MASIH IA BERPACU, Sajak-Sajak Amonius Wattson Hamsah

3
2148

*) Amonius Wattson Hamsah

SENYAP DALAM DERITA

Karena sepi, kau beradu pada pekatnya malam.
Kau gaduh seperti gemuruh menghojat nista.
Entah kelam apa yang kau lihat
di langit pucat-pasi sehabis mendung
yang terbawa gerimisnya hujan.

Ah, jika saja kau punya satu ucap
yang bisa kubawa pada bakanya kematian.
Hanya saja semua senyap dalam derita.

Rumah Camillian Maumere, Indonesia 25.05.2016

MASIH IA BERPACU

Tapak memijak,
seberkas wajah dengan raut menalam senja
masih saja Ia berpacu dalam derita.

Maut menantiNya,
namun tak sanggup meminang tubuh duka penuh luka.
PijakNya tetap membeban di atas pundak takhta neraka.
Menyapu setiap tempik sorak durhaka
yang meminta raga dipasung di atas langit senja.

Rumah camillian maumere 14.04.2016

RUMOR KUNANG-KUNANG MERAH

Bara para pertapa berdoa.
Menghembus resah tanpa keluh kesah.
Tuk apa kau tilang dukamu pada simpang tak pasti?
Lurus tak mungkin mulus,
lekuk pun tak pasti bengkok.

Hanya saja jika kau ceritakan semua kisah pada basah embun pagi.
Atau desah saja kalau memang kau hanya sanggup berpasrah,
atau mungkin teriak saja seperti sorak badai
hingga sepi tak lagi bisu!
Atau kau hanya ingin diam?
Bungkam saja ceritamu dalam semadi!

Biar hembus kabut kunang-kunang merah yang tak bergeming
bersama bara yang masih saja berkisah.
Merayap hingga padam walau tak habis.
Hingga nyalanya terbenam bersama jiwa
yang tersesat di simpang luka.
Terkubur dalam raga

Ruteng 05.06.2016


Amonius Wattson Hamsah, Mahasiswa STFK Ledalero. Biara St. Kamilus Maumere

3 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here