Malam Puisi Kota Ruteng: Sebuah Catatan

0
436

*) Ezra Tuname

Malam Puisi Kota Ruteng merupakan sebuah mata acara Komunitas Sastra Hujan, Ruteng, yang mencoba menjadi puisi sebagai kayu yang membakar kata dingin. Boleh jadi, Malam Puisi Kota Ruteng menjelma api unggun di tengah kota yang berhujan dan dingin. Kota tidak saja bercuaca dingin, tetapi kian sepi sebab para penyairnya selalu berkelambu dalam sepi. Malam Puisi Kota Ruteng telah hadir dengan merobek kelambu pada ranjang penyair, sembari membuat api di halaman rumah. Lalu penyair keluar membaca pusakanya masing-masing: kata.

Malam Puisi Kota Ruteng sudah berlangsung dan sudah selesai. Tetapi puisi tidak pernah menjadi abu di situ. Puisi selalu menjadi asap yang terbang dalam ruang kata dan imajinasi. Puisi tetap hangat dalam tiap perikehidupan sosial. Di sana, puisi menarik hiruk-pikuk dunia dan menyimpannya dalam sepi. Tetapi, Malam Puisi Kota Ruteng mencoba menaruh puisi dalam riak-riak sosial yang ramai. Karenanya, selalu ada interpretasi pada puisi yang dibacakan di acara itu.

Puisi bukan permainan kata-kata. Puisi bukan mempermainkan kata. Sastrawan dan cerpenis Budi Darma pernah menggariskan kalimat sinistik kepada penyair. Katanya pengarang “Orang-Orang Bloomington” itu, “orang bisa jadi penyair kalau ia sedang jatuh cinta.” Ya, mungkin saja, sebab bau-bau romatisme seringkali mencemari kata ketika seseorang bahagia. Puisi jadi “muslihat” yang paling memabukan dan mendramatisasi perasaan cinta. Tetapi itu sah-sah saja. Itu manusiawi. Tetapi belum tentu ia seorang penyair. Kepenyairan seseorang lahir dari perjalanan panjang. Penyair lahir dalam waktu yang panjang dengan memahat bongkahan batu menjadi “patung” syair yang manis. Di sana, ada keringat, memar dan darah.

Pada Malam Puisi Kota Ruteng, penyair dan pecinta sastra bermain keringat di remang dan dingin kota. Acara ini pertama bagi Komunitas Sastra Hujan, tetapi mereka telah ikut memberi tanda dalam timbunan sejarah sastra di Ruteng, tanah congka sae. Dari Manggarai, sudah pernah ada sastrawan dan (juga) penyair, tetapi generasi muda Manggarai hendak mengikuti jejak sekaligus merayakannya. Ada nama Dami N. Toda yang mengukir sejarah di belantika sastra nasional, dan adik-adik muda Manggarai ingin melebarkan kecintaannya akan sastra. Opa Gerson Poyk pernah menggariskan penanya seputar Manggarai, maka biarlah kini anak kadung tanah nuca lale menuliskannya.
Publication3
Tentang nuca lale tidak berarti penyair dan sastrawan muda Manggarai bersenang hati bertudung pada primordialitas dan ke-lokal-an. Di bawah naungan langit Gunung Ranaka, penyair dan generasi muda sastra Komunitas Sastra Hujan juga merayakan nilai-nilai universal dalam bait-baik puisi, dalam babak-babak cerpennya. Karena puisi adalah bahasa kebenaran, maka dalam setiap bait puisi perlu berkubang dalam nilai-nilai universal itu. Sebab penyair tidak ditahbiskan oleh dunia, penyairlah yang mentahbiskan dunia.

Pada langit kota yang terus mendung, Komunitas Sastra Hujan mencoba terus tumbuh dalam dunia kesusastraan. Dari kota Ruteng mereka mengabarkan kepada dunia, bahwa sastra terus menjadi santapan paling higienis penghilang beku dan kaku hidup. Puisi menjadi buah paling ranum untuk mengatur irama langkah sekaligus memberi makna dalam kehidupan. Mungkin melalui puisi, Komunitas Sastra Hujan sedang mengukur peradaban.

Komunitas Sastra Hujan bagai bunga yang sedang hendak mekar. Mereka ingin tumbuh dalam peradaban dan (juga) mengisi peradaban. Bukan hiperbol, tetapi sungguh dalam kesungguhan mereka berkarya, berkreasi dan berimajinasi. Melalui kata, penyair bebas berbeda, bikin kata dan punya harapan. Karena puisi dengan bahasa, maka penyair ikut membela bangsa melalui kata; penyair ikut mencintai negeri melalui sajak dan syair.

Malam Puisi Kota Ruteng adalah aktivisme kata. Di sana, malam berubah jadi api; kata jadi bermakna; puisi jadi berisi; kota jadi beradab; Ruteng jadi tanda. Penyair dan pecinta sastra, tua dan muda, berkumpul berkumpul bukan saja berpuisi tetapi juga memuisikan hidup dalam hidup. Puisi yang selalu lahir dari rahim sepi selalu diunggah dan menggungkapkan suka, duka, resah pun rindu. Ketika penyair menulis tentang kopi, mereka tidak saja bicara tentang hangat dan lezat kopi, tetapi juga tentang ketidakadilan pada alur dan lajur perjalanan kopi dari desa ke kota. Bahwa penyair harus jujur pada apa yang mereka kecap dan rasa.

Pada tanggal 26 Juni 2016, di malam hari, puisi-puisi dibacakan. Setelahnya kita berharap, puisi tidak saja dibacakan tetapi dihidupi. Sebab kata-kata hanya akan terbang dan hilang bila tidak dihidupi dan ditulis kembali. Akhirnya, mari berpuisi dan bersastra. Dengan berpuisi hidup akan lebih indah, bukan?

Selamat berkreasi dan terus berkarya Komunitas Sastra Hujan.

Ruteng, 2016
13438963_10204706462459952_9033169456187729560_n
Keterangan: Foto ilustrasi/doc. Fb/Marsel Ruben Payong/Komunitas Sastra Hujan


Ezra Tuname, redaktur floressastra, penulis dan penyair, menetap di Ruteng.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here