PERKENALAN, Cerpen Endang Indri Astuti

0
134

*) Endang Indri Astuti

Aku terbangun dini hari. Kurasakan seseorang menarik-narik kerah bajuku. Tapi ketika aku menoleh, Ragiel tengah tertidur pulas menghadap arah yang berlawanan. Firasatku tidak enak. Sejak pertama masuk ke rumah ini, aku merasakan ada sesuatu yang berbeda.  Ragiel satu-satunya teman laki-laki yang kukenal di Jogja. Sebenarnya temanku banyak, namun aku hanya dekat pada Ragiel saja. Sebulan yang lalu aku menyampaikan pada Ragiel dan beberapa temanku bahwa aku akan ke Jogja. Tujuan utamaku adalah mengambil honor di salah satu koran sekalian jalan-jalan. Beberapa teman menawariku tempat tinggal selama aku berada di Jogja. Namun, aku lebih memilih tinggal bersama Ragiel untuk beberapa hari ke depan. Sepertinya, sekarang aku sedikit menyesali keputusanku menerima tawaran Ragiel.

Jam tujuh malam, Ragiel menjemputku di Giwangan. Ini pertemuan pertama kami, setelah berjabat tangan dan berbincang, kami pun menuju ke kos-an Ragiel. Ragiel menyebutnya kos, walau pun setelah sampai dia tinggal di sebuah rumah milik bosnya. Sebelumnya kami sempat tersesat, Ragiel sempat lupa arah yang benar dari Giwangan sampai Jalan Kaliurang. Beruntung aku memakai GPS, jadi aku bisa mengatasi keadaan dengan cepat.

Rumah tua itu bercat cokelat, dengan catnya yang memudar dan sedikit mengelupas. Bangunannya berbentuk rumah joglo dengan pendapa dan beberapa sekat rumah yang berbentuk pintu-pintu khas Jawa. Angin kecil berhembus menerpa wajahku, seolah menyambut kedatanganku. Hawa berubah menjadi dingin, lalu kemudian berganti dengan hawa panas yang entah dari mana.

“Duduk dulu, Bro, aku ambilkan minum sebentar,” gumam Ragiel mempersilakanku duduk.
Aku duduk di sebuah kursi anyaman yang terbuat dari bambu. Ruang tamu di rumah ini
tidak begitu luas, namun cukup untuk ditempati lima sampai sepuluh orang. Seorang bapak setengah baya keluar dari sebuah pintu yang membatasi ruang tamu dengan ruang sebelahnya.

“Temennya Ragiel ya?” Tanyanya padaku, aku mengangguk lalu berdiri dan menjabat tangannya.
“Rangga, Pak,” gumamku memperkenalkan diri.
Ragiel datang dengan membawa secangkir teh untukku. Ia kemudian masuk dan kembali dengan sepiring singkong goreng dan menyuguhkannya padaku.
“Ini bosku, Bro, Pak Ahmad. Dia yang punya rumah ini. Sekaligus warung tempatku bekerja,” Ragiel memperkenalkan Pak Ahmad padaku. Aku tersenyum tipis sambil mengangguk.
“Anggap saja rumah sendiri, Le. Oh ya Bapak mau tidur dulu, kalian ngobrol saja, bapak duluan ya,” pamit Pak Ahmad. Aku dan Ragiel mengiyakan, lalu Pak Ahmad masuk ke kamar yang terletak di sudut ruangan.

Aku dan Ragiel berbincang-bincang sebentar. Ragiel banyak bercerita padaku tentang Jogja. Pemuda asal Purwokerto ini sudah hampil lima tahun tinggal di kota ini. Sempat berpindah-pindah pekerjaan, hingga akhirnya menjadi karyawan Pak Ahmad dan bekerja di warung Soto tenda miliknya.

“Besok mau ke mana, Bro?” Tanya Ragiel sambil mencomot singkong goreng dan menggigitnya pelan.
“Ke Malioboro paling, Indri ngajak ketemuan di sana.”

Indri itu temanku, lebih tepatnya teman yang sering kubully di facebook. Sebenarnya bukan membully, lebih tepatnya hanya bercanda. Gadis itu baperan, sensitif dan terkadang alay juga, tapi yang kusuka darinya adalah sifatnya yang apa adanya, walau kadang suka membicarakanku di belakang, tapi tak apa.

“Aku enggak bisa nganter, gak papa?”
Ragiel kerja dari pukul empat sampai dua belas. Tiap jam satu sampai jam empat sore adalah waktu istirahat baginya. Setelah itu dua jam selanjutnya dia membantu Pak Ahmad meracik bumbu di rumahnya
“Nggak papa. Aku bisa naik Gojek atau berjalan kaki. Sesekali ingin menikmati suasana Jogja.”
Ragiel mengangguk lalu pembicaraan kami mengalir ke hal-hal lain hingga rasa kantuk menghampiri kami. Aku memutuskan untuk mandi karena badanku lengket sekali. Hampir delapan jam menempuh perjalanan dari Surabaya ke Jogja tentunya membuat tubuhku gerah. Ragiel menunjukkan kamar mandi yang letaknya berada di samping dapur. Di sebelahnya ada sumur tua. Sepertinya tidak terpakai lagi karena bagian atasnya tertutup dengan anyaman dari bambu.

Kututup pintu kamar mandi dan mulai melepaskan satu per satu yang kukenakan. Aku segera mengguyur tubuhku dengan air. Tidak baik mandi malam-malam, kata Sandra pacarku, dan aku ingin segera mengakhiri ritual mandiku.

Aku hampir selesai hanya tinggal memakai kaosku, ketika kurasakan jemari-jemari lembut menyentuh bahuku. Lalu turun ke dada dan perutku. Aku terkejut dan berpikir yang tidak-tidak, bisa jadi Ragiel yang melakukannya. Namun anggapanku itu pun terpatahkan saat kuberanikan diriku menoleh ke belakang dan tak ada satu pun yang kutemukan tengah memelukku. Jantungku berdegup kencang dan darahku berdesir tak karuan. Aku segera keluar dari kamar mandi dan memakai kaos sambil berjalan. Ragiel sudah tertidur pulas saat aku masuk ke kamarnya. Aku masih menerka-nerka siapa yang memelukku saat di kamar mandi? Lalu sebuah pemikiran muncul di kepalaku. Mungkinkah firasatku sejak awal benar?

Sejak Ragiel mengajakku masuk ke rumah ini, aku merasa bahwa ada aura lain yang kurasakan. Jika Orang Jawa bilang rumah ini “Singup”. Aku ingin mengatakannya pada Ragiel, namun kuurungkan, aku takut Ragiel memiliki rasa takut yang berlebihan. Bisa jadi dia berhenti bekerja hanya gara-gara aku dan pindah kos hanya karena takut mendengar ceritaku. Bagiku mungkin ini biasa, tapi bagi Ragiel mungkin tidak. Aku yang terbiasa dengan pandangan berbeda ini mungkin bisa memandang masalah ini dengan santai, tapi mungkin tidak bagi Ragiel.

***
Esoknya Ragiel bangun pukul empat. Aku sudah terjaga hampir tiga jam sejak seseorang menarik-narik bajuku dan membuatku susah kembali tertidur. Ragiel bangun dan segera mengambil wudhu, aku membuntuti langkahnya, sengaja mengikutinya ke mana-mana. Aku bukannya takut, namun ada satu alasan lain yang tidak bisa kujelaskan.

Selesai mandi — dengan secepat-cepatnya— aku bersiap dan menemui Ragiel di ruang tamu. Sepiring gorengan dan kopi hitam panas sudah tersaji di meja. Ragiel menyapaku sambil tersenyum.

“Enggak tidur semalam, Bro?” Tebak Ragiel. Aku menyeruput kopiku dan memainkan hape sambil mengangguk.
“Jadi kamu beneran enggak tidur? Terus ngapain aja semalaman?”
“Tidur sebentar, lalu terbangun. Aku nonton film horor,” gumamku. Sudah menjadi kebiasaanku sebagai penulis horor, aku sering berurusan dengan hantu dan hobi menonton film horor. Awalnya aku sedikit takut—yang perlu kamu tahu, aku sering mengalami kejadian-kejadian aneh di rumahku sendiri— hingga lambat laun aku mulai terbiasa dengan ulah iseng para hantu.

Aku menghabiskan dua potong tempe goreng dan dua tahu isi lalu berpamitan pada Ragiel. Jogja mendung pagi ini, aku memesan gojek dengan tujuan Malioboro. Mama menitipkan beberapa pesanan oleh-oleh padaku, dan Indri berjanji mengantarku. Hampir setengah jam aku menyibak jalan Malioboro, untuk menemukan Indri, hingga seorang gadis berkacamata menyapaku, namanya Vierga, dia adik dari Indri. Aku pernah melihat fotonya bersama Indri dan juga Novi di facebook jadi dengan mudah aku mengenalinya.

Kami— aku, Indri, Vierga, Ririz dan satu keponakannya yang aku lupa namanya— berjalan menyusuri jalan Malioboro hingga nol kilometer. Selanjutnya langkah kami berhenti di taman budaya untuk sekadar numpang duduk dan bercerita. Ragiel datang tepat pukul dua dan bergabung dengan kami. Disusul satu temannya yang bernama Redy. Entah siapa yang memulai, kami bercerita tentang hal-hal yang berbau horor. Lalu mengalirlah cerita apa yang kualami semalam.

