DI TEPI JALAN BIRU, Sajak-Sajak Fitri Wolos

0
121

*) Fitri Wolos

Detikku dan Kopiku

Aku minum segelas kopi yang disuguhkan sama dengan cangkirmu kemarin
Aku duduk di sofa tempat engkau duduk
Masih ada sisa kehangatan di sini.
Dan aku menatap lukisan yang sama denganmu (kemarin)
Bibirku menyentuh bekas bibirmu di sudut cangkir
Ini hangat dan hampir saja cangkirnya retak.
Lidahku juga seperti terbakar karena ingin berteriak,”Bolehkah kita meneguk kopi berdua,di
sini?”
Tetapi engkau tak menjawab karena engkau tentu tak mendengar
Itu di dalam kopiku bukan kopimu.

Aku begitu berapi-api meneguk hitam pekat yang pahit
Jujur saja, aku tak suka kopinya pakai gula
Karena saat kubayangkan lesung pipi dan satu gigi taringmu yang menonjol, kopi ini pun langsung manis
Aku tak sedang merayumu, apalagi memanfaatkan kopi yang nikmat ini
Aku hanya sedang bercerita bagaimana detik demi detik kulalui untukmu
Jika engkau merasa dirayu, balaslah puisiku ini.
Tuliskan tentang detikmu dan kopimu.
Oh  maaf. Lipstik merahku tertinggal di bibir cangkir
Engkau boleh menghapusnya dengan bibirmu.

Teka-Teki dan Doa

Karena tindakan adalah teka-teki
Mungkin kata dapat menjadi jawaban
Ketika kata pun menjadi teka-teki
Maka berharaplah pada doa
Karena tangan yang mengatup mengalirkan kesungguhan kata
Kemudian tindakan tak akan lagi bersembunyi kala waktunya tiba

Di Tepi Jalan Biru

Hanya demi seteguk hitam yang nikmat
Kita menerobos malam yang hampir dingin
Banyak senandung hanya habis terdengar oleh aspal
Dan kita? Masih saja sibuk menatap
Tatapan kita hanya berbenturan antara mataku, matamu dan matanya
Cukup disitu. Dan sampai di tepi jalan biru.
Tak ada cerita yang usai
Apalagi hening sempat  meredam segala hiruk pikuk alam
Bahkan purnama ikut merasakan kenikmatan
Karena kita berjalan dalam gelap
Dan hitam menemani tanpa segan
Tujuh orang tepatnya.


Fitri Wolos adalah anak tunggal dari pasangan Petrus Sais Wolos (Alm) dan Maria Wenefrida Lendo. Bagi Fitri, sangat penting memperkenalkan kedua orang tua, sebagai bentuk penghargaan atas jasa orang tuanya. Pemilik nama lengkap Anastasia Safitri Wolos adalah lulusan Universitas Negeri Padang. Fitri lahir di kota, Ruteng pada 3 September 1993. Kini, Fitri yang juga biasa di sapa Pitik (nama kecil) adalah guru di salah satu SMP Swasta di kota Ruteng. Fitri menulis puisi karena puisi telah mengabadikan sebagian hidupnya. “Puisi adalah aku.”, begitulah Fitri menghayatinya. Fitri juga merupakan anggota Komunitas Sastra Hujan Ruteng.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY