SESEORANG YANG BERBICARA KEPADA SENJA, Cerpen Dira Ariza

0
148

*) Dira Ariza

Dalam keremangan senja, foto-foto usang tak sengaja kutemukan sedang terselempit bersama berkas-berkas pekerjaan yang entah sudah berapa lama dan berapa tahun. Aku tertawa. Tak usah kuceritakan seperti apa aku tertawa. Pun aku menangis menengok lembaran foto selanjutnya. Juga tak perlu kujelaskan betapa sedihnya aku menangis karena aku yakin tangis selalu berteman dengan kesedihan. Kulang-ulang melihat segepok foto yang berisi kenangan. Memang seharusnya aku mengatakan bahwa foto selalu berisi kenangan dan akan selalu begitu. Tapi semanis kenangan yang diabadikan dalam foto pasti menangis juga ketika berapa lama dan berapa tahun ke depan dilihat apalagi dirasa. Setelah kulihat, aku menyadari bahwa yang kulihat bukan kenyataan melainkan sebuah foto usang dan memang hanya sebuah foto. Betapa pahitnya kenyataan.

Aku masih duduk dan berpikir betapa menyenangkan apabila waktu mengizinkanku untuk dapat kembali ke dalam kenangan di foto yang sedang aku lihat, ratapi, dan rasakan. Tapi apa mungkin waktu mengizinkan? Betapa hakikat waktu selalu mengalir begitu saja, tiada pernah mungkin setiap detiknya akan selalu sama. Mengingat ini aku jadi teringat cinta lama. Antara Aulia dan Bintang. Keduanya begitu memesona. Aulia dengan kebijaksanaannya melawan masalah, keanggunannya, dan kecerdikannya menghadapi tipuan. Sedangkan Bintang tak jauh beda, dilihat dari namanya sudah menggetarkan perasaan bertambah pula dengan kecantikan serta kebaikan hati yang tiada pernah terkira. Aku menceritakan mereka berdua karena memang segepok foto yang kupegang dengan hati ini adalah bagian dari kenangan mereka berdua.

Daripada meratapi sebuah foto dan kenangan yang tiada habisnya, kusekat waktuku untuk beranjak pergi. Namun, sialnya foto-foto itu kembali menarik hatiku yang lama sudah terpaku. Kuambil lagi, kulihat, kurasakan, dan akhirnya aku dapat sedikit menghiraukan tarikan hati itu. Aku bilang hanya sedikit yang artinya terpaksa kubawa foto-foto itu bersama langkah keberanjakanku dari sebuah ruangan kerja yang di sampingnya terdapat kaca yang berubah keemas-emasan akibat ulah senja yang selalu begitu.

Aku kira foto-foto ini berisi kenangan yang begitu menganggu. Betapa tidak, baru saja beberapa menit melihat-lihat hatiku langsung terjebak ke masa lalu yang sebetulnya sangat dan begitu ingin kuulang kembali tetapi sudah kukatakan bahwa waktu tak akan pernah mengizinkan. Aku harus membuang ini. Harus kuakui berat untuk membuang bahkan aku tak mampu. Mungkin tak baik bila kenangan harus dibuang begitu saja maka jalan yang tepat adalah menyimpannya walau suatu saat entah kapan dan di mana aku akan teringat begitu saja dan kesedihanlah yang akan selalu terjadi.

Sampailah aku di sebuah garasi tua milikku sendiri. Terdapat beberapa benda yang sangat usang tersimpan di dalamnya, pernah terpikir untuk menjualnya tapi aku ingatkan kembali karena setiap barang yang kupunya mengandung kenangan yang diharamkan untuk dibuang begitu saja. Barangkali segepok foto ini yang mengingatkanku mengenai kandungan kenangan barang-barang di sini. Lelah rasanya ketika pikiran selalu diliputi kenangan yang ingin selalu diulang tetapi mengingat kenyataan tak akan pernah bisa mengulang kembali. Kuputuskan untuk duduk di sofa tua yang tentunya termasuk dalam barang-barang yang kuceritakan tadi. Lagi dan lagi kubalik-balik segepok foto yang naasnya kutemukan walau hati tak sedikit pun ingin menemukannya ketika kekelaman senja mulai menular.

Aulia dan Bintang, tiada terkira kelembutan hati mereka berdua. Bersedia kumadu meski terkadang pertikaian kecil terjadi di antara keduanya. Garasi ini apa ada hubungannya dengan mereka berdua? Barangkali dan memang hanya barangkali ada. Aku mencoba mengingat-ingat meski hati mencoba melarangnya. Tapi keinginan selalu membutakan hati maka aku berhasil mengingatnya dalam keadaan senja yang kekelaman dan keremangannya menjalar kepadaku.

Dulu kala dan memang dulu kala, Aulia dan Bintang sering mampir ke garasi ini. Keduanya bagaikan semut dan semut yang tiada pernah memikirkan sebuah pertikaian. Kedamaian selalu tercipta. Mungkin barangkali kedamaian yang terjadi di awal adalah arti dari sebuah kehancuran. Garasi ini, hanya di sini. Kami mengguncang canda tawa. Kami berbagi cinta dan rasa. Tak lain kami adalah keluarga. Tapi kurasa bukan, bagaimanapun sepertinya sebuah keluarga tak akan bisa terpisahkan. Sedangkan kami? Perlu kata yang lebih dari berpisah untuk menjelaskannya. Dengan kemampuan bahasa yang seperti ini aku tak mampu menggambarkan betapa hancurnya hubungan kami setelahnya. Apa pentingnya aku membahas ini semua mengingat tak akan pernah bisa terulang kembali. Barangkali kalian ingin mengetahui mengapa segalanya dapat berubah semacam ini. Segalanya bermula dari ketika senja tiba persis ketika ini aku menceritakan ini. Senja yang biasa. Tiada mendung juga angin. Bintang datang sendirian lagi dan lagi ke garasi ini. Saat itu aku sedang duduk manis di sofa yang kuanggap usang ketika aku menceritakan kisah ini kepada kalian yang entah itu siapa. Tak biasanya Bintang datang sendirian karena biasanya ditemani Aulia.

Aku masih ingat dan akan selalu ingat nada dan ucapan Bintang kepadaku waktu itu. Bibirnya basah, nada bicaranya kasar, tapi aku selalu menganggap itu adalah keindahan.

“Aku tahu semuanya. Terbongkar sudah kedokmu selama ini.”
“Apa?”
“Tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.”

Aku tahu ada apa-apa di balik ucapannya kala itu. Ada sesuatu baik bagus atau buruk meski aku tak tahu pasti jadi kubiarkan saja kata-katanya itu mengalir. “Jadi? Apa yang akan kita lakukan?” aku mengajukan pertanyaan yang begitu tak pantas terucap kepada seorang yang barangkali sedang berapi-api.

“Tidak usah apa-apa.”

Aku pastikan kali ini, ada yang tidak beres. Meski aku tahu firasat ini benar, tapi aku biarkan begitu saja. Aku tegaskan lagi, bilamana kejadian ini terulang kembali pasti tak akan kubiarkan aku acuh akan hal ini mengingat keesokan harinya kabar duka membumkamku. Aulia, ya, dia yang begitu manis dari apa yang ada telah mati terbunuh. Tak akan kusesalkan bila ia mati karena sakit atau sebuah takdir, tapi ia tiada dengan cara yang membuat hati ini terbakar. Kala itu hanya tinggal Bintang seorang, memang ia juga memikat. Tapi hati ini terasa tak enak bila tiadanya Aulia.

Ah, Aulia. Dirimu begitu cantik. Andaikata ada sebuah mesin waktu. Akan aku tumpangi agar membawaku kepada masa-masa bersamamu, akan kupinang kau dan akan kujaga dengan hati-hati hubungan kita. Andai saja, andaikan aku bisa mengubah sejarah meski semua orang akan mencaci betapa tidak adilnya diriku mengubah sejarah untuk kehadiranmu seorang. Karena bisa saja sejarah diubah untuk menyelamatkan jutaan orang, tapi aku dengan keegoisanku memilihmu seorang.

Kenangan ini membuatku benar-benar gila. Hingga dengan sadar aku berbicara kepada senja tentang kegelisahan yang hadir. Kutumpahkan segala rasa. Rasa dari sebuah kenanangan lama yang tiba-tiba mencekik. Oh, senja yang merah dan keemasan sinarnya. Terimalah segala tumpahan rasa yang kuutarakan kepadamu sore ini. Betapa pun aku telah pandai mengetahui hakikat dari waktu yang akan selalu mengalir. Aku memang keras kepala, wahai senja. Keras kepala, memang. Sudahlah, aku hanya memohon antarkan aku kembali menuju dimensi waktu yang usang, tepatnya pada kala itu.  Saat aku duduk bersamanya, ketika waktu mengizinkanku untuk bebas menatap matanya yang biru seperti air laut. Engkau, tak pernah tahu, wahai senja, betapa matanya yang biru itu sungguh indah. Indah sekali, atau barangkali kau juga menyaksikan. Indah, bukan? Ah, aku perlu kata yang melebihi indah untuk menjelaskan ini kepadamu. Senja, senja, tolong katakan pada temanmu, waktu dan tolong jelaskan bahkan marahilah dia. Betapa bodoh dan jahatnya temanmu itu membawa pergi selamanya Aulia yang telah kujelaskan berkali-kali betapa kecantikannya melebihi batas normal. Aku begitu gila padanya. Senja, heh, apa kau tidak mendengar? Katakanlah pada temanmu itu, marahi dia sampai mati meski ketiadaannya dapat berdampak buruk bagi umat manusia.

Masih dalam keremangan senja, seseorang yang berbicara kepada senja itu masih terus saja memohon. Perkataannya begitu tulus menyiratkan penyesalan yang amat masih menyiksanya. Amat tulus seperti doa yang timbul dari bayi yang baru lahir. Senja dan waktu, memang tak terpisahkan. Mereka berteman. Ketulusan yang selalu keluar dari untaian kata-kata mengantarkan seseorang itu hingga menuju ke masa yang diinginkannya. Masa yang begitu ia impikan untuk terulang kembali.

Senja yang baik hati. Terima kasih, aku telah kembali ke masa-masa itu. Seperti mimpi rasanya, aku dapat melihat dan mendengar sosoknya. Meski, kusayangkan, diri ini bergetar. Sungguh bergetar tubuhku melihat kehadirannya. Aulia di depan mataku, sedang menatapku dan akan melontarkan pertanyaan mengapa aku berubah aneh seperti ini. Bagaimana tidak, wahai senja, apa yang aku lakukan? Apa yang harus aku katakan padanya? Kata-kata di otakku seakan terbatas. Betapa lucunya bila aku langsung menuju ke topik dan bicara blak-blakan bahwa ia akan mati besok. Lucu sekali. Aku perlu perkiraan, mohon tunggu sebentar ya wahai senja.

Aku masih bersama Aulia untuk menjaganya. Kuputuskan ini adalah pengalaman yang paling berkesan. Aku memegang erat tangannya di bawah sinar kerlap-kerlip bintang. Kami saling mengoper canda tawa yang begitu segarnya. Kutatap langit ketika Aulia yang sedang kujaga sedang bersandar di bahuku, ia aman dan akan kupastikan ia tak akan mati, esok hari. Aku menjaga dengan hati.

Kutatap betul langit hitam, aku teringat sesuatu, seseorang. “Ada apa?” Aulia bertanya.
Aku menengok. Lalu menjawabnya dengan sebuah belati dari saku celanaku.
Wahai senja dan waktu, mengapa aku bisa lupa?

 


Dira Ariza lahir di Blora tanggal 27 Januari 2001. Merupakan remaja perempuan yang giat menulis cerpen. Kecintaannya dalam dunia sastra merambah sejak SMP hingga ia ditunjuk untuk menjadi ketua redaksi buletin “Samin Mustika” di sekolahnya. Email: rizadra27@gmail.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here