SIANG ITU DI RSUD RUTENG, Cerpen Genoveva Emerensi

2
4479

*) Genoveva Emerensi

Siang itu langit tampak mendung. Udara pun berwarna kelabu. Dari kejauhan, pegunungan Golo Lusang yang nampak di depan kota dingin itu dirimbuni dengan berbagai pepohonan hutan berwarna kelabu hitam. Antara sebentar terdengar cericip burung pipit yang kedinginan di teras Rumah Sakit itu. Karena muramnya hari, serta mendung kelabu yang menyelubungi alam, gunung itu pun tampak hitam, dan di sana sini langit kota dingin itu digurisi segumpalan mega yang kelabu keputih-putihan.

Suasana alam hari itu seirama dengan suasana hatiku. Betapa tidak, hari itu aku bertandang ke Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Ruteng, di Ruang Anggrek yang khusus merawat pasien anak. Mataku terpaku pada ujung koridor ruangan itu yang dipenuhi pasien anak-anak. Ada empat orang anak balita terbaring lemah di atas empat tempat tidur yang berjejer. Diantaranya adalah seorang bayi berusia sekitar 1 tahun 6 bulan dan sedang tertidur pulas di dalam kain ayunan yang digantung di sisi tempat tidur rumah sakit itu. Dari raut wajahnya aku melihat ia begitu lemah. Tampak tubuhnya kurus kering dan luka koreng terlihat di sekujur tubuhnya. Di sampingnya, dengan setia seorang nenek tua renta menemaninya sambil tertidur pulas.

Tergerak oleh rasa belas kasihan, apakah anak-anak itu sudah mendapatkan perawatan yang semestinya, aku pun memutuskan menemui dokter Direktur Rumah Sakit Umum Daerah itu.
“Siang bu dokter. Bagaimana penanganan medis pasien anak atas nama Josua.” ucapku tanpa basa basi.

Aku mengetahui nama itu dari papan status pasien yang digantung di ujung kaki tempat tidur anak itu.
“Maaf bu, saya harus panggil dokter Kepala Bidang Pelayanan Medik dulu,” jawab dokter Sinta ketus.
“Kring….kring….,” dokter Sinta menekan bel di ruangannya. Sesaat kemudian, sekretaris pribadinya muncul. Ia pun disuruh dokter Sinta untuk segera memanggil dokter Vianey, Kepala Bidang Pelayanan Medik di Rumah Sakit itu agar segera menghadapnya di ruang Direktur.
“Bu dokter, bagaimana kondisi pasien anak atas nama Josua dan bagaimana penanganan medisnya,” ucap dokter Sinta sembari memberi kesempatan kepada dokter Vianey untuk menjelaskannya padaku.

Begini bu, ungkap dokter Vianey, sebelumnya Josua kami perlakukan sebagai pasien anak umum yang mengalami diare. Setelah ditangani dengan standard pengobatan dan penanganan pasien anak diare, kondisi Josua tak kunjung membaik. Kami pun mendapati hal yang sama dialami ibu dari anak ini.

“Atas dasar itu, kami pun merekomendasikan ke pihak keluarga agar dilakukan pemeriksaan lanjutan di Klinik VCT di rumah sakit ini. Setelah dilakukan pemeriksaan darah, Josua dan ibunya dinyatakan positif HIV,” ungkap dokter Vianey.   
“Bagaimana mungkin anak seusia Josua bisa tertular HIV bu dokter?” ucapku terkejut dan bertanya.
“Begini bu, Josua mengidap HIV karena tertular melalui Air Susu Ibu (ASI) yang juga sebelumnya sudah positif HIV. Sebetulnya hal ini bisa dicegah jika sejak dini di masa kehamilan, status HIV Ibu Josua diketahui positif lebih awal, maka kami pun pasti akan menyarankan agar mereka dilahirkan dengan cara operasi Cesar dan sejak dini tidak diberi ASI tetapi diberi susu formula,” terang dokter Vianey.   

Aku pun melanjutkan pertanyaan.
“Bagaimana dengan penanganan medic terhadap Josua serta ibunya bu dokter,” ucapku.
“Oh iya bu. Soal penanganan medic, pasien anak HIV kami pisahkan dengan pasien ibu HIV. Josua kami tempatkan di ruang anak di Anggrek, dan ibu mereka di ruangan penyakit dalam untuk orang dewasa di ruangan Melati,” terang dokter Vianey.

Masih belum puas dengan jawaban dokter Vianey aku terus mengikutinya dengan sejumlah pertanyaan lain layaknya seorang penyidik yang sedang memeriksa calon tersangkanya. Aku pun menanyakan soal ketersediaan obat ARV yang mesti dikonsumsi pengidap HIV. Sebelumnya aku tahu, di rumah sakit ini manajemen obat untuk ODHA (orang dengan HIV AIDS) sangatlah buruk, entah karena alasan sistem pelaporannya atau alasan lainnya. 

“Untung kami masih punya buffer stock ARV bu. ARV tersedia cukup untuk satu bulan ke depan. Hanya obatnya dalam bentuk tablet. Belum ada ARV dalam bentuk syrup yang bagus untuk anak-anak. Terapi ARV sudah mulai kami berikan sejak kemarin untuk keempat pasien HIV yang sedang dirawat di sini bu.” terang dokter Vianey menutupi percakapan kami siang itu.

***

Aku memutuskan kembali ke Ruang Anggrek hendak menemui nenek tadi. Merasa ada yang mendekatinya, nenek tua itu menoleh lalu tersenyum kearahku. Aku pun mendekati nenek tua itu dan mengajaknya bicara.
“Permisi Nek, si kecil sakit apa?” tanyaku membuka percakapan.
“Nenek tak tahulah nak, mamanya juga sedang sakit dan di rawat di ruang Melati. Ayahnya yang menemani. Hanya beberapa minggu terakhir cucuku ini mengalami diare berkepanjangan, mungkin itu sebabnya ia menderita. Susah pikiranku nak.” ucapnya bermuram durja, sembari terus mendorong ayunan itu.

