LAUT, SENJA DAN RINDU, Kisah Sityi M. Qori’ah

0
565
*) Sityi M. Qori’ah

Sejak sembilan bulan lalu, temanku adalah laut dan senja selain gunung dan daratan. Sebenarnya, aku tidak bisa menikmati keindahan bawah laut dengan senja yang mengatapinya, karena aku tak pandai menyelam kedalamannya. Laut dan senja adalah misteri terindah.

Tapi, ketika itu, ketika aku berkenalan dengan laut, akhirnya aku menjadi pengagumnya. Aku mengagumi warnanya, pantulan senja dan semua keindahannya. Oh ya, tentang senja yang mewarnai tubuh laut misalnya, aku tak dapat melukiskan dengan kata. Hanya mata hati yang bisa membahasakan keindahannya.

Entah menapa, menikmati senja di tepi laut meskipun tidak ditemani seseseorang pun,  aku seperti mengalami keramaiannya. Mengalami gemuruh. Mengalami degubnya. Sama halnya dengan menikmati perjalanan seorang diri yang ditemani beribu-ribu mimpi.

Bisa jadi karena aku ditemani sang pemilik senja sepenuhnya. Aku merasa dekat dengan-Nya, sehinga harus aku berkali-kali ucapkan tasbih. “Betapa sempurna anugerah-Mu” Aku membantin. Resah dan bahagia sekaligus pada ketika itu pun larut di bawa malam. Yang tertinggal dalam bayang adalah semesta indahnya.

***
Senja dan laut terbaik ada di Labuan Bajo-Manggarai Barat. Sesuatu anugerah yang dengan leluasa bisa dinikmati oleh siapa pun. Bagiku inilah surganya senja. Sebab, aku tidak hanya dibuai dari batas ombaknya, tetapi juga bisa melempar pandang dari langit bukit. Laut tampak begitu dekat. Senja tampak begitu menyapa.

Di Labuan Bajo, aku, lagi-lagi aku dibuat terpesona dengan warna jingganya. Anganku ingin memanggal Matahari dan kubawa pergi. Tetapi semuanya kusimpan dalam diam, menyimpanya bersama resah dan bahagia sekaligus. Bersama Sesuatu yang tak tuntas kutumpahkan. Selain hanya kepada-Nya.

Tentang semuanya itu, aku jadi teringat dengan Diskusi Senja, barisan lirik lagu fourtwnty  yang selalu menemani kerja dan sendiriku:

lepaskanlah apa yang kau rasa
jingga menyala warna langitnya
saat senja saat senja memanjakan kita

duduk bersama

diskusi rasa
saat senja saat senja
bertukar cerita

ceritakan masalahmu teman
lepaskanlah apa yang kau rasakan

masih disini
dan tetap disini
lewati senja
berganti malam
diskusi sampai di sini

jangan tenggelam
di dalam masa-masamu yang kelam
dan percayalah
roda pasti berputar
cahaya terang datang

aku di sini
tempat berbagi
saat senang saat susah

ku tetap di sini

***
Itulah senja dan laut, pada suatu ketika di Labuan Bajo. Tentang semuanya ini, aku selalu percaya bahwa sang pemilik senja akan selalu menemani dan tidak akan pernah meninggalkanku. Ia menjawab keresahan, sekaligus memberi senyum kepada kebahagiaanku.

Ketika aku menjadi pengagum laut dan senja, aku selalu berdoa, semoga sore yang entah kapan tibanya, aku bisa menikmati senja tanpa lagi sendiri. Semoga sang pemilik senja dapat hadirkan dia yang selalu kurindu. Agar bersama-sama kami, menikmati ombak, bercermin pada jingga matahari barat, tumpahkan resah, senyumkan kebahagiaan, dan menyelami kedalaman lautan misteri. Sepenuh-penuhnya.*)


Sityi M. Qori’ah, adalah gadis kelahiran Garut Jawa Barat, sementara ini bekerja sebagai peneliti pada sebuah lembaga Penelitian di Bandung. Perjalanannya ke Labuan Bajo, suatu ketika, memberinya inspirasi menulis kisah reflektif ini. Sityi, demikian ia biasa dipanggil adalah juga penikmat seni dan suka menulis kisah-kisah perjalanan. Jika ingin bersua dengannya, silahkan kunjungi  laman blognya wadahruntah, https://tempatsampahsite.wordpress.com/

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here