“Kondisi yang Membuat Saya Jadi Seniman. Lebih Kuat Daripada Hemingway….” Sebuah Wawancara Dengan Gerson Poyk

0
1006
sumber: www.weeklyline.net

DEPOK-Sastra harus memperjuangkan kemanusiaan universal. Hal itulah yang diyakini dan diperjuangkan salah satu sastrawan Indonesia Gerson Poyk. Tidak putus-putusnya, Gerson menulis untuk memuliakan kemanusiaan.

“Sastrawan harus percaya diri mengumumkan karya-karyanya yang baik. Bahwa sastrawan harus diam setelah karya diterbitkan, tidak pernah berarti dia bebas melayani budaya kematian dan lepas tanggung jawab,” terang Gerson kepada Agustinus Tetiro yang berkunjung ke rumahnya di Depok, Jawa Barat, belum lama ini.

Menurut Gerson, karena kepadanya dituntut kepercayaan diri dan tanggung jawab, seniman dan sastrawan harus mandiri dalam semua arti yang bisa dimaksudkan oleh kata “mandiri”. Terutama, keberanian untuk memilih jalan sastra pada hidup sini-kini yang semakin keras, pragmatis, dan teknokratis, bahkan otomatistik.

Gerson Poyk lahir di Namodele, Pulau Rote, Nusa Tenggara Timur pada tanggal 16 Juni 1931. Menghabiskan masa kecilnya di Flores, NTT, Gerson percaya bahwa bakat sastranya lahir dan terinspirasi di Pulau Bunga tersebut.

Gerson menyelesaikan pendidikan terakhirnya di SGA Kristen Surabaya pada 1956. Gerson pernah menjadi guru SMP dan SGA di Ternate selama 1956-1958 dan Bima, Sumbawa pada 1958.

Merantau ke Jakarta, Gerson menjadi wartawan harian Sinar Harapan (1962-1970). Pada 1970-1971, Gerson menerima beasiswa untuk mengikuti International Writing Program di University of Iowa, Iowa, Amerika Serikat. Penikmat se’i (daging iris khas Pulau Timor, NTT) ini sempat mengikuti seminar sastra di India pada tahun 1982. Gerson menikah dengan Atoneta Saba dan dikaruniai lima orang anak.

Beberapa karya Gerson adalah Hari-Hari Pertama (1968), Sang Guru (1971), Cumbuan Sabana (1979), Giring-Giring (1982), Matias Akankari (1975), Oleng-Kemoleng & Surat-Surat Cinta Rajagukguk (1975), Nostalgia Nusa Tenggara (1976), Jerat (1978), Di bawah Matahari Bali (1982),Requim Untuk Seorang Perempuan (1981), Mutiara di Tengah Sawah (1984), Impian Nyoman Sulastri (1988), Hanibal (1988), dan Poli Woli (1988).

Sebagai penghargaan atas karya dan kinerjanya, Gerson pernah menerima beberapa penghargaan bergengsi. Beberapa diantaranya: Aktor pembantu terbaik pada Festival Seni Drama di Surabaya 1956 , Hadiah sastra dari majalah Horison dan Sastra, dua kali Hadiah Adinegoro bidang karya jurnalistik, Academy Award dari Forum Academy NTT, Inspirator Award dari majalah Lider 20, Lifetime Achievement Award dari Harian Kompas, dan berbagai penghargaan lainnya. Hari Ulang Tahunnya, 16 Juni, ‘dibaptis’ sebagai hari kebangkitan sastra di NTT.

Kepada Agustinus Tetiro, Gerson mengomentari banyak hal, mulai dari kenangan masa kecilnya di Flores, minat dan kiblat sastranya, hingga harapannya untuk masa depan sastra dan sastrawan. Berikut petikan lengkap wawancara:

*****

Gusti Tetiro: Opa, nama Opa sangat besar di kancah sastra Indonesia. Saya ingin memulai wawancara dengan cara yang tidak biasa. Jika sekarang saya ingin membaca karya Opa, kira-kira judul yang mana yang paling Opa rekomendasikan untuk saya?

Gerson Poyk: Enu Molas di Lembah Lingko

Gusti Tetiro: Kenapa?

Gerson Poyk: Itu tentang kekaguman saya pada Flores. Inspirasi saya datang dari Pulau Bunga itu. Enu Molas di Lembah Lingko itu juga berbicara tentang ide saya tentang seniman NTT.

Gusti Tetiro: Baiklah. Saya ingin dengar kisah Opa selama di Flores, terutama tentang ‘letupan’ kreatif pertama dunia kepenulisan Opa.

Gerson Poyk: Saya besar di Ruteng. Bapak saya kerja di Ruteng, hingga suatu ketika karena ada masalah bapak masuk bui waktu saya masih kelas 3 Sekolah Rakyat, saya harus belajar kerja kebun. Dari Ruteng, kami berpindah-pindah: ke Bajawa dan Ende.

Secara eksistensial, saya kenal dunia ini di Bajawa. Pada suatu sore, saya melihat langit terbelah dan awan menyelimuti kami semua, saya berlari ketakutan: takut masuk neraka, karena saya nakal, saya suka pakai uang sekolah minggu untuk beli roti. Saya berlari sekuat tenaga ke rumah. Ternyata semua orang tidak ketakutan. Sialan! Ternyata itu fenomen alam yang biasa di Bajawa dan sekitarnya.

Setelah keluar penjara, Bapak saya dapat pekerjaan di Bajawa. Saya lanjut sekolah. Saya menaruh minat pada pelajaran bahasa dan sastra, karena guru bahasa kami orang Maumere atau Larantuka, saya lupa, adalah guru bahasa yang menarik.

Tidak lama di Bajawa, kami pindah ke Ende. Di Ende, saya mempunyai banyak sekali kenangan. Kami tinggal di sepotong tanah lapang di depan Gereja Katedral. Di Ende, kami makan ubi Nuabosi yang enak dan bikin kenyang.

Lalu, saya sendiri sempat tinggal di rumah keluarga Sabu-Rote di suatu tempat bernama Tiang Radio di seberang rumah pembuangan Sukarno. Orang Sabu di rumah itu tarik air dari sumur. Itu jadi tugasku yang menyenangkan.

Gusti Tetiro: Baik Opa. Cerita masa kecil yang bagus. Bagaimana dengan minat pertama Opa untuk menulis sastra?

Gerson Poyk: Itu sudah muncul sejak kecil. Saya menulis sejak SD. Cerita itu lebih dulu ada, lalu saya ‘dipaksa’ untuk menulis. Ketika Bapak dipenjara, kami kehilangan toko dan rumah. Kami luntang-lantung. Itu terjadi sebelum Jepang masuk Flores.

Karena kenal dekat Bapak, Raja Manggarai kasi kami tanah di daerah Hombal. Akan tetapi, pengelola tanah sebelumnya guru Malole orang Rote yang seperti Kaisar Ethiopia itu sangat sombong dan otoriter. Dia melarang kami mengolah tanah tersebut. Nah, mama saya berontak dan mengejar guru Malole dengan parang. Itu heboh, tapi lucu dan geli juga.

Secara dramatis, semua pengalaman itu terekam dan menjadi endapan untuk stok kepenulisan saya. Saya pikir, kondisi yang membuat saya menjadi seniman. Pengalaman-pengalaman saya yang melahirkan imajinasi.

Saya masuk ke sastra Indonesia melalui puisi Anak Karang  yang dipublikasikan di Mimbar Indonesia. Saya masih hafal betul syairnya: Di sini gubuk dan karang// Sekali pernah mama bilang/ cerita dekat/ cerita kau// Jangan kasih kutuk dengan musim…//

Kita orang NTT sebenarnya sehat. Ikan dan sayuran kita melimpah. Kita minum gula dari alam. Kita sehat.

Anda bertanya tentang Roh kreatif yang bekerja dalam diri saya? Saya selalu semangat hingga hari ini. Saya tampung anak-anak dari seluruh Indonesia sejak dahulu sekali. Saya hidup dari menulis hari demi hari. Kalau tidak ada beras, saya minta mereka mengirim tulisan-tulisan saya ke koran dan media lainnya. Lalu, kami dapat honor dan beli beras. Kami melanjutkan kehidupan.

Kami membuka semacam sekolah teater. Sekarang, mereka telah mandiri. Bahkan, ada yang mempunyai portal berita dan penerbitan sendiri. Mereka menikah dengan nona-nona yang menulis skripsi tentang saya. Saya bahagia dan bangga.

Gusti Tetiro: Sebuah pengalaman yang hebat. Opa boleh lanjut cerita…!

Gerson Poyk: Saya kagum pada Imanuel Kant dalam pembahasan tentang libido kekuasaan dan moral. Tolong kenalkan imperatif kategoris: diperintahkan supaya kamu bermoral. Tuhan yang beri sendiri itu.

Saya punya pengalaman lain waktu kecil. Karena kesal dengan orang-orang yang suka berisik ketika lewat di depan rumah saya, saya pasang jerat bilah bambu. Kira-kira setengah jam, saya sendiri menyesal. Ada semacam satu perintah dari dalam hati saya: Cabut lagi bilah bambu itu!!!

Gusti Tetiro: Saya pikir, pengalaman itu lebih dekat dengan ajaran moral Thomas Aquinas tentang distingsi antara suara hati dan hati nurani. Suara hati bisa keliru, tetapi hati nurani tidak pernah salah.

Gerson Poyk: Saya juga suka pemikir Katolik ini (Thomas Aquinas, red). Anda benar, ini pasti soal tegangan antara suara hati dan hati nurani. Terima kasih untuk pencerahan dan kembali mengingatkan saya.

Gusti Tetiro: Dilema-dilema moral dalam cerita-cerita karangan Opa memang sulit dibayangkan tanpa pengetahuan tentang teologi kristen. Nah, kalau di katolik ada Thomas Aquinas, siapa pemikir protestan yang sangat mempengaruhi Opa?

Gerson Poyk: Benar sekali. Selain Thomas Aquinas, saya suka Jane Jacques Maritain, seorang neothomist. Saya suka filsafat estetikanya. Kalau di Protestan, saya suka Paul Tillich. Dia menulis teologi seperti menulis cerpen.

Saya agak bangga karena di Flores ada sekolah teologi filsafat. Jangan ganggu orang Flores, itu jagonya filsafat teologi. Saya juga terpengaruh Martin Buber. Saya mengoleksi agak banyak buku filsafat.

Gusti Tetiro: Ya, teologi Paul Tillich dekat dengan puisi Rilke dan filsafat Nietzsche.

Gerson Poyk : Benar.

Gusti Tetiro: Siapa sastrawan dunia yang menginspirasi Opa?

Gerson Poyk: Saya senang membaca Dostovesky. Senang saja tanpa alasan macam-macam.

Gusti Tetiro: Ada yang bilang gaya cerita Opa sama dengan Mark Twain dan Ernst Hemingway?

Gerson Poyk: Saya tidak suka Twain. Dia terlalu Amerika. Hemingway? Saya lebih kuat dari Hemingway. Saya selalu bisa menulis lebih bagus daripada The Old Man and the Sea karya Hemingway.

Gusti Tetiro: Opa terkesan sangat percaya diri. Hehehe. Apa yang Opa pikirkan tentang inspirasi?

Gerson Poyk: Inspirasi mungkin sama dengan cogito ergo sum. Kita di api unggun dan otak bekerja seperti api.  Dari api unggun, ada perintah saya harus sekolah lagi. Saya sekolah. Setiap kuartal saya selalu juara pertama. Ketika nganggur, saya belajar empat tahun otodidiak Bahasa Inggris. Saya steno-kan smua pidato Sukarno.

Gusti Tetiro: Menurut Opa, bagaimana cara terbaik belajar sastra?

Gerson Poyk: Ya seperti saya ini.

Gusti Tetiro: Baiklah. Apa yang Opa bayangkan ketika saya mengatakan “Menjadi Sastrawan dan Seniman di NTT?”

Gerson Poyk: Kita mesti mendorong orang NTT bisa hidup dari tanahnya. Saya pernah membaca buku “Out of Poverty”. Hari sastra tahun depan, saya ingin bacakan how to be out of poverty. Kalau mau kaya, gampang saja, kuasai teknologi. Orang Flores tidak punya roda, orang Manado dan Bugis membuat roda.

Saya juga suka Bali dan keliling di sana. Orang Bali bikin bajak, orang NTT tidak. Di Amerika, saya baca literature tentang bajak dan kegiatan membajak. Lalu, orang-orang di sana menembak kerbau-kerbau liar, menjadi petani cerdas, dan lain-lain. Harus ada ide bagaimana bongkar tanah dan bisa tanam. Itu jadi tugas untuk orang NTT.

Gusti Tetiro: Brilian. Apakah Opa masih aktif menulis novel pada usia saat ini?

Gerson Poyk: Saya sedang mengembangkan sebuah novel. Ada satu peluang untuk masukan ide-ide anti komunisme. Serta, kegagalan komunisme di Indonesia dan dunia.

Gusti Tetiro: Ada berapa disertasi, tesis, dan skripsi yang berbicara tentang karya dan kehidupan Opa?

Gerson Poyk: Beberapa disertasi dari Jerman, Australia, Amerika, Hongaria, Belanda, dan Jepang. Banyak juga di Indonesia seperti di Jakarta, Bali, Jogja, Medan, dan lain-lain.

Gusti Tetiro: Saya keasyikan mendengarkan kisah Opa. Ini pasti akan mengorbankan alur pertanyaan. Tidak apa-apa. Saya ingin kembali tanyakan ini. Apa lagi kesan Opa tentang Flores?

Gerson Poyk:  Inspirasi saya datang dari Ruteng. Surga buat saya dari cuacanya. Waktu di Ruteng, saya tidak pernah sakit. Kalau di pantai banyak nyamuk. Itu yang membuat saya mudah sakit. Sayang, saya tidak nikah dengan Nona Manggarai…! hehehe

Saya menulis Enu Molas artinya gadis cantik. Kebun Lingko. Orang Manggarai cerdas, dia bagi dan patok kebon pakai jari dan benang saja. Kalau kebonnya sebesar ibu jari berarti besar betul itu. Liturgi dan masyarakat Manggarai juga saling berterima.

Saya masih ingat lagu Bahasa Manggarai, “O Mori Ge agu Dewa… Baeng koe ta”. Saya paling senang ikut salve atau misa dan bermimpi jadi ajuda atau misdinar. Jika saya katolik, saya mungkin sudah menjadi pastor.

Sebelum lupa, saya harus sebut nama teman saya, Dami Toda. Kami dulu selalu di gubuk saya. Kami bikin grup kembangkan kegiatan budaya di NTT. Mingguan Dian jadi media-partner. Romo Mangun tertarik. Rendra juga. Rendra bagus antar Dami hingga ke kampungnya, harusnya saya tapi waktu itu tidak punya uang.

Satu hal lagi yang saya ingat tentang Ruteng. Bupati Manggarai Frans Lega. Kalau saya ke Ruteng, beliau suruh saya nginap di rumah. Tapi sebagai wartawan, saya tidak suka karena dia sadis. Dia pukul para pembantunya yang melawan dan bebal.

Terpujilah Frans Lega, karena anaknya menjadi uskup. Bupati Frans sayang saya. Kakak kelas saya di Ruteng dulu. Ada lagi teman saya. Kakak kelas saya yang hebat juga adalah Ben Mboi.

Dulu, saya mau masuk seminari. Katolik sangat puitis. Para pendeta itu seperti PNS, pejabat, sangat birokratis. Para imam sangat organisastoris: hierarki yang kuat di dunia ini.

Gusti Tetiro : Saya mungkin bisa bayangkan Opa jadi pastor yang doktor teologi yang tulis novel?

Gerson Poyk: Saya membawa beberapa buku teologi dari AS.

Gusti Tetiro: Apakah ada orang NTT yang bisa menyaingi prestasi Opa?

Gerson Poyk: Belum ada orang NTT yang bisa sama. Mungkin dari Flores bisa suatu saat. Karena, ditopang oleh pendidikan filsafat dan teologi.

Gerson Poyk: Saya curiga kalau sarjana filsafat dan teologi dari tulis sastra. Terlalu banyak rasionalisasi.

Gerson Poyk: Barangkali. Dia teratur. Kalau dia sudah ber-cogito ergo sum. Mungkin karena terlalu banyak teori tanpa aksi. Dia harus pikir untuk hidup dari tanah untuk out of poverty. Dia harus dapat inspirasi untuk bikin bajak, bikin roda.

Gusti Tetiro: Opa, bagaimana mendamaikan status wartawan dan sastrawan, berita dan cerita?

Gerson Poyk: Saya sudah mulai litetary jurnalism. Trend novel baru AS waktu saya di Iowa. Sebenarnya pengalaman-pengalaman jurnalistik itu bisa dijadikan sastra. Tapi di zaman sekarang, media adalah indsutri, wartawan menjadi mesin dalam arti yang hampir betulan. Menulis di atas roda.

Sebagai sastrawan, satu malam sepuluh cerpen, sangat bertenaga!

Sebagai wartawan, saya memenangkan Penghargaan Adinegoro nyaris tiga kali berturut-turut. Rosihan Anwar ‘potong’ saya. Dia kasi anak buahnya yang tulis artikel pendek. Itu saya tahu dari teman juri. Padang bengkok! Tetapi, sudahlah. Toh, Rosihan itu juga teman saya.

Gusti Tetiro: Kapan waktu paling kreatif untuk Opa?

Gerson Poyk: Malam. Istirahat saya tidak teratur. Bisa sampai pagi. Saya sewa losmen. Banyak teman datang menginap.

Gusti Tetiro: Opa, apakah ada yang namanya Sastra NTT?

Gerson Poyk: Tidak ada. Kalaupun ada, Sastra NTT hanya untuk sebutan birokratis. Dan itu tidak cocok untuk makna sastra. Inti sastra itu universal: sastra menembak ke langit.

Gusti Tetiro: Mungkin sebutan Sastra NTT untuk menjelaskan dua hal: sastra tentang NTT atau orang NTT yang nulis sastra?!

Gerson Poyk: Tidak!!! Untuk urusan birokrasi, seperti Jakarta pusat, Jakarta daerah. Kita belum bisa atau tidak bisa klaim sastra NTT. Itu hanya bunyi. Perjuangan batin dalam bersastra hanya untuk kemanusiaan universal. Belum saatnya kita berbicara tentang kanon sastra NTT. Tugas kita adalah berkarya. Bahwa ada dokumentasi, boleh saja. Namun, jangan terlalu memaksa.

Gusti Tetiro: Opa mempunyai pikiran dan mimpi tentang komunitas seniman dan sastra NTT?

Gerson Poyk: Ini pertanyaan bagus. Saya selalu berpikir dan memimpikan hal itu. Saya dan beberapa teman pernah berniat membuat sanggar seniman dan sastra.

Konsepnya begini. Setiap seniman yang teruji ‘dibaptis’ jadi pemilik kebun dan kapal nelayan. Jika mereka belum memiliki lahan atau kapal penangkapan ikan, pemerintah harus usahakan untuk mereka. Seniman dan sastrawan NTT itu harus mampu bermain teater, membuat puisi, menulis cerita, tetapi juga harus bisa mengolah tanah, kerja kebun, dan menangkap ikan. Teknologi cukup menjadi pendukung untuk petani dan nelayan.

Ide saya sederhana saja. Saya mau supaya NTT sejahtera. Para sastrawan dan senimannya pun harus sejahtera. Sastrawan harus mandiri.

Saya merasa aneh bahwa Gubernur NTT tidak gelisah melihat hal-hal yang tidak manusiawi terjadi di sana. Ini aneh. Tidak ada kegelisahan kreatif. Rumah-rumah di Timor bikin malu.

Gusti Tetiro: Opa marah dengan birokrasi NTT?

Gerson Poyk: marah, tetapi kalau mereka tidak bisa berpikir, kita buang energi.

Gusti Tetiro: Kita kembali ke karya Opa. Jika ada yang ingin melakukan kritik sastra, siapa yang paling Opa harapkan baca dan kritisi semua karya Opa?

Gerson Poyk: Saya mengharapkan ada seorang kritikus yang paham betul tentang filsafat seni dan estetika. Dia harus juga seorang komentator psikoanalisis Sigmund Freud yang baik. Kalau hanya paham sastra Indonesia, dia pasti tidak mampu.

Gusti Tetiro: Kalau saya sebut nama Ignas Kleden?

Gerson Poyk: Dia cerdas. Kritikus sastra yang hebat. Bolehlah kalau Ignas mau nilai karya sastra saya. Saya melihat, Ignas cerdas membaca simbolisme dalam sastra. Saya sendiri berada pada posisi literary journalism.

Gusti Tetiro: Opa, ini mungkin akan jadi pertanyaan terakhir yang penting, apa maksud dan tujuan Opa menulis begitu banyak karya sastra?

Gerson Poyk: Saya mau merangsang pertumbuhan pribadi manusia. Ada kisah saya tentang orang yang berprofesi sebagai dokter tapi sekaligus seniman dan seniman sekaligus dokter. Itu cita-cita saya: orang boleh menggeluti profesi apa saja, tetapi selalu sadar pada seni, pada keberpihakan pada nilai kemanusiaan universal. Namun, harus hati-hati juga: pola begini mudah jatuh menjadi karya pop.

Jakarta, 11 Oktober 2016.


Agusustinus Tetiro adalah seorang Sastrawan dan Jurnalis kelahiran Ende-Flores Nusa Tenggara Timur. Menetap di Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here