Seni Mengajak Kau Berpikir, Bukan Menghibur

0
1237
http://www.uraikan.com/

“Seni membuat orang peka dan menyadari ketidakberesan dalam hidupnya. Seni bisa membuat setiap orang memberontak dan melawan sesuatu yang menindas”- Saut Situmorang

Setiap penyair yang dikenal dalam dunia sastra Indonesia memiliki keunikan. Keunikan itu dapat dijumpai dalam bentuk karya sastra yang dihasilkannya. Karakter tulisan seorang penyair bisa merepresentasikan sikapnya dalam menanggapi perkembangan dunia sastra Indonesia yang konon telah tercemar oleh berbagai kepentingan.

Pada masa Orde Baru, dunia sastra Indonesia didominasi oleh para sastrawan yang mengusung mazhab ‘seni untuk seni’. Dalam perkembangannya, muncul seorang penyair ala Rastafarian yang berbeda sikap dalam menanggapi isu itu. Ia dikenal sebagai penyair yang berani menentang apolitisasi seni oleh Orde Baru.

Penyair sekaligus politikus sastra yang lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara, 29 Juni 1966 ini memiliki semangat yang unik dalam hidup dan karyanya. “Lawan!” adalah kata yang cocok untuk  menggambarkan karakter penyair bernama lengkap Saut Situmorang ini.

Bang Saut, begitu ia akrab disapa, menjelaskan bahwa seni diciptakan bukan sekedar menghibur pembaca, tetapi membuat orang berpikir tentang sesuatu yang ditulis. Setelah berpikir, orang akhirnya menyadari persoalan hidup seperti ketertindasan, perampasan dan kekuasaan.

“Salah satu hukum seni adalah seni diciptakan bukan untuk menghibur saja, man. Seni mengajak kau berpikir karena ada persoalan yang terjadi dalam masyarakat,” ucapnya.

Begitulah bang Saut dengan santai berwacana soal sastra yang menjadi bagian dari seni. Dengan gaya rastaman sembari mengepulkan asap kretek, ia mulai membagikan pengetahuannya. Suara yang keluar dari tenggorokannya terdengar penuh energi.

Obrolan kami berlanjut pada persoalan esensi sebuah seni. Seni bukan soal hal yang segalanya diindahkan seperti karya para novelis pop zaman sekarang yang mendapat gelar Best Seller. Menurut bang Saut, karya best seller yang ringan dan populer bukanlah seni, juga bukan sastra.

“Seni tidak sekedar hadir untuk menghibur tapi mengajak kita untuk berpikir dan berdiskusi. Karya pop zaman sekarang hanya menghibur, hanya memaparkan persoalan di awal yang menjadi latar cerita saja,” ungkapnya. Ia menyebutkan bahwa Andrea Hirata adalah salah satu novelis pop yang karyanya tidak dapat dikategorikan sebagai sebuah karya sastra. Persoalan kemiskinan yang dimunculkan dalam novel Laskar Pelangi tidak dibahas akar permasalahannya tetapi hanya menganjurkan orang berusaha agar keluar dari kemiskinan. “Ini kan cuman menghibur orang agar bisa kerja keras, tapi nyatanya ada orang miskin yang berusaha keras namun gak kaya juga.” Menurutnya, persoalan harus juga dilihat lebih dalam lagi seperti dampak kemiskinan yang terkait dengan sistem kekuasaan kapitalisme.

Kontras dengan novel populer, novel yang ditulis oleh Pramoedya Ananta Toer menurut bang Saut adalah contoh karya sastra besar. Sebab, Pram mengajak kita berpikir tentang persoalan di bumi kita. “Isu seperti rasisme, feodalisme dibahas Pram dalam Tetralogi Buru. Ia mengajak kau berpikir tentang kenyataan yang terjadi di masyarakat. Itulah karya sastra,” tegasnya.

Bang Saut memberi contoh karya lain, yakni sebuah film Italia yang digarap pada zaman Musolini berjudul ‘Pencuri Sepeda’. Saat itu, orang sulit mencari pekerjaan. Salah satu pekerjaan yang bisa didapat adalah sebagai pengantar pos yang harus punya sepeda. Dengan susah payah, karakter utama pengantar pos di film itu membeli sepeda. Sayangnya, sepeda miliknya malah dicuri orang. Demi mempertahankan hidup dan tidak kehilangan pekerjaan, ia akhirnya mencuri sepeda orang lain. Saat sedang mencuri, ia ditangkap massa.

“Itu baru seni, cerita dari persoalan hidup yang nyata. Yang kayak gitu terjadi loh dan sangat manusiawi,” ucap bang Saut. Begitulah yang dapat dilihat sebagai perbedaan dari karya seni dan karya pop. Keduanya mempunyai dunia sendiri, tidak bisa dicampuradukkan.

Persoalannya, saat ini, seni mulai dikacaukan. Orang yang baru saja menulis tentang sesuatu yang indah namun bukan seni mengklaim dirinya seniman. “Yah kayak Andrea Hirata. Setelah mendapat gelar Best Seller ia menjadi kaya dan tulisannya diterjemahkan ke dalam lima bahasa. Kalau mau dibandingkan, karya Pram diterjemahkan ke dalam puluhan bahasa tapi nggak cuma bergelar Best Seller. Itulah seniman man, hahaha,” bang Saut tertawa.

***
Proses berkarya bang Saut sendiri dimulai ketika ia berkuliah di jurusan Sastra Inggris Universitas Sumatra Utara, Medan pada 1986. Usai S-1, bang Saut merantau selama sebelas tahun ke New Zealand. Kala itu, bang Saut tak sempat menuntaskan S-2nya di bidang Film and Creative Writing. Namun, di Negeri Kiwi, ia sempat mengajar bahasa dan sastra Indonesia di almamaternya, Victoria University of Wellington dan University of Auckland.

Di New Zealand, bang Saut semakin aktif berkarya di bidang sastra. Ia aktif terlibat dalam dunia poetry-reading di bar dan café kota Wellington dan Auckland. Selain itu, ia makin produkif menulis karya sastra. Ia gemar menulis haiku.

“Haiku adalah sajak pendek dari Jepang yang sangat mementingkan imajinasi. Bila haiku bisa menunjukkan suatu imajinasi yang bagus, itu sangat luar biasa maknanya,” ucapnya. “Begitu membosankan, ikan emas berenang mengukur aquarium,” bang Saut merapal haiku bikinannya berjudul “Such Boredom” yang versi aslinya berbahasa Inggris.

Keseriusannya menekuni sastra membuahkan hasil. Haiku karyanya, Such Boredom, menjadi pemenang pertama lomba Haiku International Poetry Society pada 1992. Sebagai karya terbaik, haiku bang Saut dikoleksi oleh museum Haiku di Kyoto, Jepang. Tak hanya itu, atas kreativitas seninya, bang Saut dianugerahi “Poetry Award” oleh almamaternya: Victoria University of Wellington (1992) dan University of Auckland (1997).

Puas merantau ke negeri orang, bang Saut berlayar ke Bali. Ketika itu, ia bekerja sebagai redaktur majalah Bali Echo serta Surf Time. Bosan dengan rutinitas keredaksian, bang Saut memutuskan pindah ke Yogyakarta pada 2002. Bang Saut sempat menjadi dosen S-2 Ilmu Religi dan Budaya Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta selama setahun. Lepas setahun, pekerjaan mengajar tak lagi ia tekuni.

Kesibukan bang Saut sekarang adalah menulis karya dan kritik sastra. Ia aktif menulis cerita pendek, esai dan puisi. Sampai sekarang, banyak karya telah dihasilkannya.

“Pada dasarnya saya penulis fulltime di Kompas, Tempo, dan Suara Merdeka. Saya juga sering diundang menjadi pembicara seminar sastra,” ceritanya. Sambil tersenyum, ia mengatakan bahwa ia biasa mencipta puisi saat mabuk. Imajinasi dalam benaknya muncul sebanyak buih bir yang sedang diminumnya.

Sebagai sastrawan sekaligus pelaku seni, bang Saut tegas berpendapat bahwa seni membuat orang peka dan menyadari ketidakberesan dalam hidupnya. Baginya, seni bisa membuat setiap orang memberontak dan melawan ketertindasan. “Dalam seni sastra, orang peka untuk berevolusi, menuntut sebuah perubahan dengan rumusan mazhab cendekiawan sama dengan revolusi,” ucapnya lantang. Begitulah, Saut si penyair berambut gimbal berkisah.[Dedi Lolan]

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY