MENGINTIP ISI KEPALA DAN ISI HATI BENNY PRADIPTA

1
106

*) Dhenok Kristianti

Tuhan telah memasang bara dalam hati kita yang menyinarkan pengetahuan dan keindahan. Berdosalah mereka yang mematikan bara itu dan menguburkannya ke dalam abu
– Kahlil Gibran –

Buku ini menjadi menarik karena merupakan kumpulan puisi dan cerpen sekaligus, dari seorang penulis muda berbakat yang peka terhadap permasalahan-permasalahan kehidupan. Seperti kata Kahlil Gibran pada kutipan di atas, agaknya Benny Pradipta tak ingin ‘menguburkan’ pengetahuan dan pengalaman hidupnya menjadi sia-sia. Ia menyuarakan isi hati serta kepalanya dalam bentuk cerpen dan puisi; supaya –siapa tahu- karya ini dapat memberikan inspirasi kepada pembaca tentang berbagai nilai yang seringkali terabaikan.

Membaca untaian puisi dan cerpen-cerpen dalam buku ini mengingatkan saya pada pandangan Sumarno dan Saini tentang hakikat karya sastra yang didefinisikan sebagai ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, gagasan, semangat, serta keyakinan; dalam bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat-alat bahasa. Sejalan dengan hal itu, Benny Pradipta dalam buku ini, agaknya berpretensi menghadirkan seluruh totalitasnya secara jujur, sebagai tanggapan atas peristiwa-peristiwa yang melintas dalam hidupnya. Macam ragam yang ia tulis. Dari persoalan-persoalan sosial, politik, religi, lingkungan hidup, cinta, suasana hati dan lain-lain bertaburan dalam karya-karyanya. Selanjutnya, apakah karya-karya yang dihasilkan benar memenuhi kriteria yang diajukan Sumarno dan Saini ‘…dalam bentuk gambaran konkret’ serta ‘membangkitkan pesona dengan alat-alat bahasa’? Tulisan ini mencoba menukik lebih dalam untuk menemukan ‘mutiara’ pada karya-karya Benny Pradipta, khusus pada puisi-puisinya.

Membaca untaian puisi dan cerpen-cerpen dalam buku ini mengingatkan saya pada pandangan Sumarno dan Saini tentang hakikat karya sastra yang didefinisikan sebagai ungkapan pribadi manusia berupa pengalaman, pemikiran, perasaan, gagasan, semangat, serta keyakinan; dalam bentuk gambaran konkret yang membangkitkan pesona dengan alat-alat bahasa. Sejalan dengan hal itu, Benny Pradipta dalam buku ini, agaknya berpretensi menghadirkan seluruh totalitasnya secara jujur, sebagai tanggapan atas peristiwa-peristiwa yang melintas dalam hidupnya.

Macam ragam yang ia tulis. Dari persoalan-persoalan sosial, politik, religi, lingkungan hidup, cinta, suasana hati, dan lain-lain bertaburan dalam karya-karyanya.


Dhenok Kristianti
Guru Bahasa dan Sastra Indonesia,
SPH Lippo Village, Tangerang

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY