*) Anjrah Lelono Broto

1/
Rintik Hujan

Hingga seperti hujan turun tak putus-putus rintiknya. Namun, tak pernah ada yang menghitung, bahkan sekedar mengira-ira berapa jumlahnya. Sementara, ketika mencapai tanah, rintik tadi ada yang lesap meresap, rintik tadi ada yang mengalir menjauh, tanpa memberi jawab.

Hujan membaca denyut nadimu. Sesak nafasnya. Sesak senyumnya.

Puisi telah terhunus. Genggamannya tak ragu memberangus. Perempuan-perempuan mengutip bebait puisi itu di jala kasmaran terbungkus. Lelaki mana yang akan jatuh cinta lebih dulu jika hujan masih turun hingga terbit pagi? Laki-laki mana yang membuka dada pertama kali bila rintik hujan tak jua berhenti? Sedangkan gaun-gaun tidur perempuan itu telah menjuntai, dan temaram cahaya kamar tak mampu lagi dipuisikan.

Hujan berhenti. Sesak nafasnya. Sesak senyumnya.

Kesaksian dedaun basah menjadi tiang kisah. Siapa yang akan mati di tengah rintik hujan berdawai? Nama siapa yang akan terukir di nisan esok kala hujan luruh tanpa putus-putus? Sementara, epitaf  tentang kematian dan hujan belum memilih pujangganya.

Trowulan, 2016

2/
Solitude

Bangku tepi jalan berbisik; malam beranjak renta. Anginnya bersaksi dalam bisu; hujan masih mengalir membawa pesan perjalanan. Suara perempuan itu terdengar melankolis. Tembang-tembang sweet memories membangunkan rerindu-leluka berabad masa. Iringan denting dawai berima-berirama meniup berulang rerindu-leluka itu.

Ingatan tentangnya mengundang tanya lugu; Dimanakah hulu sungai rerindu-leluka itu sekarang? Telah berapa isapan si mungil menggayuti dadanya? Petualang beruntung mana yang sekarang mengisap tengkuknya? Andai hulu sungai itu juga menengadah sekarang, bintang mana yang sedang dipandangnya malam ini? 

Malam memang benar-benar tua. Bisikannya dewasa. Namun seperti petapa yang sedang jatuh cinta, bisikannya masih manja, walau dingin menusuk kulit, walau dingin menghunjam jantung. Malam menemaniku mengingatnya kembali pada hulu sungai rerindu-leluka yang telah tidur di lipat lupa.

Jika esok ku beranjak ke kotanya; Apakah malam di sana juga sedewasa di sini?

Trowulan, 2016

3/
Cassanova Tidak Mati di Venesia

Pesona malam terbetik dalam lagu dendang, kau tertawa
saat aku mengejanya patah-patah. “Lelaki perkasa
bisa menyanyikan malam meski parau,”
katamu membantaiku. Aku bersendawa sejengkal
dan kubiarkan perempuan-perempuan berdada mengkal
beralih pandang padamu yang mengangkat kepala.
“Cassanova tidak mati di Venesia,” aku membanting
kernyit dahi, lalu melirik sebentar bayang wajah
yang mirip denganku di kaca wisma, “Dia
hidup beratus tahun kemudian di benak-benak
para lelaki penuh syukur,” sambungmu
kian tengadah. Bulan di atas kami sedikit
memiringkan kerlingnya. Malam bertambah usia.
Beberapa perempuan berdada
mengkal pun tinggalkan aroma parfum di sudut-sudut sofa.
Aku tahu makna kerling bulan itu.
“Mengapa kau diam saja sejak senja tadi?” tanyamu
akhirnya, “Apa kamu bukan lelaki yang pandai
bersyukur? Kenali Casanova pada dirimu
maka kau akan berhenti menjadi arkeolog
dan menjelma lelaki perkasa yang bisa menyanyikan malam,
meski parau,”

Trowulan, 2016

4/
Nampan Pencakan

laksana nekara
kepala kangmas keras, bergaung beringas
titian bambu bersuit sakit
saat kangmas menginjak punggungnya senja
tadi

     kangmas temui risau
     dengan hunusan pisau
     aku tak ngeri, tapi kalau
     ada darah kutah malam ini
     siapa nanti yang akan mengaji

di halaman
rumah tempat kita dibesarkan
kita berdiri berhadapan
keringat kangmas berkilat diampu sinar bulan

para perempuan menjeritkan doa tanpa palang
aku menanti
dengan mulut penuh pinang, sirih,
juga gemeretuk gigi lirih

sembah takzim pada buyut,
pada simbah, pada bapa, pada biyung
janji kami,
salah satu menyusul ke lindung
lewat tiga kembangan, pukulan, sapuan

Trowulan, 2016

5/
Goda

Berdiri satu kaki di bawah air riammu, kau peluk
jejak sirip-siripku sembari menuliskan sajak berlekuk
pinggul menggoda. Pandangan kita sekali saat bertumbuk
dan baris-bait sajakmu kueja dengan hela nafas berkecamuk.
Kusuai keluh, juga kesah, serta amarah mengamuk
di memoar lelaki dahulumu. Nyanyianmu adalah lagu pungguk
meski melingkar telah sebentuk cincin di jemari menyerbuk.
Kau bukan yang pertama
berdiri menikmati butir-butir air riam perempuanku,”
kau bergumam dengan dada terbelah
dan aku melipat sajakmu dengan tengadah.

Kedua telapak tangan ini lalu
membelai air riammu penuh sungguhan.
Bulan sembunyikan senyum malu
di punggung bukit mengucap: “Silahkan”.
Kemudian kita menari dengan irama rindu sewindu
dan sajakmu pergi melambai tanpa tangan.

Trowulan, 2016

6/
Perempuan di Bibir Pintu

Dinding kayu sembunyikan tubuhnya
sebahu bawah. Kau berkidung
di bibir pintu dengan keriungan
rindu malu-malu. Mata indahmu
berikan tanda “tidak”, sementara lakuku
hanya sedelapan tombak dari pintu.
Aku lalu memilih menjadi Abu
Walau Iyem hanya seperseribumu.

Trowulan, 2016


unnamedAnjrah Lelono Broto, lahir di Jombang Jawa Timur pada 03 Juli 1979. Alumnus Jurusan Pend. Bahasa dan Sastra Indonesia STKIP PGRI Jombang ini aktif esai, cerpen, serta puisi di sejumlah media masa (baik berbahasa Indonesia maupun berbahasa Jawa), seperti SURYA, Harian Media Indonesia, Surabaya Pagi, Harian Umum Pelita, Banjarmasin Post, Pikiran Rakyat, Lampung Post, Riau Pos, Wawasan, Harian Bhirawa, Radar Mojokerto, Solo Pos, Jaya Baya, Panjebar Semangat, dll. Manajer artistik di Teater Kopi Hitam Indonesia ini juga pernah menjadi redaktur Jurnal Kebudayaan JOMBANGANA, terbitan Dewan Kesenian Kabupaten Jombang (DeKaJo) dan menjadi pengasuh acara Talkshow Belajar Sastra di Radio Suara Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Jombang dan bergiat di Bengkel Sastra Benteng Jagad (BSBJ) hingga kini.

Beberapa karyanya adalah Syukuran (naskah monolog, 1998), Lelaki Terbuang (saduran naskah teater Perampok, 1998), Blossom In The Wind (saduran naskah teater, 1999), Lilih (antologi geguritan, 2004), Negeri Di Angan (antologi esay, 2008), Esem Ligan Randha Jombang (antologi geguritan, 2010), Orasi Jenderal Markus (naskah monolog, 2011), Pasewakan (antologi geguritan, 2012), Meletakkan Cinta Pada Hati (antologi puisi, 2013), Tasbih Hijau Bumi (antologi puisi, 2014), dan Emak, Sayak, Lan Hem Kothak-Kothak (antologi cerpen berbahasa Jawa, 2015).

Anjrah Lelono Broto sekarang menempuh S-2 di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) dan dapat dihubungi di, anantaanandswami@gmail.com, http://www.facebook.com/anjrahlelonobroto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here