RASA SAKIT, MOTIVATOR TERHEBAT, Catatan Rini Jurman

1
329

*) Rini Jurman

Banyak orang yang mengatakan bahwa motivator adalah orang tua, motivator adalah impian, motivator adalah pembicara dan lain sebagainya. Ia itu tidak salah. Tapi bagi saya saat ini motivator terhebat dan paling utama dalam hidup saya adalah rasa sakit. Rasa sakit tidak perlu dihindari, tidak perlu putus asa, tapi kita harus bisa menerima hadirnya dengan senyum karena rasa sakit tidak abadi dalam diri kita.

Saya  pernah bermimpi menjadi seorang penulis, saya sering mencobanya tapi selalu kandas di tengah jalan. Awal saya belajar menulis adalah ketika saya jatuh cinta pada seseorang.  Banyak cerita pendek yang hanya sampai pada klimaksnya saja, puisi-puisi yang hanya satu kalimat saja tersebar sembarangan di kertas tanpa penyelesaian yang jelas. Karena saya hanya betah selama lima sampai sepuluh menit saat penaku berlabuh di atas kertas putih. Sebenarnya itu tak menjadi masalah, hanya saja saya kurang memanfaatkan waktu itu dengan baik. Kadang saya kehabisan ide untuk menggambarkan perasaan saya saat itu, saya terlalu mengaguminya, saya pun tak sanggup berkata-kata. Impian menjadi seorang penulis pun hanyut terbawa arus gejolak asmaraku saat itu.

Mimpi itu kembali mengoyak jiwaku, saat guru besarku “Rasa Sakit”, bersarang di otak dan pikiranku saat itu. Aku lebih banyak diam, ia saat itu aku sedang patah hati. Berbagai cara saya lakukan untuk menghindar dari rasa sakit yang mengganggu pikiranku, itu hanya bisa bertahan dalam hitungan menit. Hingga aku temukan cara jitu untuk menghapus sedikit luka yang bersarang pada diriku. Aku mencoba menulis. Aku cukup menulis apa yang aku pikirkan. Mengenai bagus dan tidaknya aku bisa memperbaikinya di kemudian hari.  Sejak saat itu penaku menjadi betah berlabuh. Lembaran putih menjadi sahabat yang setia mendengar ocehan hatiku. Aku tak perlu lagi butuh waktu untuk memikirkan kata-kata yang puitis, karena semuanya mengalir begitu saja dalam otakku. Aku tak perlu lagi mencari waktu kosong untuk bisa betah menulis, dan akupun tak perlu lagi mencari inspirasi tentang tulisanku karena semuanya ada dalam diriku. Sejak saat itu aku lebih banyak waktu untuk menulis. Puisi dan cerpen yang dulu rumpang kini sudah dilengkapi. Puitis tapi menyakitkan itu tak menjadi masalah.

“Ucapkan terima kasih pada orang yang telah menyakiti Anda karena sesungguhnya ia telah berjasa membentuk diri Anda”


Rini Jurman, mahasiswa Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra di Universitas PGRI Adi Buana Surabaya. Alumni SMAK St. Fransiskus Saverius Ruteng.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY