Di Kedai Kecil Pasar Seni Kuala Lumpur Kami “MENCARI MIMPI”

0
113

*) Hilda Winar

Saya selalu percaya  bahwa pertemuan  adalah kegiatan saling membagi energi positif. Pertemuan saya dengan Doktor Victor Pogadaev di sebuah kedai kecil di pasar Seni, Kuala Lumpur di bulan juli 2016 salah satunya.

Ketika itu, matahari mulai tergelincir saat saya tiba di pasar itu, berbagai jenis ras manusia saya lihat di pasar itu. Saya terpesona melihat gerombolan sopir taksi berkulit gelap merayu calon penumpang, setengah memaksa. Lalu di ujung jalan seorang pengemis berkulit kuning amat memelas dengan tubuh cacat. Saya mulai berpikir :

Di Kuala lumpur

Gagak  menyambar segala ras

Oh, ya saya harus bergegas memenuhi janji bertemu dengan Doktor Victor. Dia ingin bertemu dan membicarakan buku antologi bilingual puisi saya : Panyalai. Agak ragu sebenarnya: benarkah seorang doktor sastra ingin bertemu karena buku seorang pemula seperti saya?  Di negeri jauh pula. Ah lupakan, bergegas saja.

Tiga gelas besar teh tarik menemani kami bicara, selain untuk saya, juga untuk Eddy Pramduane dan doctor Victor sendiri.  Tiba tiba Doktor Victor tetawa “Kamu mengingatkan saya pada  Sitor” katanya.  “Sitor penyair besar.  Kami generasi  berbeda” Saya menjawab. Kemudian Doktor Victor mulai bicara lanjut “Puisi “ziarah” mu mengingatkan saya pada “malam Lebaran”. Mendengar itu saya terkekeh “hahahaha…iya …pendek,  Ziarah. Aku dating”

“Saya lihat puisi-puisimu penuh humor halus dan ironi” jelas Doctor Victor. Saya membalasnya “Hidup saya yang penuh ironi dan saya mentertawakannya agar tak sakit” Sekilas saya mengingat Alanis morisette, “like rain…. On a wedding day. Isn’t it ironic”. Saya selalu suka Alanis.

Percakapan kemudian berlanjut pada rencana Victor menulis buku puisi-puisi Indonesia yang akan dia terjemahkan ke dalam bahasa Rusia dan dia ingin memasukkan puisi-puisi saya ke dalam buku itu. Menarik!

Saya memajukan duduk saya mendengar lebih serius dan bersemangat alasannya menulis buku itu : “Antologi ini adalah yang pertama selama lebih dari 50 tahun terakhir. Pada tahun 1960-an, pembaca Soviet tahu puisi Indonesia dengan baik.Selanjutnya, terjemahan puisi Indonesia di Rusia muncul hanya dari waktu ke waktu. Jelas, sekarang saatnya untuk mengisi kekosongan lima puluh tahun terakhir itu, untuk memperkenalkan puisi Indonesia baru kepada para pembaca Rusia: bukankah selama ini banyak penulis berbakat dan berpribadian asli lahir”.

Percakapan semakin hangat ketika Doktor Victor melempar pertanyaan “bagaimana kalau kita buat buku kembar saja. Buku ini akan terbit di Rusia dalam bahasa Rusia dan terbit di Indonesia dalam bahasa Indonesia dan Rusia” Saya terkesan “keren tuh”. Doctor Victor kemudian bertanya “ibu bisa bantu?” Dengan tanpa ragu saya kemudian menjawab “Saya punya penerbitan, tapi saya harus mencari cara untuk mencetaknya. Tak begitu besar dananya karena mungkin hanya cetak sedikit saja bersifat dokumentatif bagi para penyair pengisi buku dan sumbangan bagi universitas-universitas di Indonesia yang memiliki kajian Rusia. Ayolah, ini berharga bagi adik-adik mahasiswa”

Sudah sejak hari itu, saya hanya memikirkan rencana menerbitkan buku itu yang akhirnya dia beri judul : “MENCARI MIMPI”. Saya diberi sedikit tugas mencari beberapa puisi yang diperlukan, diantaranya dari ibu Diah Hadaning, Dinullah Rayes dan Slamet Widodo.

Hanya dua bulan setelah pertemuan itu, saya menerima naskah  lengkap buku itu yang berisi puisi puisi dari 21 penyair Indonesia : Taufiq Ismail, Tariganu,Diah, Sutardji Calzoum Bachri,puisi Taufiq, Dimas Arika Miharja, Tan Lio Ie, Joko Pinurbo, Chandra Yusuf, D. Kemalawati, Evi Idawati, Narudin, A.Slamet Widodo, Syarifuddin Arifin, Hilda Winar, Sosiawan Leak, Eddy Pramduane, Dewa Putu Sahadewa,Anwar Putra Bayu). Saya bergegas meminta ISBN untuk buku MENCARI MIMPI.

Bulan november ini, MENCARI MIMPI akan terbit di Rusia dalam bahasa Rusia dan di Indonesia dalam bahasa Indonesia dan Rusia.

Para sahabat sastra Indonesia, terimalah persembahan penerbitan saya dengan harapan akan bermanfaat bagi perkembangan sastra Indonesia. Saya juga berharap langkah kecil saya ini bisa membuka  pintu sastra Dunia bagi sastra Indonesia.

Oh ya saya kutipkan sebuah puisi penyair rusia yang berada di sampul belakang buku yang ditulis Alexander Blok:

Pada suatu hari ketemu kau
Sebutir debu dari rantau yang jauh.
Dan dunia akan kelihatan menakjubkan,
Diselubungi kabut berwarna.

Catatan: Naskah ini sebelumnya adalah catatan penerbit untuk buku puisi “Mencari Mimpi” kemudian disunting kembali dan diberi judul yang berbeda oleh Kris da Somerpes, untuk dibagikan kepada pembaca. Sebuah catatan reflektif dan inspiratif, bahwa perjumpaan adalah puisi itu sendiri. Salam sastra. Salam budaya.


Hilda Winar, Penyair-menetap di Jakarta

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here