Beribadah Dengan Ribuan Sajak  Di  Pelataranmu

0
148

*) Hardy Sungkang

Judul buku:
Ribuan Jejak di Pelataranmu
Jenis buku:
Puisi
Pengarang:
Julia Daniel Kotan
Penerbit:
Kandil Semesta
Tahun terbit:
Cetakan pertama tahun 2016
Tebal buku:
206 hlm

Puisi tidak terlepas dari realitas kehidupan penulis. Mekarnya aroma sastra di Indonesia membuat para pecinta sekaligus pencipta puisi tidak pernah lelah untuk menulis. Seluruh objeksitas kehidupan manusia memiliki makna. Namun, dalam perjumpaan dengan objek atau realitas yang ada tersebut, tidak semua orang berani membahasakanya, apalagi dalam nuansa sastra berupa puisi. Puisi terlahir dari situasi rumit dan dapat dicerna dengan lugas tanpa banyak kompromi. Setiap puisi ataupun syair-ayair indah terlahir dari kedewasaan dan kematangan penulis. Demikian pula dengan puisi yang dilahirkan oleh seorang maestro muda zaman ini yang dikenal dengan Penyair Kereta atau Julia Daniel Kotan. Dalam setiap rakitan jemari menyulam puisi-puisi yang begitu indah dan sedap disantap, Julia Daniel Kotan benar-benar membahasakan realitas itu seperti apa sebenarnya.

Lahir dari Rahim Kereta

Buku yang berjudul Ribuan Jejak di Pelataranmu merupakan bentuk konkret kecintaan Julia dalam memaknai kehidupan yang ia rasakan. Banyak orang atau penyair begitu hebat melihaikan suasana. Demikian juga Julia Daniel Kotan begitu lincah merakit sajaknya di pelataran itu. Keseluruhan puisi yang dihasilkan oleh Julia merupakan lahir dari rahim kereta.

Harapan pembaca untuk bisa membaca karya-karya yang memiliki ciri khas seperti puisi Julia yang jujur, terbuka, mengalir, lepas, lugas dan lihai dihadirkan dalam buku ini. Julia benar-benar menuangkan pengalaman hidupnya dalam perjumpaan dengan kereta seperti dalam puisinya Ribuan Sajak di Pelataranmu.

Ribuan Jejak Di Pelataranmu

Jiwa lelah raga mulai lemah
Kau setia menopang dijejak tanpa hormat

Layaknya keset rumahan
Terjerembab dalam air comberan
Tak bisa bangkit tanpa ada yang terbaik
Mencomotnya kembali ke daratan
Karpetmu yang bersinar kini kusam
Beribu jejak terkapar di pelataranmu
Angunmu tak tersisakan
…..

Terlihat jelas bagaimana Julia membahasakan pengalaman hidupnya dalam perut kereta. Dari segi pemilihan diksi, Julia begitu lincah, lihai dan lugas membahasakan kereta sebagai tubuh yang hidup. Keunggulan penulis dalam merakit buku ini adalah, berhasil membahasakan kereta sebagai realitas yang hidup penuh inspiratif. Sejenak dipikirkan, kereta dan penumpangnya merupakan dua materi yang berbeda. Namun, Julia dalam seluruh tulisannya menggambarkan kereta seolah-olah sama seperti manusia yang hidup, bukan hanya sebuah ruang kosong yang tak bermateri. Tetapi, Julia menggambarkan kereta sebagai objek hidup yang selalu memberikan respon kepada subjek, yakni penulis.

Dalam bait pertama puisi Ribuan Jejak Di Pelataranmu, Julia menungkapkan ekspresi kejujuranya tentang perjumpaanya dalam kereta. Ia menggambarkan suasana kereta sebagai jiwa manusia yang murung ditumbangi kelelahan. Pada bait kedua pula ia mengantar pembaca dalam metafor karpet rumah yang selalu diinjak dan menjadi sasaran untuk menampung segala kotoran. Namun Julia begitu lihai mengembalikan suasana perasaan pembaca seperti tampak dalam bait kedua baris terakhir. /Anggunmu tak tersisakan/, merupakan kecintaan Penyair Kereta terhadap tubuh kereta yang selalu diinjak-injak tanpa ada kata maaf. Sebetulnya Julia juga menggambarkan situasi ini dalam konteks kehidupan kita zaman kini, yang mana respek terhadap yang lain tidak lagi dilestarikan. Dalam konteks kekuasaan dapat dimengerti sebagai relasi antara penguasa dan korban kekuasaan.

“Harapan pembaca untuk bisa membaca karya-karya yang memiliki ciri khas seperti puisi Julia yang jujur, terbuka, mengalir, lepas, lugas dan lihai dihadirkan dalam buku ini. Julia benar-benar menuangkan pengalaman hidupnya dalam perjumpaan dengan kereta seperti dalam puisinya Ribuan Sajak di Pelataranmu”

Aktualisasi Kecintaan pada Kereta dan Penumpangnya

Buku antologi puisi Ribuan Jejak di Pelataranmu karya Julia Daniel Kotan ini merupakan hasil perjumpaan penulis dengan realitas kereta. Sungguh eksotik. Julia membahasakan realitas dengan genre puisi yang berbeda dengan penulis puisi lainnya. Julia menggambarkan dengan kata-kata yang sederhana dan polos tanpa manipulasi. Dari segi covernya buku ini sungguh menggambarkan bagaimana kecintaan penulis terhadap kereta dan objek yang ada dalam kereta, serta perjumpaan dengan manusia-manusia lain dengan karakter yang berbeda. Cover atau tampilan luar buku ini secara eksplisit menggambarkan bagaimana kualitas tulisannya yang sungguh reflektif dan menarik serta tak akan jemu-jemu dibaca. Ilustrasi covernya yang sungguh memukau dan menarik dapat menjadi imajinasi bagi yang lain. Julia tidak salah memilih tampilan cover yang sungguh inspiratif. Ilustrasi tersebut menggambarkan situasi dalam perut kereta atau dalam bahasa penulis sebagai pelataran. Menggambarkan perjumpaan dengan orang yang memiliki tipe dan egonya sendiri. Kelebihan lain dari isi buku ini adalah gambar ilustrasi setiap puisi yang sungguh membutuhkan kerja keras otak pembaca dalam mengimajinasi dan memahami arti dan makna gambar yang ada.

Pengaruh Persahabatan Dunia Maya

Dalam buku ini pula, kita dapat mengetahui betapa banyak sastrawan di Indonesia, khususnya di Nusa Tenggara Timur. Kita dapat melihat pada bagian akhir buku tentang “Kata Mereka”, serta dapat kita lihat bagaimana relasi persahabatan yang dibangun oleh seorang Penyair Kereta ini sungguh luar biasa. Penyair Kereta berjumpa dengan berbagai teman penulisnya dalam setiap ramuan sajak yang mereka goreskan dalam media sosial seperti Facebook. Julia menemukan banyak sahabat dengan berpuisi. Karena itu bagi pembaca yang budiman, mari kita memulai untuk menulis, karena dengan menulis kita dapat berjumpa dengan sesama kita yang lain. Dengan menulis pula kita dapat memahami arti realitas yang diam. Dengan menulis kita dapat mengaktualisasikan kecintaan kita terhadap perjumpaan dan pertemuan.

Segeralah

Bagi pembaca yang budiman, mari jangan berlambat. Sebelum senja terbenam dan buku antologi puisi Ribuan Jejak di Pelataranmu habis, maka mari kita sama-sama buruan mendapatkanya serta membacanya. Saya yakin di dalam buku puisi ini kita dapat menemukan banyak arti tentang hidup dan kehidupan, serta tentang apa sesungguhnya perjumpaan dan perjuangan seperti yang dialami oleh penulis.[]


Hardi Sungkang, mahasiswa STFK Ledalero, tamat 2016. Hardi bisa dihubungi lewat andikungkang99@gmail.com

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY