Merdeka belum Merdeka (?)

0
152
Ervan Mau, aktor yang memerankan tokoh yang sedang meneriakkan kondisi “belum merdeka” yang dialami para ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS). Foto/Dok. Teater Aletheia

*) Johan Paji

“Merdeka. Merdeka? Di masa ini, merdeka?
Merdeka di masa ini?”

Pertanyaan di atas niscaya menimbulkan kebingungan, kegelisahan atau juga kesan aneh dan lucu, terutama jika dikonfrontasikan dengan realitas bahwasanya Indonesia telah merdeka secara resmi 71 silam. Bagi sebagian orang, pertanyaan di atas adalah sebuah pertanyaan retoris yang sudah jelas jawabannya. Sudah 71 tahun Indonesia merdeka. Catatan historis bangsa menunjukan itu. Perayaan setiap 17 Agustus juga mengafirmasi tesis tersebut. Lalu apa maksud pertanyaan menggelitik ini? Demi sebuah sensasi kah? Atau sebuah pertanyaan main-main dari seorang yang apatis dengan negara Indonesia?

Rupanya, pertanyaan ini merupakan kata-kata satire yang diucapkan oleh pemeran Ervan Mau dalam teater “Merdeka belum Merdeka (?)” yang dipersembahkan oleh teater Aletheia Ledalero dalam acara Resepsi Kenegaraan di Rumah Jabatan Bupati Sikka, Rabu (17/08/2016). Oleh karena itu, tentu saja pertanyaan di atas bukan untuk kepentingan main-main atau sekadar mencari sensasi. Pertanyaan ini, menjadi titik tolak dari segenap otokritik yang dihadirkan Aletheia Ledalero berkaitan dengan realitas dan makna “kemerdekaan” bagi rakyat Indonesia kini.

Kritik dalam Dua Babak

Pentasan teater dibagi dalam dua babak. Masing-masing babak merepresentasikan dua waktu atau masa yang berbeda. Babak pertama menampilkan profil seorang pejuang (diperankan oleh Andi Saup) mengenakan kaos putih robek-robek dengan percik-percik darah di tubuhnya. Dahinya berbalut selempang merah putih.Wajahnya garang, siap menerjang musuh yang datang dengan bambu runcing di tangan. Pejuang itu berupaya untuk menampilkan suasana perang sambil mendeklamasikan puisi “Aku” karya Chairil Anwar. Musik bersuara keras dan bernuansa semangat. Adegan ini begitu menggetarkan dan ditutup secara klimaks dengan bunyi dentingan senapan yang memaksa pejuang untuk menghentikan perlawanannya. Sebelum meregang nyawa, sang pejuang masih sempat meneriakan kata ‘Merdeka’ hingga tiga kali yang diikuti secara semangat oleh seluruh undangan yang hadir. Sebuah indikasi bahwa mereka pun terbawa pada suasana patriotic yang dibangun oleh Andi. Setelah itu, lagu Gugur Bunga mengiringi kepergian sang pahlawan.

Tepat pada saat lagu selesai dan bagian humming dinyanyikan, masuklah seorang pemuda tanpa baju (diperankan oleh Ervan Mau). Latar panggung menampilkan kesan eksotis. Di kiri penonton, ada dua orang memerankan ODHA (Orang dengan HIV dan AIDS) dan di sebelah kanannya ada kurungan kayu berisi dua manusia diikat dengan tali. Mereka tampak kesakitan. Di sisi peti kayu itu terdapat tulisan diskon 50% yang mengindikasikan bahwa kedua orang ini dijual. Di tengah-tengah ada bendera merah putih berkibar dengan gagah. Sementara tepat di belakang bendera, sebuah kursi berisi uang dan tulisan rupiah berdiri tegak. Tampak lima orang sedang melakukan penyembahan terhadap kursi dan uang-uang tersebut.

