MENOLAK ADORNO, MENERIMA RORTY, Catatan Untuk Yohanes Sehandi

7
2310

*) Redem Kono

“Orang NTT di Panggung Sastra”, demikian judul tulisan dari Yohanes Sehandi, Dosen dari Universitas Flores, Ende di rubrik opini Pos Kupang, 22 Juli 2016. Dalam catatannya, Yohanes Sehandi (selanjutnya, YS) menyimpulkan: “Orang NTT yang berkiprah di panggung sastra belumlah banyak. Jumlah mereka baru 44 orang, 37 pria dan 7 perempuan.” 44 orang itu adalah “sastrawan NTT”, karena telah “memenuhi syarat” yang tertera dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia:  ahli sastra, pujangga, pengarang prosa dan puisi, orang pandai-pandai, cerdik cendekia.

Artikel YS ini menuai tanggapan pro dan kontra dari para penulis puisi, novel, ataupun kritik sastra yang tertarik pada riwayat kepenulisan sastra di NTT. Tanggapan atas kategorisasi YS, misalnya, diinisiasi oleh Gusty Fahik dalam Facebook-nya. Catatan-catatan kritis dari Gusti Fahik kemudian ditanggapi oleh banyak penulis, dan akhirnya oleh YS. Tulisan ini mungkin menjadi “kristalisasi gagasan kontra” dari perdebatan itu, ditambah perspektif penulis.

***
Kesan pertama saya terhadap tulisan-tulisan YS: kasihan jika penulis-penulis sastra dari NTT itu “membutuhkan nama”, “membutuhkan pengakuan”, atau “kegilaan pada identitas”! Tetapi, lebih kasihan lagi ketika kriteria-kriteria yang dipakai untuk membaca dunia kepenulisan sastra NTT belum bersandar pada riset ilmiah yang objektif! Hemat saya, argumentasi YS tentang “sastrawan NTT” itu dapat dirangkum: konsistensi yang inkonsisten. Artinya, kerja keras yang konsisten YS untuk mendokumentasikan karya-karya sastra dari para penulis NTT layak diapresiasi. Tetapi, konsistensi YS menjadi otokritik ketika ia justru tidak konsisten dalam mengemudikan kriteria-kriterianya tentang penyematan “sastrawan NTT”. Mengapa?

Pertama, jika kualifikasi “sastrawan NTT”  seperti definisi KBBI, jumlah penulis sastra di NTT akan lebih banyak dari kuantifikasi itu, karena penulis-penulis sastra dari NTT di koran, media online, majalah, jurnal, dan buku sudah terlampau banyak. Namun, YS tidak memasukkan para penulis tersebut. Karena itu, dalam pembacaan saya, kriteria-kriteria YS lebih menyasar pada para penulis sastra NTT yang “sudah menghasilkan buku (-buku)”! Tetapi jika hanya demikian, ada beberapa pertanyaan: (1) Mengapa para penulis dari kancah NTT yang sudah menerbitkan buku puisi dan novel seperti Gusti Tetiro, Alexander Aur, Steve Elu, Erick Langobelen, Felix K. Nesi, Eto Kewuta, dan dalam antologi tidak diakomodasi YS? Atau atas dasar alasan apa YS memasukkan penulis yang belum menerbitkan buku dalam kategori tersebut? Hal ini dapat menyingkap inkonsistensi YS atas bangunan kategorisasi “sastrawan NTT” yang telah dibuatnya. Bisa jadi tuduhan dominasi subyektivitas terhadap YS ada benarnya.

Kedua, jika ada, katakanlah, kriteria-kriteria intrinsik dan ekstrinsik dari YS, bagaimana YS bisa memaparkan bangunan risetnya: bangunan kualitatif, metode yang dipakai, riset kuantitatif, prinsip-prinsip normatif penelitian seperti otonomi intelektual, integritas keilmuan, margin error penelitian, dan lain-lain. Kriteria-kriteria ilmiah itu tidak dapat hanya “direnungkan”, tetapi harus dibuat dan dipresentasikan sebagai publik. Kita tidak hanya berbicara tentang hasil, tetapi kita harus membuka ke publik proses yang melahiran hasil itu. Karena penelitian ini meliputi publik dan bertujuan publik, maka YS harus mempresentasikan mekanisme riset ilmiahnya di hadapan publik. Hal ini akan menunjukkan bobot ilmiah sekaligus tanggung jawab ilmiah dari penelitian YS atas alasan penyematan “sastrawan” NTT.

Namun, dalam opini di koran dan tanggapan-tanggapan di media sosial atas kritik-kritik terhadapnya, YS hanya melandaskan diri pada definisi KBBI dan juga pembelaan-pembelaaan semantik: ada unsur ekstrinsik dan intrinsiknya tetapi belum menjelaskan prinsip-prinsip operasionalnya. YS juga belum mencantumkan tata cara menampi bobot subyektivitas dan obyektivitas dari penelitiannya sehingga dapat memaparkan akurasi dari penelitiannya tentang karya-karya para penulis dari NTT. Dengan hanya berlandaskan pada definisinya pada otoritas leksikal dan pembuktian semantik, maka konsistensi YS dan motif penelitiannya selalu akan menuai pertanyaan. Dengan hanya menunjukkan pembelaan yang sama, YS justru inkonsisten dalam meletakkan bobot ilmiah dari sosok “sastrawan NTT” yang dikonstruksinya: melemahkan bangunan konstruksi “sastrawan NTT” yang dibangunnya sendiri.

Ketiga, dalam tulisannya di PK, YS mengambil langkah antisipatif terhadap kritik dengan menyebut adanya “kelemahan manusiawi” dalam penyematan “sastrawan NTT”. “Kelemahan manusiawi” atau ‘kekeliruan”? Dalam konteks riset, perlu ada pembedaan antara “kelemahan manusiawi” dan “kekeliruan penelitian.” Kelemahan manusiawi berkaitan dengan sikap peneliti, sedangkan kekeliruan penelitian berkaitan dengan integritas keilmuan (termasuk penelitian). Dengan menyamakan kedua-duanya, kritik atas penyematan “sastrawan NTT” cenderung akan dimengerti sebagai sentimen emosional, argumentasi ad hominem (menyerang pribadi), dari pada sebuah diskursus rasional karena dugaan kekeliruan penelitian (metode, landasan teoretis, riset kualitatif).

Akhirnya, kritik-kritik dari para pencinta sastra NTT hanya ditanggapi sebagai “orang-orang muda yang sombong” (YS dalam media online Facebook Gusty Fahik), dari pada komitmen para pecinta sastra yang melihat kemungkinan adanya perkembangan baru dari kritik atas bangunan pemikiran YS. Dalam konteks ini, YS mengambil sikap kontraproduktif terhadap perkembangan kepenulisan sastra di NTT. YS menolak apa yang diperjuangkannya sendiri.

Bertolak Lebih Dalam

Terhadap perdebatan di atas, saya menawarkan pertanyaan: haruskah perdebatan tentang dunia kepenulisan sastra di NTT hanya berhenti pada persoalan “nama”? Apakah memang para penulis kita sangat membutuhkan “pengakuan atas identitas sebagai sastrawan NTT?” Apakah label “sastrawan NTT” sangat dibutuhkan untuk menasbihkan diri sebagai “benar-benar penulis sastra dari NTT”? Apakah memang para penulis dari NTT “haus akan nama?”

Hemat saya, sudah saatnya dunia sastra di NTT bertolak lebih ke dalam: tidak hanya berurusan dengan “ sekedar memberi nama”! Ada dua pokok yang dapat dilakukan: pertama, kalaupun membutuhkan sosok “sastrawan NTT”, maka penelitian sastra yang ilmiah dan obyektif sudah menjadi sebuah keharusan. Para penulis dari NTT sudah berjerih payah menghabiskan waktu untuk bermenung, membaca buku, berdiskusi, mencintai keheningan, dan seabrek pengorbanan lain hanya untuk merenungkan dan menghasilkan kata per kata, kalimat per kalimat, dan akhirnya membuahkan karya. Karena itu, sudah saatnya karya kepenulisan mereka diteliti secara lebih kritis, apresiatif, kreatif, berimbang, dan konstruktif berdasarkan penelitian dan publikasi ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan keilmiahannya.  Saya, misalnya, cukup tertarik pada pembacaan-pembacaan sastra dari Sintus Runesi di Jurnal Santarang ketika ia membaca karya-karya sastra para penulis sastra dari sudut pandang fenomenologi dan eksistensialisme.

Kedua, apakah kita harus berhenti pada soal “nama” atau berputar-putar sekitar identitas? Terhadap pertanyaan ini, saya mengemukakan gagasan Adorno (Jerman) dan Richard Rorty (Amerika Serikat). Adorno pernah melarang perlunya karya sastra: puisi, novel, dan lain-lain. Menurutnya, karya-karya sastra dapat membuat orang melupakan persoalan-persoalan sebenarnya dalam dunia kita: entah dengan kata-kata puisi, kritik, ataupun apresiasi  sastra. Karya sastra dapat memperindah realitas yang buram, sehingga orang dapat dininabobokan dalam penderitaannya.

Berbeda dengan Adorno, Rorty mengatakan bahwa sastra memiliki nuraninya sendiri: memanggil manusia pada solidaritas bersama untuk menghindarkan atau mengeluarkan orang lain dari kekejaman dan penderitaan. Sastra dapat mengasah kepekaan atas realitas dan juga ajakan untuk melindungi diri dan orang lain dari penderitaan dan kekejaman.

Dari pada bersibuk tentang memberi identitas sastra NTT, saya lebih menyetujui daya konstruktif dari penulisan sastra di NTT sebagai satu promotor untuk memperjuangkan masyarakat NTT keluar dari pelbagai persoalan: korupsi, penjualan manusia, kemiskinan, sentimen primordial, dan lain-lain. Wajah kepenulisan sastra di NTT adalah wajah yang ramah pada perjuangan menegakkan kemanusiaan di bumi Flobamora. Dan untuk ini saya sering membaca dunia kepenulisan sastra di NTT dengan wajah berseri-seri: ketika menyaksikan monolog kreatif tentang perlawanan perempuan terhadap budaya patriarki; ketika membaca gugatan kritis di novel-novel tentang masih parahnya sistem pemerintahan kita; ketika  menyaksikan karya-karya sastra  kreatif hasil kerja sama lintas komunitas multikultural; ketika mengurai doa-doa saleh nan indah dari untaian puisi-puisi; ketika para penulis memanggil diri dan banyak orang pada imajinasi dan sikap mencintai kemanusiaan.

Mari menolak Adorno, menerima Rorty***


Redem Kono adalah nama pena dari Redemtus Kono. Penikmat sastra kelahiran Bokon, 8 April 1988. Sekarang ini sedang menempuh Program Magister Filsafat STF Driyarkara. Sebelumnya adalah pernah menempuh Program Studi Filsafat (S-1) STFK Ledalero.

7 KOMENTAR

  1. ama kritik yang sangat membius nurani,haaaaa,,,sngat setuju,,,,sastra lebih membutuhkan hati bukan sebatas pengakuan nama.

  2. Ama Yandris. Apakah sastra kalau tidak punya sifat sosial? Terima kasih ama. Teruslah menulis Ama. Jalanmu sudah benar.

  3. mantp teman,,Rorty sebut penyair ruang publik, perlu sastra bernuansa kritik sosial…bukan sekedar nama atw pembabakan sastra

  4. Bang Ricky. Apakah penyair dapat terlibat dalam situasi sosial atau hanya dalam kontemplasi abadinya. Ini termasuk dalam pilihan pribadi.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here