“Aku kira kau yang menarik bajuku dari belakang. Pas aku nengok kau tidur menghadap arah lain,” gumamku. Ragiel tersenyum menanggapi ceritaku.
“Mungkin itu hantu yang ngajak kenalan kali. Memang di sana sering ada kejadian aneh. Pak Ahmad sendiri juga pernah cerita kalau sejak istrinya meninggal rumahnya berubah menjadi singup,” gumam Ragiel dengan santai seolah cerita hantu adalah makannya sehari-hari.
“Istrinya Pak Ahmad meninggal karena sakit. Sakit aneh yang tidak ada sebabnya. Yang kudengar, di tubuh istrinya muncul bintik-bintik aneh yang menimbulkan bau busuk. Pak Ahmad sudah membawanya ke dokter, namun tidak ada hasilnya. Hingga istrinya ditemukan tewas di kamar mandi,” cerita Ragiel.
“Apa mungkin yang ngajak aku kenalan istrinya Pak Ahmad? Maklumlah aku kan ganteng jadi wajar kalau banyak yang mau ngajak kenalan,” candaku sambil tertawa, Ragiel, Indri dan teman-teman yang lain tertawa.
“Bisa saja kau ini. Dulu pas pertama kali aku pindah di situ, aku juga sering diganggu, tapi sekarang sudah mulai terbiasa,” ungkap Ragiel.
“Kamu sih sok ganteng, jadi gitu diajak kenalan hantu,” celetuk Indri sambil tertawa. Aku tertawa saja mendengar ucapannya. Lalu kami melanjutkan banyak cerita lainnya, hingga tiba saatnya berpamitan. Aku rasa hari ini cukup menyenangkan sekaligus melelahkan. Hingga di hari kedua aku tidur bersama Ragiel, aku bisa tidur dengan nyenyak, tentunya aku mengabaikan segala gangguan yang ada.

***
Setelah menyelesaikan urusanku di Jogja, aku berpamitan pada Ragiel untuk kembali ke Surabaya. Aku tiba di Surabaya pukul delapan malam. Kurebahkan tubuhku sebentar di kasur sebelum aku mandi. Setelah sepuluh menit, aku bergegas ke kamar mandi, mengambil handuk dan melangkahkan kakiku masuk ke dalam.

Seperti biasa, aku menyelesaikan mandiku dengan cepat dan bergegas untuk tidur. Entah berapa lama aku tertidur, aku merasa ujung celanaku ditarik-tarik. Aku mengucek mataku ketika seorang wanita cantik tengah berdiri di ujung kasurku. Wajahnya mulus, putih dan wangi cendana memenuhi kamarku.

“Aku ingin pulang,” lirihnya dengan wajah manja. Merajuk.
“Kamu siapa?” Tanyaku seperti orang linglung. Jelas-jelas dia hantu, tak ada wanita lain di rumah ini selain Dita, Mama dan Mbok Inem. Jadi bisa kupastikan dia hantu.
“Marni, aku ingin pulang, antarkan aku,” rengeknya padaku. Aku rasa tengah bermimpi, jadi kuabaikan saja dia. Namun sebelum kepalaku menyentuh bantal dengan benar. Dia mencengkeram ujung kerah kaosku. Lalu dengan mata yang hampir copot, kulit yang berubah berwarna hijau, mengeluarkan bau busuk, dia mengancamku, “Antarkan aku atau kau mati malam ini.” Tangannya mencekik leherku dan hampir membuatku kehabisan napas.

Aku tak ada pilihan lain. Segera kuambil motor dan membiarkan Marni duduk di jok belakang, dia menyebutkan satu alamat yang sangat kukenal. Aku menghela napas, mengenakan helm dan bersiap menelusuri jalanan Surabaya-Jogja yang lengang. Tak kupedulikan Mama yang berteriak-teriak memanggilku.

Di tengah jalan Marni minta diturunkan, dia turun begitu saja. Dan aku baru sadar telah tersesat jauh dari rumah. Di hadapanku hanya hutan dan jalan panjang yang seperti tak ada ujungnya. Aku tersesat dan kemungkinan tak tahu jalan pulang.


Endang Indri Astuti, perempuan yang pernah patah hati. Penggemar cerita romance, suka membaca di waktu luang. Beberapa karyanya baik esai, serpen, artikel, puisi pernah dimuat di media online maupun cetak. Bisa dihubungi lewat facebook: Endang Indri Astuti. Blog: indriaworld.blogspot.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here