Pater Leo dan Kreuz dari “BeKaS”

0
117

*) Fr. Oriol Dampuk

Dengan derita membias pada setiap sudut,
Ternyata Tuhan telah lahir dalam sekumpulan berkat
Derap langkah-Nya pun terlampau mulia dalam butir-butir iman
Sebab derita yang menusuk adalah belaian rahmat paling akrab
semenjak doa menjadi langkah awal menuju rumah-Nya…
 Buah rohku ranum dalam kemuliaan Tuhan
dan dalam sabdaNya Maharahim

Demikian sepenggal puisi yang dideklamasikan oleh Randi Nogo, siswa kelas X saat mengawali pementasan teaterdi Seminari Pius XII Kisol, Manggarai Timur.

Dalam rangka menyambut perayaan hari P. Leo Perik, SVD sebagai fundator Sanpio (nama lain dari lembaga ini), kelompok sastra BeKaS (Bengkel Kata Sanpio) mementaskan teater berjudul Kreuz. Pementasan ini berlangsung di aula Sanpio yang dimulai pada pukul 20.00 WITA.

Sikap kedisipilnan diajarkan oleh P. Leo Perik, SVD ketika membangun Seminari Pius XII Kisol sejak tahun 1955. Perjalanan panjang dari negeri kincir angin menuju Tanah Rata Kisol membutuhkan usaha yang luar biasa. Si bangau putih (julukan Pater Leo) telah berhasil meletakkan fondasi yang kokoh demi perkembangan lembaga calon imam ini. Beliau telah berkorban dan berusaha semaksimal mungkin. Sosok pater Leo akan selalu dikenang oleh alumni Sanpio. Ia adalah arsitek ulung yang mampu membawa perubahan bagi pendidikan di tanah Congka Sae. Beliau telah menanamkan semangat serikatnya untuk melaksanakan misi dimana saja. Perjuangannya telah membuahkan hasil yang istimewa, dilihat dari alumni yang telah bekerja di seluruh dunia. Meskipun beliau menghadapi banyak tantangan, ia tetap berusaha untuk menghidupkan benih panggilan Tuhan.

Komunitas Sastra BeKaS ingin menggumuli sosok pater Leo dalam teater Kreuz. Kreuz diambil dari kata bahasa Jerman yang berarti Salib. Dari salib, Tuhan Yesus mengajarkan banyak  hal seperti pengorbanan, perjuangan, kesetiaan, kekudusan, dan ketekunan. Salib menampakkan sosok Yesus yang maharahim dan mahasuci. Yesus telah melewati berbagai cobaan semasa pewartaan Injil-Nya. Pada akhirnya, seluruh misi Yesus diwujudkan dalam pengorbanan di kayu Salib. Salib melambangkan kekudusan yang merangkum misteri kebaikan Allah kepada manusia. Pater Leo pun telah mengorbankan tenaga dan pikiran untuk melanjutkan pewartaan Sabda Tuhan kepada semua orang.
2
Musafir dan Kreuz

Naskah teater yang disusun oleh Yudi Jehali, Louis King, Randi Nogo, Mensi Arwan dan Fr. Oriol Dampuk ini berdurasi satu jam. Teater ini diawali dengan sebuah lagu dari Sanpio Vox dengan judul “My Heart Will Go On”. Lalu ada pemutaran video berisi penjelasan bahwa Tuhan kini kadang dilupakan oleh manusia. Selanjutnya, Randi Nogo berkesempatan mendeklamasikan puisi berjudul Meminang Cinta.

Adegan pertama dimulai ketika empat orang menolak ajakan beberapa orang untuk mengikuti prosesi tiga Salib yang mereka usung. Salah satu salib jatuh karena pemegang salib ditendang satu orang dari empat orang tadi. Adegan selanjutnya saat musafir (Louis Adiman) beristirahat karena lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Saat itu ia melihat salib tadi. Ia membandingkan salib itu dan tongkat miliknya. Ia membuang salib itu. Tiba-tiba badannya berguncang hebat dan merasa kesakitan. Peristiwa ini terjadi dua kali.

Adegan berikutnya dikisahkan beberapa  orang menyembah salib. Salib diletakkan di tengah. Musafir merasa heran dan bingung saat melihat mereka menyembah salib itu. Dia berusaha untuk membuang salib tersebut. tetapi orang-orang tersebut menahan dirinya Terjadi  aksi saling mendorong. Musafir itu putus asa dan meninggalkan tempat tersebut.

Selanjutnya, dikisahkan musafir diikat dengan tali di sebuah kursi. Ia meraung dan mengerang, berusaha melepaskan ikatannya itu. Berikutnya ditampilkan musafir tersebut dihadapkan pada dua ajakan. Ajakan pertama dari perarakan yang membawa koper sebagai lambang kekuasaan duniawi. Ajakan kedua dari prosesi salib. Beberapa orang berusaha untuk menyentuh dan memegang salib yang dipegang oleh seseorang. Pada akhirnya musafir mengikuti prosesi ini.

Pada adegan berikutnya, beberapa orang desa menyembah sebuah tanduk. Lalu muncullah rombongan prosesi salib yang ingin meletakkan salib di tempat yang telah diletakkan tanduk. Terjadi adu kekuatan antara orang desa dengan rombongan itu. Orang-orang desa membentuk lingkaran. Pada akhirnya, salib tersebut jatuh di dalam lingkaran itu. Orang-orang desa mengusir rombongan itu sambil keluar dari panggung utama. Sang musafir melihat kejadian itu. Ia pun mendekati salib. Awalnya ia takut untuk memegang salib itu. Lantas ia pun berani memegang salib, membawanya ke panggung dua. Disitu ia menyesali karena telah ‘melupakan’ Tuhan.

Pada adegan terakhir, dipanggung utama diletakkan tempat salib untuk ditahtakan. Musafir dan beberapa orang masuk perlahan ke panggung dan meletakkan salib itu pada tempatnya. Lalu mereka menyalakan lilin di sekitar rumah kecil itu. Mereka pun berlutut dan menyembah salib itu.  Lalu beberapa warga desa datang dengan membawa api obor.  Mereka ingin membongkar tempat itu. Mereka mengelilingi tempat itu. Sedangkan musafir dan teman-temannnya tetap tenang dan diam. Orang-orang desa mulai perlahan mendekati dan ingin membuang salib. Sebelum mereka menyentuh salib itu, tiba-tiba tubuh mereka terpelanting menjauh dari salib. Mereka heran dengan kejadian ini. Mereka sekali lagi mendekati salib itu. Mereka membentuk lingkaran, tetapi tetap tidak bisa mendekati salib itu. Musafir dan teman-temannya kemudia membantu dan mengangkat orang-orang desa. Pada akhirnya, orang-orang desa pun ikut menyembah salib itu.

Randi Nogo sekali lagi mendeklamasikan puisi, diikuti pemutaran video berisi hubungan Kreuz dengan perjuangan Pater Leo, SVD. Di akhir pentas ini, Sanpio Vox menyanyikan lagu dengan judul “Sentuh Hatiku”.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada anggota BeKaS yang telah berhasil mementaskan teater Kreuz dengan sangat baik. Mereka telah berhasil menghipnotis para penonton dengan peran yang istimewa”, ungkap Yudi Jehali selaku ketua sastra BeKaS.[]
3

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY