DI TANGAN IBU, Sepilihan Sajak Nuraz Aji

0
76

*) Nuraz Aji

Jantung Pisang

pisang di jantungku
kau telan pelan-pelan
hingga pelepahnya perlahan
kering dan batangnya tumbang

sampai tunas baru itu berlalu
di bilikmu yang tak hanya satu
pisang yang tumbuh di bilik kanan
membuat harapan jantung baru

ketika hadirmu membuatnya berlari
sekaligus berhenti

2016

Hayati

hari-hari berlari
kata-kata sembunyi
sarapan sendiri
mandi berdua dengan sabun puisi
pasta gigi adalah imaji rasa strawberry
tidur sepi
riuh dalam mimpi
membangun pasar harapan
asa dijual
dibarter tenaga
ditukar keringat dan doa

malam-malam bersepeda
kalimat-kalimat tumpah persis sampah
dibuang diambil bangkai dimasak
di warung-warung pinggir jalanan
pemakannya tak ada beda
dengan apa yang dimakannya
itu sebabnya ia sebahaya
harimau tiga

Skh, 180416

Purnama Yang Tak Pernah Purna

siang ini bukan siang kita bersama lagi
tapi rembulan di kepalamu tetap purnama sampai ke kamarku
wajahmu tersenyum di dinding
dari bibirmu mengalir pesona pengetahuan yang amazing

hanya dengan kau sebut pur-na-ma
seluruh taman terhipnotis
mata-mata menyimak
telinga-telinga terpasang dalam kondisi terbaik
belum kau angkat suara segalanya sudah menarik
apalagi saat seksi sejuknya sampai di kuping
lubang-lubang telinga lebar menganga bagai tiada daunnya
getaranmu yang sederhana membuat kami mabuk tingkat dewa

rembulan di kuku tanganmu tak pernah sabit
selalu purnama dalam puisi
bersinar diksi membungkam gelap
menyandera sepi yang mengikat jemariku
selarik balasanmu membuatku jatuh hati berulang kali
tak henti-henti jantungku seperti berlari

terus kubaca bait-bait cahaya
yang kubawa pulang dari purnamamu di Tegal
yang tak pernah purna hingga sekarang

2015

di tangan ibu

di tangannya ada mesin cuci pun pengering baju
di tangannya pencuci piring terbaru
di kakinya surga tak berpintu
di tangan ibu ada blender yang menghaluskan bumbu-bumbu
di tangannya pembersih dan penanak nasi

di tangan ibu ada kelembutan sutra yang membelaiku
di tangannya cinta tak kasat mata
apa yang dihasilkan nyata hingga ke jantung betina

d tangan ibu aku jadi penemu mesin tercanggih abad ini
di bibirnya kutemukan petuah yang lebih panjang dari kereta
di bibirnya juga kutemukan alarm reminder yang selalu nyala
di telinganya kudapati ruang lapang
menampung banyak tendangan kata-kataku

di tangan ibu ada mesin pembuat susu
di tangannya jua mesin waktu hafal kapan tidur bangunku
di matanya cahaya seterang matahari bersinar di semesta hari-hari yang kujalani

2015


Nuraz Aji, bekerja di Bubble Drink, Lumbung Batik, Laweyan, Solo. Kelahiran Klaten, 1996. Puisi-puisinya pernah dimuat di Pikiran Rakyat, Haluan (Padang), Majalah Sagang, Buletin Jejak, Sastra Sumbar, Sudut  Aksara, Detak Pekanbaru, Detak Unsyiah, Sastra Mata Banua, Sayap Kata, Tetas Kata, Dinamika News, Swara Nasional Pos, Pos Metro Prabumulih, dll. Antologi bersamanya Dari Negeri Poci 6: Negeri Laut diterima pada Pertemuan Penyair di Tegal, November 2015, antologi bersamanya yang lain: Syair-syair Keindonesiaan (Fak. Sosial UNY, 2016), Bangsa Bayangan (2015), Tinta Langit (2015), Unconditional Love (2015), Belajar Pada Semut (2015), Asmara Dalam Kata (2015), Senja Tak Berpelangi (2015), Imajinasi (2015), Rekam Jejak Pejuang Bangsa (2015), pada Mula Hidup Yang Lama (2016), Secangkir Kopi Surgawi (2016), dll. Buku puisi pertamanya Mahakarya Anak Jalanan (Pustaka Kata, 2015). Juara I FTS Most Powerfull Love (2014), esainya “Menulis Cinta Semagis Asqa” terpilih mendapat Bimbilimbica dalam asah kreatifitas RUAS AK 3. Cerpennya baru pernah dimuat di Detak Pekanbaru. Masih cinta menulis puisi dan latihan menulis yang selain puisi. Aktif di COMPETER.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY