DU’A BUHU GELO, Catatan Yohanes F. H. Maget

0
140

*) Yohanes F. H. Maget

Tulisan sederhana dibuat sebagai tanda hormat saya untuk para sahabat saya di komunitas sastra KAHE  yang telah mengangkat sebuah dongeng rakyat Sikka berjudul “Du’a Buhu Gelo” (Wanita Kentut Kemiri). Sebuah kisah yang bagi saya sangat kuat melekat dalam ingatan lantaran dituturkan oleh kakek saya untuk menghantar saya lelap dalam tidur malam.

Kisah yang sama ini juga kemudian menjadi cerita favorit yang saya baca dalam buku yang di-copy Ayah saya dari sebuah buku kumpulan dongeng rakyat Sikka milik SMP tempat Ayah mengajar. Pada waktu yang jauh kemudian, kisah ini menjadi cerita yang saya angkat dalam beberapa kesempatan membawakan renungan/ kotbah.

“Du’a Buhu Gelo” adalah kisah tentang seorang wanita yang mengentuti para kera yang telah sekian lama menghancurkan ladang dan segala jenis tanaman yang ada di dalamnya. Wanita itu menelan sekian banyak kemiri lalu kemudian pura-pura tertidur di ladangnya dan ketika hendak dibakar hidup-hidup oleh para kera, ia mengentuti mereka satu per satu sampai semua kera itu tewas dan wilayah itu terbebas dari serangan para kera. Penggalan kisah inilah yang sangat saya ingat dengan sangat baik dari masa kecil saya sampai dengan saat ini. Barangkali ada versi lain yang berbeda tetapi saya sungguh tidak persis tahu.

Dalam perjalanan waktu, saya melihat kisah ini secara berbeda. Kisah ini bukan sekedar kisah seorang wanita (yang tidak tahu berapa usianya) yang berhasil menumpas para kera tetapi lebih dari itu kisah ini adalah kisah tentang kehidupan. Pertanyaan penting dan cukup kuat yang sering mengganggu saya adalah “mengapa du’a buhu gelo dan bukan la’i buhu gelo?” Bukan tidak mungkin cerita ini di satu sisi menampilkan ketakberdayaan wanita karena dia yang harus mengentuti para kera, tetapi di sisi yang lain menampilkan sebuah keberanian yang menakjubkan dari seorang wanita. Boleh jadi pula, para lelaki bukanlah orang yang akan dengan mudah mau menempuh jalan yang aneh dan sepertinya tidak sepantasnya dilakukan. Para lelaki barangkali akan lebih memilih jalan “parang-tombak” yang tentu saja lebih menunjukkan keperkasaan mereka sebagai lelaki.

Ketika suatu waktu saya memutuskan untuk menulis kisah “Du’a Buhu Gelo” dalam rupa cerita pendek, saya membayangkan bagaimana sampai sang wanita kemudian memilih untuk melakukan tindakan tersebut. Ia barangkali berada di bawah tekanan orang sekampungnya (bayangkan bagaimana jadinya Anda dilahirkan sebagai perempuan di zaman orang belum menganggap Kartini sebagai pahlawan) sehingga ia harus menjadi wanita yang mengentuti para kera. Keberanian sang wanita menjadi sebuah hal yang sangat penting. Ia wanita tangguh yang mencintai kehidupan. Betapa tidak, ladang dan segala isinya adalah simbol penting kehidupan yang tidak seharusnya dirusak oleh para kera. Wanita itu adalah wanita pemberani karena ia dengan tanpa malu bertelanjang di hadapan para kera. Tidak mungkin ia bisa mengentuti para kera dengan kemiri kalau ia mengenakan sarung menutup tubuhnya. Bagaimana mungkin kemiri bisa meluncur sebagai kentut?

Beberapa bayangan dan imajinasi tersebut membuat saya merasa bahwa kisah “Du’a Buhu Gelo” mestinya menjadi sebuah ajakan bagi para wanita untuk lebih berani dari waktu ke waktu. Wanita adalah simbol kehidupan sehingga untuk apa mereka harus terus mendekam dalam tekanan dan ketertindasan. Para wanita boleh jadi mempunya kekuatan yang menakjubkan dengan hal sederhana dan mungkin hina dalam pandangan banyak orang, yang mereka lakukan. Mereka bahkan bisa menggunakan “kentut” untuk mewujudkan sebuah kemenangan. Akhirnya, dari keheningan perayaan seorang wanita bergelar Santa Perawan Maria dari Gunung Karmel, saya sekali lagi menghaturkan salam hormat untuk para wanita KAHE  yang berani tampil untuk menghadirkan kembali sebuah dongeng rakyat Sikka yang sudah banyak dilupakan dalam versi yang tentu lebih menakjubkan. Saya tidak tahu seperti apa kisah yang dibawakan dalam pentas para wanita ini tetapi saya hanya bisa mengatakan salam hormat saya untukmu semua.

Kahe_
Tabe_Duá_Buhu_Gelo_

Catatan: ilustrasi gambar dari Markz Jagoz“KAHE” (Sastra Nian Tana)


Yohanes F. H. Maget adalah penulis kelahiran Maumere 13 Desember 1988. Sekarang bergiat di komunitas sastra Kahe sembari tetap menjalani hidupnya sebagai biarawan Karmel dan tinggal di Biara Karmel Bto. Redemtus, Weruoret-Nita. Beberapa karyanya seperti cerpen dan puisi sering dimuat dalam koran lokal dan beberapa majalah komunitas.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY