SEJAK KUTULIS SAJAK ITU, Sajak-sajak Achmad Fathoni

0
167

*) Achmad Fathoni

Tutur Doa Tentang Kematian

perlu kita menilai mana yang sedang kembali
dan mana yang sedang ingin kembali sendiri
tentang kematian yang tak akan pernah di ucapakan dalam doa
serta kerinduan pada tuhannya yang menjadi sebuah mimpi
saat debur ombak menerpa, menghempas daun-daun rasa yang manis
dengan segala rasa yang tak pernah di nikmati samudra hindia
sedangkan nama yang sedang kami tuturkan dalam doa adalah suci
dan demikianlah semua berakhir, menjadi debu pada karamnya jiwa

perlu kita tuturkan sekali lagi
tentang doa-doa yang tak pernah menyebut mati
atau tentang keringnya matahari saat pukul 09.00 pada hari libur
dari tempat belajar kami, sungguh harus kita menilai kembali
tentang mati yang tak pernah disampaikan tuhan pada ciptaannya

Perputaran Roda

roda-roda masih berputar menemukan ujungnya
tapi sebenarnya tak pernah ada ujung bagi
selanjutnya pulang, bersamamu
sebab terlalu malam dan dingin
air mata sudah pergi dari rasa
dan pulang bersama hujan dan malam
lalu roda-roda mencari sepi
bukan lagi ujung, sebab tak bertemu lara
bersamamu saat pagi datang, kau tahu
air mata menyepi, diam tak lagi bicara
menahan sebuah warna tentang langit pagi
yang bersinar sebab malam sudah terlalu jauh pergi
lalu pagi, mari temani sebuah sepi

Sejak Kutulis Sajak Itu

sejak sebuah sajak terbuat dari tanganku
hanya ada bunga-bunga berhamburan di kepalaku
sudah seminggu yang lalu aku menemuimu
sampai hari ini belum datang sebuah rindu
sudah kutemukan siapa yang kusapa dulu
namun sejak sajak terbuat dari tanganku
aku hanya mengenal sebuah nama yang tak mengingatku
dulu, saat masih bertemu
saat tatapan mata itu kau suguhkan
layaknya wewangian yang menyapa malam
seperti saat kunang-kunang membentang
di bola-bola mataku dan kau ada di antaranya

Ada Sebuah Rindu

ada sebuah pertandingan malam ini
mempertemukan kubu merah dan putih
sebuah warna yang tak dapat satu
dalam waktu dekat atau lama
semua tak dapat seperti itu

ada sebuah nama yang sedang ditandingkan
memepertemukan kubu-kubu yang belum sempat merindu
dalam waktu dekat tetap begitu
sampai berakar pun tetap sama
selalu seperti itu, adalah rasa yang tak pernah menyatu

 


Achmad Fathoni, mahasiswa aktif Universitas Negeri Malang yang gemar menulis cerpen dan puisi. Menghimpun sendiri karyanya dengan sederhana dan juga puisi-puisinya sempat mampir di beberapa media cetak daerah. Aktif menjadi anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Penulis

 

 

 

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY