MY NEW WORLD, Kisah Yeni Endah

0
162

*) Yeni Endah

Meski aku adalah seorang difabel karena penyakit langka yang kumiliki serta harus menggunakan kursi roda karena sakit ini.

Tapi dunia difabel adalah hal sangat baru untukku. Maklum saja, meski aku ini istimewa, begitu kata ibuku. Aku dilahirkan, dibesarkan serta tumbuh dilingkungan orang-orang yang berfisik ‘sempurna’. Tidak pernah ada diskriminasi yang pernah kualami.

Maka dari itu ketika awal mengenal dunia difabel pada bulan Maret 2015. Ketika itu seperti biasa, aku berselancar di facebook, di timeline aku menemukan sebuah Yayasan Difabel. Langsung saja aku membuka tentang seluk beluk organisasi tersebut dari postingan, kegiatan yang pernah dilakukan serta hal-hal lainnya.

Aku bisa melihatnya karena grup itu adalah grup publik. Aku menemukan jika salah satu anggota dari yayasan tersebut adalah salah seorang teman dan aku cukup akrab dengannnya. Tanpa pikir panjang langsung kuhubungi dia. Menanyakan segala sesuatu yang ingin kuketahui. 

“Jika kamu ingin bergabung, nanti aku sampaikan keinginanmu,” begitu katanya.

Selang beberapa menit kemudian, ada private message di facebookku. Siapa sangka jika beliau adalah ketua dari yayasan tersebut. Beliau menanyakan tentang keinginanku untuk bergabung di yayasan difabel tersebut. Setelah mendapat kepastianku. Beliaupun meng-interview diriku. Menanyakan tentang identitas serta jenis disabilitas yang kumiliki. Setelah itu, akupun bergabung menjadi anggota.

Langkah pertama sebagai anggota baru adalah perkenalan. Sejak saat itu, aku mempunyai teman dari dunia difabel. Aku pun baru tahu dengan berbagai macam disabilitas. Bukan hanya teman, tapi ilmu barupun aku peroleh. Misalnya saja selama ini hal yang aku pertanyakan terjawab. Bagaimana seorang penyandang Tuna Netra bisa menggunakan handphone atau mengetik di layar komputer. Juga mengetahui bagaimana seorang penyandang Tuli berkomunikasi yaitu dengan memperhatikan gerak bibir kita atau berkomunikasi dengan bahasa isyarat.

Bertemu dengan orang-orang luar biasa yang diberi keistimewaan berupa keterbatasan oleh Tuhan, namun bisa mengatasinya.  Bisa berdaya guna, membuka lapangan kerja sendiri bahkan bisa memberdayakan teman sesama difabel untuk terus semangat dan maju bersama. Luar biasa. Speechless!

Hidup seperti dua sisi mata uang yang bertolak belakang. Dunia disabilitas juga membuat hatiku miris dan tersayat ketika teman senasib menerima perlakuan yang tidak semestinya. Dibuang keluarga sendiri, dikucilkan dari pergaulan masyarakat. Dianggap layaknya sampah masyarakat, perlakuan diskriminasi oleh mereka yang menganggap dirinya adalah makhluk Tuhan yang paling sempurna. Meski tidak semua melakukannya tapi toh bukti di lapangan serta beberapa orang masih melakukan hal itu, bukan? Hanya bisa menangis jika mengetahui kisah seperti itu, tapi aku juga bersyukur atas kehidupan yang kumiliki.

Meski mempunyai keterbatasan fisik, aku dikelilingi orang-orang yang mencintai, peduli serta selalu memelukku dalam doa meraka. Sebenarnya jika difabel dianggap sampah masyarakat terlalu kejam.

Namun aku mengerti kenapa anggapan seperti itu ada di masyarakat  karena memang ada beberapa difabel yang tidak bertanggung jawab sengaja memanfaatkan kecacatannya untuk mengharap belas kasihan orang lain yaitu mengemis. Mungkin mereka sudah terlalu putus asa dengan keadaan hingga memilih jalan seperti itu.

Dalam hati ingin sekali mengubah stigma negative yang terlanjur melekat di masyarakat. Ya, tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Perlu proses yang panjang serta kerja keras. Aku ingin menjadi bagian itu. Entah bagaimana  caranya? Suatu hari nanti Tuhan akan menunjukkan jalan-Nya. Yang bisa kulakukan saat ini adalah dengan jemari serta penaku, akan kutulis kisah inspiratif dari teman sesama difabel agar bisa menggugah hati bagi mereka yang terlalu angkuh dengan kesempurnaan fisiknya. Jika mereka tahu apa yang mereka lihat hanya sedikit bagian kecil.

Difabel adalah makhluk pilihan Tuhan, tidak semua orang bisa menanggung ujian serta beban yang mereka tanggung. Semua makhluk ciptaan Tuhan itu sama, hanya manusianya saja yang sering mengkotak-kotakkan. Serta mengganggap dirinya lebih daripada yang lain.[]


Yeni Endah. Lahir 10  Januari di kota Semarang, anak kedua dari tiga bersaudara. Meski difabel saya ingin berprestasi di bidang kepenulisan, karenanya melalui media ini saya ingin mengasah ketrampilan. Menulis adalah cara yang saya pilih untuk mencurahkan apa yang ada di pikiran saya. Jumpai saya di alamat email yeniendah10@gmail.com dengan fb: https://web.facebook.com/yeni.endah.3 Keep positive and keep fighting until the end!

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY