Genits Di Malam Puisi

0
102

*) Ezra Tuname

Merayakan puisi di malam hari memang sesuatu yang genit. Genit, bukan lantaran puisinya saja tetapi juga lantaran malam-malam baca puisi. Genit sekaligus unik karena diselenggarakan di kota yang persis “olah sastra”-nya sangat kurang. Ketika malam orang berjibaku dengan nyamuk dan lelah setelah “berjemur” dalam terik, ada saja anak muda yang repot menciptakan romansa malam kembali puitik. Anak-anak muda itu Genits.

Genits merupakan generasi muda yang gemar sastra di Kota Borong, Kabupaten Manggarai Timur. Tidak semua generasi muda memang, hanya sekitar 50 (lima puluh) pelajar plus guru-guru yang tergabung dalam Genits. Genits adalah kependekan dari “Generasi Tulis Menulis Sastra”. Sebagian besar mereka itu remaja-remaja cakap dan manis di SMA Pancasila Borong.

Karena sastra, mereka mau bergabung dalam Genits. Karena  Genits, mereka mau terus berlajar dan berkarya dalam sastra. Semua itu karena Genits didirikan sebagai komunitas sastra pada awal bulan Agustus 2016. Mereka menulis karya sastra dan punya buletin Genits yang cukup serius. Genits pun menjadi satu komunitas khusus yang bernaung dalam lembaga pendidikan SMA Pancasila Borong.

received_896124560532397-01-02Betapa indahnya malam di Borong jika suara-suara manis membelah keheningan malam dengan berpuisi. Suara-suara itu menggelegar  dan merayap di antara sepi yang volatil. Malam pun tak lagi sepi. Malam itu dirasakan pada malam di hari Selasa, 20 September 2016. Malam Puisi diselenggarakan oleh komunitas sastra Genits di halaman SMA Pancasila Borong.

Malam Puisi sebagai proses awal apresiasi sastra berjalan baik. Tak ada hujan yang datang tiba-tiba mematikan bara api unggun di halaman. Keindahan Malam Puisi menyatu dalam lingkar kehagatan di sekitar api unggun. Remaja-remaja Genits melepas senyum saat tangan mereka saling ikat di awal acara Malam Puisi itu. Itu tanda, semarak sastra siap digelar dari jam 06.30-09.00 pm.

Minat atas sastra, khususnya puisi, perlu dirayakan bersama-sama. Sejatinya puisi yang baik selalu berstandar pada apresiasi, bukan hanya diam pada kertas-kertas diari. Puisi bukan diari; puisi itu “catatan harian” yang ditulis secara puitik dan prosaik. Puisi pun tak mesti panjang, asalkan ia rayakan sepanjang hayat. Puisi menjadi “sesuatu banget” bila ia tidak hanya ditulis, tetapi diapresiasi dan dihayati dalam hidup sehari-hari.

Suara merdu saat baca puisi meniup bara api sastra di malam itu. Intonasi, mimik dan penjiwaan atas puisi menghanyut suasana dan memandu sorai pada pendengar malam itu. Musik mengiring bait-bait puisi menari saat terbaca. Malam Puisi benar-benar dulce et utile.

received_896131603865026-01Markel Narek, seorang calon rohaniwan Katolik ordo Societas Verbi Divini (SVD), sangat bangga atas terselenggaranya acara Malam Puisi Genits yang bertama “September Ceria”. Dengan mimik wajah tersenyum, ia mengurai keceriaanya, lantas terdorong untuk terus membina dan menuntun generasi Genits. Sebagai pengampuh Genits, Markel Narek tampak bertekad untuk melebarkan rentang sayap minat sastra pada generasi muda Genits. Tidak ada cara lain selain belajar bersama, tulis terus dan rajin berapresiasi. Bersastra berarti menulis.

Dengan menulis puisi, seseorang menjumpai gerbang inspirasi dan dengan enteng membukanya. Saat gerbang itu terbuka, ide datang bagai babi hutan yang tambun. “Karena ide itu liar, maka perlu dikandangkan!”, begitu slogan Genits. Penyair “mengkandangkan” ide-ide itu dengan detak rasa yang super sensitif dan kata yang metaforik. Jadilah puisi yang dirayakan oleh penyair itu sendiri dan dirawat oleh peminat sastra.

Tetapi merawat sastra tidak berhenti pada menjaga karya-karya sastra itu sendiri. Merawat sastra juga menumbuhkan minat dan motivasi generasi muda pada sastra. Maka apresasi yang tinggi pantas diberikan kepada komunitas sastra Genits yang telah hadir merayakan sastra bagi generasi muda minat sastra di kota Borong, Kabupaten Manggarai Timur. Teruslah bersastra remaja-remaja Genits. Meminjam ungkapan Primo Levi, “kepakanlah sayap kupu-kupu kecilmu maka akan terjadi badai tornado di California”. Setidaknya, ada “musim barat” sastra di kota Borong.

Salam sastra, Genits!!!
received_896131563865030-01


Ezra Tuname, sastrawan, peneliti dan aktivis, menetap di Borong Manggarai Timur

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY