TO UWENTIRA, Cerpen Windyani

0
78

*) Windyani

Pria itu berjalan cepat mengelilingi pasar dengan wajah memerah. Dia tidak tahan lagi mendengar orang-orang di sana terus saja menggunjing tentang istrinya dan hidup yang mereka jalani.  Ingin sekali dia menghajar satu persatu mulut mereka.  Entah mengapa,  orang-orang di pasar terlalu sibuk mengurusi urusan orang lain. Sementara urusan mereka tidak pernah sekalipun diusik olehnya.

“Hey Uke,  kesini sebentar!” Panggil seseorang di depannya.  Orang itu adalah Rayi. Si Pria penjual ikan yang pertama kali dikenalnya sejak datang ke desa Dolago tempat tinggalnya sekarang.

Uke Sebenarnya tidak ingin berbicara dengan Rayi. Dia tidak tahan lagi berada di pasar berlama-lama. Dia tidak mau meladeni apapun perkataan mereka. Dia tahu bukan salah mereka menganggap istrinya seperti itu karena selama sebulan mereka tinggal di desa ini,  tak sekalipun Uke mengajak istrinya itu berjalan ke pasar atau menemui warga desa. Bagi Uke, pantang memperlihatkan sosok istrinya kepada warga desa.

Dengan langkah beratUke mendekati Rayi.”Ada apa?” tanya Uke sekenanya. Seperti biasa dia berbicara dengan suara sengau karena ada sedikit celah antara hidung dan mulutnya, bisa dikatakan Uke mengalami cacat sumbing.

“Kau sudah dengar apa yang dibicarakan warga?” tanya Rayi setengah berbisik.  Uke diam tak menjawab.

“Mereka bilang istrimu makhluk halus, to uwentira, ” lanjut Rayi lagi tanpa rasa malu. “Apa benar begitu?”selidiknya.Uke tetap bisu. “Kau harus membela diri,  buktikan saja bahwa itu tidak benar,”lanjut Rayi lagi.

“Semua yang mereka katakan memang tidak benar,” sela Uke. Dia mengepalkan tangan hingga kuku panjangnya menggores telapak tangan.

“Maka dari itu,  perlihatkan pada warga desa bagaimana paras istrimu. Kau tahu?  Mereka bilang istrimu tidak memiliki garis pemisah antara hidung dan mulut,” jelas Rayi penuh keyakinan.       

“Tapi aku tidak bisa, istriku hanya milikku dan tidak akan kutunjukkan pada siapapun,” sahut Uke menekankan. Sebelum akhirnya,  dia pergi tanpa melontarkan kata-kata berpamitan.

“Uke,  tunggu dulu!  Uke….”

Uke tak peduli lagi panggilan Rayi. Makhluk menyebalkan itu sudah membuat Uke hampir hilang kendali.  Dadanya berdesir hebat. Bahkan dia ingin sekali menerkam Rayi dan merobek mulutnya.

Dari ekor matanya, dia bisa melihat semua pedagang di pasar memerhatikan dirinya. Uke terus melangkah cepat seraya mengeratkan pegangan pada tas keranjang yang sedari tadi ditentengnya. Di dalamnya tergeletak beras merah dan beras putih,  sayur serta bahan makanan yang dibelinya untuk makan dia dan istrinya selama seminggu karena selama Uke tinggal di desa itu, dia hanya datang ke pasar di akhir pekan.

Sejak Uke dan istrinya datang ke desa itu, sepertinya warga desa tidak berhenti membicarakan tentang mereka. Orang-orang selalu mengatakan bahwa istrinya to uwentira atau yang artinya orang uwentira. Menurut desas desus warga,  Uwentira adalah kota gaib,  tempat para makhluk halus seperti jin tinggal.  Di sana adalah tempat yang penuh dengan warna kuning keemasan. Dan mereka meyakini to uwentira tidak memiliki garis pemisah antara hidung dan mulut.

Uke tidak terima apa yang dikatakan warga desa. Istrinya bukanlah to uwentira seperti yang mereka pikirkan.  Mengapa mereka tidak bisa memahami keinginan Uke yang tidak ingin memperlihatkan istrinya? Mereka benar-benar sudah sangat keterlaluan, membuat Uke merasa gusar.

Hari itu cuaca berubah mendung, padahal tadinya panas matahari begitu menyengat kulit.  Kepulangan Uke yang penuh amarah membuat segalanya berubah cepat.  Gerimis tiba-tiba jatuh ke bumi menyambut jejak-jejak kaki Uke yang melewati pematang sawah.

Uke tinggal bersama dengan istrinya di sebuah gubuk, di kebun milik Rayi. Rumahnya memang sengaja dibangun di antara pohon-pohon kakao dan sangat jauh dari pemukiman warga. Dia tidak ingin bersosialisasi dengan mereka. Tujuannya datang ke desa itu hanyalah hidup bahagia bersama istrinya.  Dia tidak butuh pengakuan siapapun. Tapi warga desa tidak bisa menerima sikap Uke, mereka begitu mencurigai istri Uke yang tak pernah mereka lihat.

Setelah Uke tiba di rumahnya, ia menyandarkan keranjang bambu di dinding lalu menghampiri istrinya yang sedang duduk diatas tempat tidur beralas tikar anyam lusuh. “Sayang,  apa yang mereka katakan tidak benar. Aku sangat menyukaimu. Kau juga menyukaiku kan?” gumamnya lembut lalu membelai kepala istrinya.

Istri Uke tidak menjawab,  dia hanya menatap datar ke arah Uke. Rambut panjangnya bergelantung melewati bahu tergerai begitu saja. Tampak tak terawat. Dia hanya duduk diam mematung.

Sementara itu,  di luar dua orang pria terkesiap menyaksikan pemadangan aneh di depan mereka. Bulu kuduk mereka seketika merinding.  Melalui celah kecil di balik jendela rumah Uke,  kedua pria itu mengintip diam-diam.

Tanpa sepengetahuan Uke,  dua orang pria mengikuti perjalanannya.  Mereka ingin memastikan makhluk seperti apa istri Uke yang sebenarnya hingga Uke menyembunyikannya. Tak lama kemudian, setelah mereka benar-benar yakin dengan apa yang mereka saksikan, dua pria itu akhirnya bergegas pergi meninggalkan rumah Uke.

“Ternyata benar apa yang digosipkan di pasar,” kata pria yang berperawakan lebih tinggi.
“Tentu saja, Uke itu sudah gila.”Timpal si pria yang lebih pendek dan kepalanya gundul.

“Kau lihat,  bagaimana mata istrinya menatap Uke? Sangat mengerikan.” Pria tinggi itu bergidik. “Kau lihat juga rambutnya? perempuan itu seperti nenek sihir, rambutnya acak-acakan,” tambahnya lagi.

“Tidak salah lagi, perempuan itu jin uwentira. Dia sudah memengaruhi Uke. Kita harus bertindak.” Nada suara si pria gundul penuh keyakinan.

“Tapi tunggu dulu,  perempuan itu seperti manusia.  Dia punya garis seperti ini.” sela si pria tinggi seraya memegang atasan bibirnya. Dia berusaha mengingat-ngingat.

“Ah,  tidak mungkin kau pasti salah melihat. Kita harus menyelamatkan Uke,  keluarganya pasti mencarinya, mereka pasti tidak tahu kalau Uke ada di kampung kita,” ujar Si pria gundul lalu mempercepat langkah mendahului si pria tinggi.  Dia ingin cepat-cepat sampai ke rumah Kepala Desa memberitahu apa yang barusaja mereka lihat.

“Hey Dola, tunggu saya!  jangan terburu-buru!” seru si pria tinggi, dia pun tak mau kalah dengan temannya itu. Bukannya berjalan menjajarkan langkah dengan Dola–si pria gundul, dia malah berlari.

“Kau curang,  hey jangan lari kau Panja!” Dola pun mengejar Panja–si pria tinggi yang telah melesat laju meninggalkannya.

***
Di rumah Kepala Desa,  seorang Ibu tengah terisak di pelukan suaminya.  Sementara itu,  di sekelilingnya berdiri beberapa orang penduduk desa yang telah membawa kedua suami istri itu.  Mereka terkejut ketika di pasar, keduanya menceritakan perihal anak mereka yang hilang.

Suami Istri itu jauh-jauh dari desa seberang untuk mencari anak mereka. Mereka telah mendengar desas desus yang beredar, hingga akhirnya mereka datang ke desa Dolago untuk membuktikan keberadaan anak mereka.

“Anakku…,” gumam Ibu itu tesedu sedu setelah mendengar apa yang diceritakan beberapa warga dan Kepala Desa.  Suaranya parau.

“Bagaimana ini? apa yang harus kami lakukan, Pak? itu pasti anak kami yang hilang bulan lalu,” ucap pria yang sedang memeluk erat istrinya yang menangis.

“Ibu dan Bapak tenang saja,  Kita akan menyelamatkan anak ibu dan bapak.” Saya akan mengumpulkan warga desa nanti malam dan pergi ke rumah Uke,” tegas Bapak Kepala Desa.

Dola dan Panja tiba di depan rumah Kepala Desa,  mereka merasa heran mendengar suara beberapa warga desa di dalam rumah. Setelah memberi salam, mereka bergegas masuk ke dalam rumah dan mendapati seorang Ibu yang menangis memeluk suaminya. Kemudian Dola dan Panja menceritakan semua yang mereka lihat di gubuk Uke. Mereka yang mendengar mulai merasa resah.

“Pak Kades,  kita harus cepat pergi kesana karena bisa-bisa anak Ibu ini menghilang di bawa to uwentira itu ke kotanya,” saran seorang Pria yang terlihat lebih tua dari semua yang ada di sana.

“Benar itu Pak Kades,” kata warga lainnya menyetujui. Suasana mulai tedengar riuh dengan pembicaraan masing-masing dari mereka.

“Tenang,  tenang…  nanti malam semua warga laki-laki berkumpul di sini.  Kita akan ke rumah Uke bersama-sama,” Putus Bapak Kepala Desa. Semua orang yang ada di tempat itu mengangguk mengiyakan.

***
Malam yang direncanakan tiba,  semua warga desa laki-laki usia dewasa telah berkumpul di rumah Kepala Desa. Mereka sedang bersiap-siap menuju rumah Uke.

Satu persatu mereka berjalan dengan masing-masing obor di tangan. Mereka harus melewati pematang sawah untuk sampai di sana. Malam kian mencekam,  tak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan suara.  Mereka sibuk dengan pikiran masing-masing yang akan mereka hadapi bukanlah orang biasa atau manusia seperti mereka.  Ada banyak kemungkinan yang mereka takutkan. Tak ada yang bisa tahu apa yang akan terjadi di waktu mendatang. Hanya Tuhan yang bisa membantu mereka saat itu. Harapan mereka hanyalah membawa anak itu kepada orang tuanya.

Setelah cukup lama berjalan,  mereka tiba di gubuk Uke.  Salah seorang dari mereka mengisyaratkan agar berhenti dan berjaga di luar gubuk sementara tiga orang dari mereka akan memeriksa ke dalam gubuk.

Tiga orang tersebut mulai mengendap-ngendap merapat ke pintu masuk. Mereka tidak ingin membuat Uke curiga keberadaan mereka.  Tapi sepertinya tak ada suara terdengar dari dalam gubuk.

Mereka terhenyak ketika perlahan membuka pintu gubuk lalu melihat seorang gadis terbaring tak sadarkan diri di tempat tidur kayu di sudut ruangan dengan tangan terlilit sepotong kain berwarna kuning. Tak ada seorang pun di sana selain dia. Mereka memeriksa ke bilik dapur tapi Uke yang mereka cari sudah raib.

Salah seorang dari mereka yang memeriksa berteriak,”Cepat kesini! Uke menghilang….”

Seorang Ibu yang mengaku mencari anaknya, menerobos masuk di antara beberapa orang yang juga berbondong bondong melangkah ke arah pintu. Wanita paruh baya itu lalu berteriak histeris.

“Salina… anakku!”

Wanita itu menangis sejadi-jadinya, bibirnya bergetar menyebut-nyebut nama putrinya.  Dia memeluk erat putrinya yang terbaring lemah. Dia mengusap- usap kepala putrinya,  mengecup kening gadis itu beberapa kali.

Warga desa benar-benar tidak percaya dengan yang mereka saksikan. Apa yang mereka sangka selama ini adalah sebuah kesalahan.  Uke telah raib entah kemana, tinggallah gadis itu– Salina yang diakui Uke sebagai istrinya. Warga desa hanya bisa terpaku menatap kasihan kepada Salina dan Ibunya. Sementara Dola dan Panja hanya saling berhadap-hadapan tak percaya karena rupanya mereka telah salah sangka.

***
Sebulan yang lalu ketika menjelang maghrib seorang gadis tampak mengendarai motor sendirian membelah jalan trans Sulawesi Poso-Palu. Wajahnya kuyu dan kelelahan.  Bagaimana tidak?  Sejak berangkat dari rumahnya, dia sama sekali belum menyentuh sedikitpun makanan.  Tenggorokannya mulai terasa kering kerontang karena kehausan. Dia pun berhenti di sebuah gubuk kecil terletak tidak jauh dari jembatan dan sebuah tugu yang berdiri kokoh.  Di tugu tersebut tertulis Ngapa Uwentira.

Awalnya gadis itu merasa takut,  karena di tempat itu tidak ada pemukiman warga.  Disekelilingnya hanya dipenuhi pepohonan yang menjulang tinggi. Gadis itu menarik napas lega ketika melihat seseorang duduk di gubuk itu. Seorang pria yang cacat di bagian bawah bibirnya.  Hasrat lapar gadis itu membuatnya tidak curiga sama sekali pada pria itu.  Dia pun meminta ijin untuk duduk sejenak beristirahat. Pria asing itu pun mengiyakan.

“Nama saya Salina,” ucap gadis itu sembari mengeluarkan kotak makanan dan sebotol air mineral dari dalam tasnya. “Kamu?”
“Saya Uke, ” jawab pria itu datar.
“Apa kamu sedang menunggu seseorang?” tanya Salina lagi.
Pria itu mengangguk. Dia tak banyak bicara.

Salina membuka kotak makanannya. Pria itu menghunuskan kerling matanya ke arah Salina. Gadis itu mulai menyantap nasi kuning yang dibawanya. Dia sadar sedari tadi Uke melirik ke arahnya. Sorot mata pria itu begitu tajam. Salina melempar senyum.

“Kau mau?” Salina menyodorkan kotak makanannya pada Uke.
Uke terkesima,  gadis itu menyuguhinya nasi berwarna kuning. Segaris senyum terlukis di bibir Uke.

“Gadis ini… aku benar-benar menyukainya.”

***
“Salina, jangan kau berangkat ke Palu sore begini,” suara khawatir wanita paruh baya yang telah memutih sebagian rambutnya memenuhi sebagian ruang makan. “Apalagi naik motor sendiri,” imbuhnya setelah berdehem pelan.

“Tidak bisa, Ma. Lina harus berangkat sekarang. Tidak hujan juga,” bantah Salina. Dia tak memedulikan larangan ibunya sembari menyiapkan makanan di kotak makan yang akan dibawanya.

Dengan dialek khas sulawesi tengah Ibu Salina kembali memperingatkan Salina. “Lina, tidak bae perempuan bawa motor sandiri ke Palu sore-sore apalagi so dekat maghrib. Badengar kalau orang tua kase tau.”

Salina yang sibuk sedari tadi mempersiapkan keberangkatannya, tetap saja teguh dengan keputusannya. Setelah semua persiapan selesai, gadis itu mulai menstarter motor maticnya.

“Ma, Lina berangkat dulu. Do’akan saja supaya Lina sampe di Palu dengan selamat,” ucapnya sambil mencium tangan Ibunya. Ibu Salina hanya bisa pasrah tanpa bisa berkata apa-apa lagi.

Ibu Salina pun hanya bisa menatap Salina dengan rapal do’a di dalam hati ketika gadis itu terlihat melaju pergi dengan tas ransel di punggungnya.

Poso,04092016

Terinspirasi dari artikel :Ket: http://pusakadunia.com/blog/kota-megah-dibalik-uwentira/

publication8


Windyani adalah nama pena dari penulis kelahiran Poso, 17 November 1990. Salah satu impian penulis adalah bisa memberikan hal bermanfaat melalui karya-karyanya. Beberapa tulisannya telah tergabung di berbagai Antologi Cerpen. Tulisannya juga pernah dimuat dibeberapa  harian lokal serta aktif di berbagai event kepenulisan. Untuk share dengan penulis ini bisa follow twitter @ndy_galery atau via akun Fb: Windyani.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here