PARA PENYEMBAH KURSI, Catatan Sangat Pendek dari Pentas Merdeka Belum Merdeka (?) Teater Aletheia-Ledalero

0
148

*) Gusty Fahik

Akhir Oktober 2016, sehari setelah seantero negeri mengenang Sumpah Pemuda, saya berkesempatan menonton aksi panggung berjudul Merdeka Belum Merdeka (?) yang dipentaskan oleh Kelompok Teater Aletheia Ledalero. Ini merupakan kali kedua Kelompok Aletheia mementaskan Merdeka Belum Merdeka (?), setelah pentas pertama digelar pada Agustus lalu, seperti dibahas di Floressastra (31/08) oleh Johan Paji, salah satu anggota Kelompok Teater Aletheia.

Memang dalam sebuah pementasan, yang perlu diperhatikan dan barangkali menjadi menarik untuk dibahas ialah aksi para pelakon, juga berbagai benda yang dihadirkan di atas panggung sebagai simbol yang membawa pesan tertentu untuk ditangkap dan kalau bisa dipahami oleh penonton/publik. Masing-masing simbol bisa dipahami secara terpisah, bisa juga dipahami dalam keseluruhan, atau dalam keutuhan sebuah pentas. Dan hal-hal itu saya kira sudah cukup dibahas oleh Johan Paji dalam ulasannya di Floressastra.

Saya menyaksikan pentas itu dalam kondisi sudah membaca ulasan Johan Paji, sehingga dalam arti tertentu saya sudah memiliki sedikit gambaran tentang keseluruhan pentas. Namun, saya sendiri pada akhirnya memilih menjadi “gelas kosong” atau mengosongkan bagasi pengetahuan saya tentang pentas Merdeka Belum Merdeka (?) untuk menangkap sesuatu yang lain, atau memperoleh pemahaman baru dari pentas itu sendiri.

Bagi saya, hal menarik dari pentas itu ialah sosok-sosok yang bertelut setengah rebah di sekitar sebuah kursi yang ditempatkan di tengah-tengah panggung. Mereka tidak bicara, hanya mengeluarkan suara-suara yang entah bermakna apa. Tanpa mengurangi makna kehadiran aktor dan simbol-simbol lain, saya memusatkan perhatian pada kursi dan mereka yang setengah rebah di sekitar kursi itu.

Kursi; Simbol Kekuasaan?

Saya memahami kursi sebagai simbol kekuasaan. Kursi yang diletakkan pada pusat panggung seakan menunjukkan kehadiran kekuasaan yang entah mengapa disembah oleh manusia-manusia dalam ekspresi setengah rebah, bahkan terkadang sampai sepenuhnya rebah.

Oleh Aletheia, kursi itu dibiarkan kosong. Tidak ada yang duduk di atasnya, tidak ada yang memilikinya. Namun, kekosongan itu justru membius mereka yang rebah untuk terus menerus “menyembah” tanpa peduli apa yang terjadi di sekitarnya. Kehadiran orang-orang terkurung tidak mereka hiraukan, bahkan teriakan “merdeka” dan litani panjang yang mengikuti teriakan itu tidak mereka dengar.

Kekuasaan seolah membuat orang kehilangan kesadaran. Kekuasan membius dan membuat orang lupa pada keadaan sekitarnya. Mereka yang terlanjur larut dalam kegilaan akan kekuasaan tidak peduli pada sekelilingnya. Mereka bersuara dalam bunyi-bunyi bukan dalam kata-kata. Itu sebabnya, mereka tidak mengerti kata-kata yang disuarakan orang lain, seperti orang lain juga tidak mengerti bunyi-bunyi yang mereka hasilkan.

Kursi yang dibiarkan kosong seakan memberi afirmasi bahwa kekuasaan tidak pernah benar-benar dimiliki oleh siapapun. Kekuasaan itu cukup menghadirkan diri dalam kesadaran manusia untuk berubah menjadi obsesi yang menggiurkan. Rezim boleh berganti, kekuasaan tetap menawarkan kenikmatan bagi siapapun untuk berusaha merebutnya.

Para Penyembah Kursi

Sosok-sosok setengah rebah di depan kursi kosong bagi saya adalah gambaran telanjang tentang para penyembah kekuasaan. Ketika kekuasaan itu disembah layaknya dewa, persoalan sesungguhnya bukan lagi terletak pada kekuasaan itu. Persoalan telah bergeser ke aktor-aktor yang menjadikan kekuasaan sebagai idola, sebagai berhala yang memabukkan dan merusak kesadaran.

Mereka jadi tidak waras untuk memahami bahwa kursi kosong itu bisa diisi seandainya mereka saling memahami apa yang mereka suarakan. Tidak adanya saling pemahaman ini tergambar dari suara-suara hampa makna yang tidak lebih dari sekedar bunyi-bunyi yang mereka keluarkan, tanpa maksud untuk dipahami orang lain. Mereka bahkan tidak sadar bahwa kursi itu kosong dan siapapun bisa duduk di atasnya.

Demi sebuah kursi orang bisa melakukan apa saja, mengorbankan apa saja. Bila anggapan ini kita tarik ke pengalaman konkret maka saya kira kita perlu mengingat fenomena jual beli suara demi memperoleh kursi di gedung parlemen, atau permainan isu identitas primordial macam suku, etnis atau agama demi meraih kursi kepala daerah atau kepala negara.

Ketika tiba pada bagian akhir dari catatan singkat ini, saya hanya akan memberi sebuah peringatan: kursi kosong dapat menyebabkan kegilaan, menghilangkan kewarasan, gangguan kesadaran, dan lain-lain. Waspadalah!!

Kupang, awal November 2016


Gusty Fahik adalah penikmat sastra dan teater, tinggal di Kupang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here