YANG MENGHILANG DI LANGIT YANG BERENANG, Sepilihan Sajak Yandri Kapestrano Saima

0
137

*) Yandri Kapestrano Saima

SUDAHKAH KAU BERBICARA DENGAN DIRIMU SENDIRI?

Aku suka mengamati orang-orang merayakan akhir pekan
di sebuah bar atau restauran,
dengan jari-jari yang terus sibuk dengan dirinya sendiri
dengan mata yang hibuk dengan cahayanya sendiri
mereka seringkali lupa bagaimana merayakan akhir pekan
yang benar
Untung-untung saja yang dilupa adalah cara merayakannya,
bukan diri

 

Rasa-rasanya begitu. Tak ada yang benar-benar dirayakan
sebab mereka, sejatinya, hanya memindahkan ruang kamar
dengan kentut-kentut egoisme ke ruang hingar
Sungguh tak ada yang dirayakan bersama selain diri sendiri

Aku suka mengamati orang-orang berbicara dengan seseorang
lain yang sedang sibuk dengan seorang lain, entah di mana
(hanya jarak yang tahu), sambil di telinga
tersekap rapat headset dan cara bicara
sangat kuat seolah-olah restauran itu
adalah kampung neneknya

Sungguh menyedihkan orang-orang itu
mereka seharusnya telah siap
bagaimana berbicara dengan diri sendiri;
sudah sigap
untuk berani berkata:
“Maaf batu, kami belum lupa kalau anda bukan batu!”

Satu lagi: aku suka mengamati orang-orang berbicara
sambil berjalan dengan headset tanpa kabel yang tertempel
di telinga, dengan gerak-gerik tangan yang seolah-olah
ini barangkali gila jenis baru
sekilas, mereka benar-benar terlihat gila
sebab seringkali orang-orang ini senyum-senyum sendiri
tawa-tawa sendiri, bahkan marah-marah sendiri

Kira-kira begitu. Mereka sedang belajar
bagaimana menjadi gila yang wajar
gila yang ajar
syukur-syukur saja bukan kurang ajar.

Casilina, 22 Juli 2016  

MENGIRIM REMBULAN DARI PUNCAK BATU

Rasa-rasanya hanya bulan
yang mampu mengantar tidurmu
malam ini

Aku mengirimnya untukmu
dari atas puncak batu
pengganti bola mata
di pelupukmu

Esok,
saat berjaga
kau nanti tahu:
seseorang telah menyimpan bulan di pelupukmu
ada langit hitam yang menyandar lengannya di alismu
ada bintang-bintang yang menjemur cahayanya di retinamu

Rasa-rasanya hanya matamu
yang mampu mengatup pelupuk
langit:
langitku.

Casilina, 19 Juli 2016.  

YANG MENGHILANG DI LANGIT YANG BERENANG

Memang aku sudah menduga
pada akhirnya kau menghilang
entah ke laut mana
entah ke langit mana

Nenekku pernah bilang:
kadang semua yang hilang
tak selalu berarti pulang
kita senantiasa siap
menyimpan rindu
di atas daun-daun bintang
paling jauh
Hanya pantai memiliki kesabaran
paling utuh:
seutuh umur ubur-ubur yang cahaya
kita bukan pantai
kita juga bukan ubur-ubur
usia penantian yang tak pernah sekekal cahaya

Memang pada akhirnya kau menghilang
di pelabuhan penghabisan ini
aku sudah berusaha menjadi pantai
dengan kesabaran yang bahkan paling ta’i
aku telah berenang pada laut
yang sangat mencintai maut

Kau tahu:
laut sebenarnya langit yang berenang di dalam air
hanya saja laut adalah langit basah yang bisa disentuh
di situ kita memang pernah mengingat sejumlah bintang
yang berenang,
sejumlah cahaya yang menggenang

Kau akhirnya menghilang
mungkin ke langit
tapi langit adalah laut basah tak tersentuh
Aku tak bisa berenang. Tak bisa menggenang
hanya jari-jari yang bertugur sendiri
menunjuk bintang-bintang
membilang ubur-ubur yang melayang
mengulang cahaya-cahaya yang mengambang:
mungkin jua cahayamu.

Casilina, 16 Juli 2016 

AKU KE PASAR SAYUR LAGI

Untuk apa ke pasar sayur
jika kangkung dan telur
menambah umur
kehilangan-kehilangan kecil
Tomat dan pete yang terlanjur
mengingat dapur

Untuk apa ke pasar sayur
jika kencur dan ikan adalah ingatan kuali
bau amis pada jeruk nipis
wortel yang terlanjur hijrah
ke mangkuk kuah

Aku ke pasar sayur lagi
bukan untuk mencarimu
tapi sudut-sudutnya
telah membuka pasarnya sendiri
di kepalaku:
ada orang-orang teriak
air-air kotor keciprak
dan suara harga lombok serak
Apa pasar sayur mempunyai rindu?
Apa pasar sayur memiliki ingatannya sendiri?

Untuk apa ke pasar sayur
jika kehilangan-kehilangan kecil
makin serupa orang-orang jual
semirip orang-orang beli
semuanya datang
semuanya pulang
entah ke mana.

Casilina, 14 Juli 2016

KEPADA BUNG KARNO

Kau benar, bung Karno
ada kalanya aku ingin sendiri saja
mungkin ke pucuk mercusuar
barang sebentar

Atau ke taman tanpa teman
menyepi dari sibuk
dan kota yang hibuk
merenungi hidup
di petang yang memeram nasib

Atau mengirim segenap pengap
pada cahaya dan awan yang lindap
di kejauhan
menuju langit-langit hilang:
mungkin ke keabadian.

Callandrelli, 04 Juli 2016

AKU TERLANJUR MENCINTAI HUJAN

Aku mungkin terlanjur mencintai hujan
meski sudah di luar musim
ingatanku masih saja basah
oleh rintik-rintik kenangan yang rimis

Sungguh tentu tak mudah mencintai hujan
sesekali aku mesti bersedia basah
meski payung sering kugantung di jantung:
jantungku sendiri
sepanjang gerimis pulang

Tapi sekali pernah aku ingin jadi hujan
dan hujan jadi aku
aku jadi basah
dan basah jadi aku
Atau kali lain:
hujan jadi payung
dan payung jadi hujan
Lalu mereka meneduh bayang-bayang
sendiri sepanjang kepulangan

Merindu hujan adalah merindu sesuatu
yang kelak jadi basah
mungkin juga petir
dan banjir
menuju laut-laut getir

Aku mungkin terlanjur mencintai hujan
meski sudah di luar bulan
aku masih saja ingin tahu:
apa nasib hujan?

Callandrelli, 28 Juni 2016

MENUNGGU KEPULANGAN CAMAR

Ini petang langit hanya semerah jambu
tak ada tanda-tanda udara memainkan tambur
camar-camar yang kemarin
sungguh terbang sampai hilang

Aku duduk saja di jendela
menunggu kepulangan
sambil secangkir kopi Toraja
mengepulkan kehilangan

Rasa-rasanya pernah kulihat langit seperti ini:
jingga kemerahan
yang seringkali menyisakan tanda tanya:
ke pulau mana mereka pindah?
Atau ke langit mana mereka hijrah?

Rasa-rasanya pernah kulihat kelengangan begini
tapi aku tak tahu kapan dan di mana
apa langit memiliki ‘Déjà vu’-nya sendiri?

Tiada garis penerbangan di kejauhan
atau angin yang menandai pesan
udara kehilangan basa-basi
yang tersisa di jendela
hanya ingatan terbang
yang basah
dan kenangan sayap
yang basi.

Callandrelli, 24 Juni 2016

CAMAR TERBANG SAMPAI HILANG

Ini kali camar terbang sampai hilang
serasa kepergian segera menjelang

Aku kini inginnya terbang
menembus petang ke ujung hilang

Sungguh pernah kurajahkan kenang
di sayap camar
tapi ingatan adalah terbang
yang dikepakkan sayap terhilang

Duh, Cintaku
ke mana akhir hinggap camar-camar itu?

Callandrelli, 20 Juni 2016


Yandri Kapestrano Saima dilahirkan di Nggela (Ende), 23 Oktober 1987. Peminat puisi sejati, selain mengendus jejak Tuhan, juga sedang mengejar mimpinya yang lain: ingin mengunjungi mercusuar.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY