yang harus kupikul sepanjang jejakku
Maka jadilah aku sejarahmu

(DBJ, hal. 66)

SURAT KECIL UNTUK MARCELINO

Kau tahu,
Kau baru saja meninggalkan cinta
yang sekian lama kau pertahankan
Namun, kau tetap pergi
Meskipun hatimu tercabik-cabik sembilu
cinta
Katamu luka pasti sembuh
meski meninggalkan bekas
Saat kau datang padaku
Lukamu malah semakin berdarah
Lukamu masih lembab
Cinta belum mati dari memorimu
Cinta adalah kenangan di hatimu
yang kau biarkan luruh di mataku

(Falafiani Jehalu, DBJ, hal. 84)

FRATER

Senyumnya gugup
Matanya merunduk
Bergenit ria dengan tanah dan kalimat
Padahal kosong
Napasnya tersenggal
Mengapa? Ada apa?
Detak jantungnya tiba-tiba mengeras
Kehilangan kata
Ketika ku sapa “frater”

(Flafiani Jehalu, DBJ, hal. 72)

Dan beberapa judul puisi lain seperti Mengenang, Bila Hati Bertutur, Pulanglah dan Mencintaimu.

Keika diselami lebih dalam ketiga puisi Falfiani di atas (dan beberapa puisi lain karya Flafini dalam DBJ), pembaca akan menemukan bahwa, puisi-puisi tersebut tidak hanya berbicara sebatas tentang ungkapan perasaan dan lukisan pengelaman jatuh cinta dan mencintai maupun saling mencintai ala remaja atau anak muda. Tetapi lebih jauh dari itu, Flafiani melalui puisi-puisinya hendak berbicara kepada pembaca soal hakekat kaum muda serta hubungan cinta antara manusia dengan  sesama, hubungan dan ungkapan cinta antara manusia dengan Tuhan. Misalnya dalam puisi Kegagalan, si Aku tampak mengakui dengan jujur soal pengelaman jatuh cintanya pada orang yang tidak seharusnya ia miliki secara pribadi kelak (perhatikan juga puisi Surat Kecil Untuk Marcelino dan Frater). Pengelaman ‘kesalahan’ mencintai itu tidak membuat si Aku secara serta merta menyesal dan putus asa tetapi di akhir puisi si Aku mengungkapkan keiklasan serta kebangkitannya untuk menerima hal tersebut (mencintai seorang yang tak mungkin ia miliki) sebagia sebuah pengelaman, sebuah sejarah hidup. Selain dari pengelaman itu si Aku belajar untuk bagaimana mencintai dan menerima konsekuensi, namun pada saat yang sama/serentak ia mengakui bahwa ‘mencintai’ seperti itu bukan dosa. Cinta adalah perasaan yang terberi, bukan produk mandiri-individual manusia.

Tentang orang muda dan urusannya dengan perkara mencintai, Flafiani secara implisit (dalam puisi-puisinya), mengungkapkan bahwa orang muda adalah manusia yang di depannya terbentang harapan dan masa depan. Bahwa orang muda adalah semacam medan dengan serba kemungkinan, yang biologis dan psikologis. Di balik penerimaan diri (termasuk pengelaman cinta) seorang anak muda, terkandung seribu satu macam hasrat dan cita-cita (bdk. John Dami Mukese, menjadi Manusia Kaya Makna, 2006: 30-42). Ada harapan, hasrat dan cita-cita itulah yang mendorong dan menggerakan seluruh kemampuan, bakat dan cita-citanya dalam  diri orang muda untuk menyongsong masa depan.

Hal lain yang mencolok dalam puisi-puisi Flafiani adalah bagaimana Tuhan dan tempat-Nya dalam setiap pengelaman para tokoh imajinatif puisi (bandingkan puisi MencintaiMu, Doa, Larutkan Aku dan Jejak Gerimis). Tersirat bahwa ada kesadaran dari dalam diri penyair bahwa dalam pengelaman apa pun, enta itu suka maupun duka, tawa atau air mata, manusia memiliki sisi spiritual. Sisi spiritual itulah yang mendorong manusia untuk menyadari peran dan kehadiran Tuhan dalam setiap pengelaman manusia. Mungkin karena hal ini jugalah yang menjadi spirit dan kekuatan bagi para tokoh imajinatif untuk menerima pengelaman cinta mereka serentak bangkit dan tegar dalam menatap masa depan.

Kebebasan Jiwa dan Berpuisi di Ruang Publik (sebuah Kesimpulan)

Selain estetika dengan paduan logika (diksi, konsep dan alur) yang sarat makna, gejolak emosi yang mencuat, imajinasi yang tersembul dan beterbangan, puisi-puisi dalam DBJ pun sanggup menampakan apa yang dinamakan Franz Dahler sebagai kebebasan jiwa para seniman. Hal menarik dari kebebasan jiwa para seniman (khususnya ketiga penyai DBJ) adalah bagaimana keberanian mereka (melalui puisi) menampilkan hal-hal yang oleh Jurgen Habermas disebut ruang privat ke hadapan publik. Mengapa doa dan urusan di dalam biara, kisah cinta para tokoh yang sebenarnya hal-hal privat digelorakan di depan banyak orang, ruang umum? Mengapa hal-hal itu tidak dibiarkan saja diam di catatan harian pribadi, di balik tembok biara atau di dalam saku jubah?

Tidak. Karena besar kemungkinan, ketika penyair memiliki keyakinan bahwa cinta, rindu hingga pergulatannya merupakan pengelaman yang oleh kebanyak orang bijak menyebutnya sebagi guru yang baik.. Kesadaran yang berikut adalah bahwa pengelaman yang adalah guru yang baik itu tidak semata milik individu semata tetapi patut dibagikan sehingga dari itu semua orang boleh menimba pesan dan hikmat. Kalau guru yang baik, baiklah jadi guru bersama. Bahwa mencintai itu bukan soal urusan hati yang bersifat privat, tetapi juga bermuatan sosiologis hingga transenden-spiritual, yang mana hal itu penting bagi umat manusia di zaman post modern ini. Berbagi dan belajar bersama tentang bagaimana cinta dan kesetiaan itu dibangun, tentang bagaimana senyum dan air mata dimaknai, tentang bagaimana masa depan itu ditatap dan disongsong.***

 


Yohanes Berchemans Ebang (Hans Ebang), Lahir di kampung Lewopenutung, Lembata, NTT. Penikmat Sastra di Komuniatas KUPAS. Petugas kebersihan di Perpustakan Misi St. Yosef Freinademetz Kupang. Tinggal di Jalan Bundaran PU, Gang TDM IV Oebufu, Kupang

5 KOMENTAR

LEAVE A REPLY