MUSIM, HUJAN: Sajak-Sajak Ansgarius Ratno

8
721

*) Ansgarius Ratno

MUSIM

Di Negara kita hanya ada dua musim.
Musim panas dan musim hujan.
Musim panas itu saat kau bikinkan kita sepiring penuh canda tawa mesra. Yang
Lalu akan kita habiskan saat musim penghujan tiba,
Dengan sejumput kenangan dalam pelukan hangat sweater halus berbahan wol.

Tapi aku tertarik mengajakmu menikmati musim semi – berdua saja.

Ideku:
“kau bikinkan aku kopi,
Aku bikinkan kau Puisi.”
Sederhana : bersama kita nantikan musim senja.

DINGIN

“Kopinya sudah dingin”
“ya”
“Mau dibuatkan yang baru?”
“Tidak! Terima Kasih”

Aku suka yang lama dan menetap,
Meski dingin, ia kekal.

TAK ADA KAMU DI HUJAN BANDUNG KALI INI

Tak ada kamu di hujan Bandung kali ini.
Hujan ini sendiri, dan senyummu pun tak lagi membasahiku kini.
Lalu Aku berandai-andai,
Ah.. seandainya kita d ulu tak sepayung,
Mungkin Rindu kita takkan terhubung.

TUNA

“be silent or say something better than silence”
(Pythagoras)

Aku (selalu) benci berbicara tentang ketidakmampuan. Terutama
Saat aku tak mampu mengucapkan sesuatu (seperti mendadak bisu), di hadapanmu.

Kau harus setuju bahwa cinta itu gagap
Bahkan untuk seorang tukang debat yang ulung
Maupun bagi seorang juru kampanye hebat.

Dan dalam ketidakmampuanku itu,
Aku mampu menyadari –dengan cepat
Bahwa aku Tuna asmara.


Ansgarius Ratno, Orang Tenda, Ruteng, sekarang berdomisili di Bandung, Mahasiswa Pascasarjana UPI Bandung . Selalu menganggap Matematika, Sepakbola dan Puisi adalah 3 hal indah yang Rumit. Twitter : @ansratno

8 KOMENTAR

LEAVE A REPLY