Pemuda itu kebingungan. Ia berjalan ke arah bendera dan memberi hormat. Suasana kontras terjadi. Optimisme pahlawan sebelumnya berganti pada pesimisme hampir total dalam diri sang pemuda. Panggung Monolog pun dimulai. Dengan gairah, semangat anak muda, pemuda itu mengenang jasa para pahlawan yang mengorbankan segalanya untuk kemerdekaan. Lalu, secara satire ia menertawakan kemerdekaan itu. Sebuah gugatan. Sebuah kritik atas realitas miris di bumi pertiwi yang sudah 71 tahun lepas dari tangan penjajah. Paradoks kemerdekaan kita itu kemudian disuarakan secara sinis dan gamblang oleh pemuda. Sambil menunjukan kondisi panggung, Ervan berteriak:

Merdeka berarti bebas. Bebas dari tekanan. Bebas dari stigma. Bebas dari penyakit. Bebas dari penipuan. Bebas dari perbudakan rupiah dan bebas dari nafsu kuasa.”

Secara tiba-tiba, pemuda itu dijegal oleh orang-orang yang melakukan penyembahan uang. Ia kesakitan. Tubuhnya dipukul bertubi-tubi. Ia kemudian memegang bendera, dan dengan nafas tersenggal-senggal ia berteriak:

Merdeka berarti mati demi kebenaran.”

Publication1Paradoks Kemerdekaan

Teater yang ditulis oleh Selo Lamatapo dan disutradarai oleh Ge Mario ini memang sarat muatan satire dan kritik. Pertama, teater ini ingin menyuarakan sisi paradoksal kemerdekaan kita. Negara ini memang sudah 71 tahun merdeka, tetapi dalam banyak hal kita belum benar-benar merdeka. Ideal kemerdekaan yang dicita-citakan oleh para founding fathers kita masih jauh panggang dari api. Kita belum merdeka dari pelbagai praktik ketidakadilan dan korupsi; dari proyek kemiskinan struktural; dari stigmatisasi dan pelanggaran HAM; maupun dari pelbagai belenggu persoalan yang lahir karena kelalaian anak bangsa sendiri.

Teater ini,  ingin mengajak sekalian anak bangsa untuk tidak lelap dalam buaian kata “merdeka” yang secara ritualistik diteriakan setiap upacara 17 Agustus. Kita harus kritis dalam menilai kemerdekaan kita. Kemerdekaan bukan diisi dengan melakukan penjajahan baru, melainkan harus dijejali dengan proyek yang mensejahterakan semua orang.

Kedua, teater ini serentak menyuarakan suara kaum tak bersuara, kaum terbuang dan terpinggirkan di negara merdeka ini. Secara lokal, isu human trafficking, HIV dan AIDS dan Korupsi di kalangan pemerintah menjadi isu yang selalu aktual di NTT. Para korban human trafficking adalah orang-orang malang yang menjadi budak di Negara sendiri.Para ODHA (orang dengan HIV dan AIDS) kerapkali mendapat stigmatisasi berlebihan dari masyarakat sehingga menimbulkan viktimisasi korban. Isu korupsi dan pemberhalaan uang dan modal juga disimbolisasi dengan jelas dan menarik. Kekuasaan yang mampu membunuh sang pemuda juga mengggambarkan realitas minor di negri ni bagaimana perlawanan terhadap kekuasaan selalu gagal dan berakhir dengan kematian.

Dengan simbol yang mudah ditangkap penonton, kata-kata pemeran yang yang menyengat dan jelas serta tidak berbelit-belit, teater ini mampu menampilkan kritiknya secara tajam dan akurat serta relevan dengan kondisi terkini. Sebagai representasi suara-suara kritis dan anti-kemapanan, teater Aletheia sukses untuk memberi renungan kemerdekaan secara estetis dan tajam bagi segenap hadirin yang hadir, termasuk bagi bapak Bupati dan Wakil Bupati Sikka yang menjadi pihak penyelenggara upacara bertajuk resepsi kenegaraan ini.

Semoga renungan kritis dan estetis ini bisa menjadi cemeti yang mencambuk para pemegang tampuk pemerintahan untuk bekerja secara nyata dengan lebih keras bagi nian Sikka dan bumi persada Nusantara, agar kemerdekaan kita tidak lagi menjadi seperti kata mendiang Widji Thukul,”seperti nasi yang ketika dimakan berubah menjadi tahi.”


Johan Paji, Anggota Teater Aletheia Ledalero

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here