“Berapa kali sehari si kecil diare Nek.” ucapku.
“Sehari, cucuku buang air besar lebih dari sepuluh kali, nak,” jawabnya.
“Berat badannya berapa,” tanyaku lagi.
“Berat badannya 6 kilogram nak, sebelumnya 12 kilogram,” jawabnya ketus.

Sesekali raut wajah bayi itu terlihat hendak menangis.  Mungkin karena tak sanggup menahan perutnya yang sakit.
Nenek tua itu kemudian aku kenal bernama Winarsih. Ia mengaku tidak tahu harus berbuat apa, karena saat itu,  anak perempuannya Mira yang adalah ibu Josua, juga sedang dirawat di Rumah Sakit yang sama di Ruangan Melati. Markus suaminya menemaninya.
Aku pun tertegun, namun tetap dengan empati yang mendalam mendengar kisah nenek Winarsih asal Surabaya, Jawa Timur itu.
“Sudah dua tahun aku menetap di Labuan Bajo bersama anak semata wayangku Mira yang mengikuti suaminya, Markus, pria asal Labuan Bajo,” kisahnya.
Merasa nyaman berbincang denganku, Nenek Winarsih pun meneruskan ceritanya.
“Baru seminggu ini kami tahu Josua, buah hati anakku Mira dan suaminya Markus dinyatakan positif HIV. Nenek tak mengerti nak, sakit apa ini. Nenek hanya bisa pasrah,” ungkapnya lirih.

Sejak berusia satu tahun, Josua sudah bolak-balik sakit dan dirawat di Puskesmas Labuan Bajo. Sebelumnya, pihak keluarga mengira Josua menderita sakit akibat disantet, sehingga ia berkali-kali di antar ke sejumlah dukun. Namun ketika Yosua batuk terus-menerus dan tubuhnya semakin kurus, ia pun diantar ke dokter di Puskesmas Labuan Bajo, dan di sana Josua dinyatakan menderita paru-paru.

Tujuh kali Josua harus keluar masuk Puskesmas Labuan Bajo, ibunya pun demikian. Hingga akhirnya, sekitar satu minggu lalu, mereka dirujuk ke RSUD Ruteng.
“Atas rekomendasi dokter. Di sini mereka bertiga diperiksa darahnya, ternyata cucuku Josua, dan anakku Mira dinyatakan positif HIV. Sedangkan bapaknya, Markus dinyatakan negatif.  Nenek sangat sedih, nak. Dunia rasanya mau runtuh,” kisah Winarsih siang itu di pendopo RSUD Ruteng.
Begitu Mira mengetahui bahwa ia positif HIV, ia frustrasi dan tak percaya. Kondisi kesehatannya pun mengalami penurunan secara drastis.
“Mira menderita diare, dan kulitnya gatal-gatal sampai berdarah,” kisah Winarsih.

Di rumah sakit ini, Winarsih bersama Markus terlihat sibuk membuatkan susu untuk Josua, yang harus diberikannya setiap tiga jam sekali, dan oralit setiap Josua selesai buang air besar.
Markus adalah seorang buruh tani sayur di Labuan Bajo, dan juga sesekali merangkap buruh pelabuhan. Dia baru menikahi Mira 2 tahun yang lalu. Pada saat pemeriksaan darah seminggu yang lalu, Markus dinyatakan negatif HIV. Markus adalah suami kedua Mira. Suami pertama Mira, asal Surabaya sudah meninggal tiga tahun lalu.

“Dulu suami pertama Mira bekerja di Kalimantan dan pulang setahun sekali. Tiga tahun yang lalu sebelum meninggal dunia, suami Mira sakit namun tidak diketahui apa penyakitnya. Dari suami pertama ini, Mira sudah memiliki dua anak yang sudah duduk di kelas 3 SMA dan kelas 6 SD.  Anak-anak yang sudah besar itu belum diperiksa darahnya, karena ibunya sedang sakit. Bagaimana kedua anak itu, apakah mereka akan positif juga atau tidak? Mudah-mudahan tidak ya Allah,” tutur Winarsih.

Selain Josua, di ruang yang sama dengannya itu juga terdapat Rama, bayi berusia 1 tahun 6 bulan.  Rama ditemani neneknya. Sama seperti ibu Josua, ibu Rama juga sedang dirawat di rumah sakit itu. Dia baru mengetahui statusnya yang positif HIV setelah dites bersamaan dengan anaknya Rama.

***

Enam tahun kemudian, Josua memasuki Sekolah Dasar (SD). Ia terlihat sehat layaknya anak-anak seusianya berkat ARV yang ia minum secara rutin.
Josua tidaklah sendiri. Masih ada dua belas anak lainnya yang mengidap HIV di daerahku.  
“Mereka menjadi generasi yang tersandera virus HIV. Mereka harus dibantu dan dirangkul agar mereka merasa diterima dan dihargai,” gumanku membatin.
Sejak saat itu sosok Josua begitu menginspirasiku dan menggerakkan hatiku untuk terlibat langsung dalam advokasi masalah HIV/AIDS bagi Anak Dengan HIV AIDS (ADHA). Aku pun mendirikan rumah singgah bagi anak dengan HIV/AIDS dan terlibat aktif dalam program komunikasi, informasi dan edukasi tentang HIV AIDS.
“Semua ini terjadi berkat perjumpaanku dengan Josua, siang itu di RSUD Ruteng.”


Genoveva Emerinsi, alumni STKIP St. Paulus Ruteng

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY