AKU DAN PERASINGAN, Puisi-Puisi Handriani Sulastri Natal

0
89

*) Handriani Sulastri Natal

Aku dan Perasingan

Embun hati dan perasaan
Kini tak bersahabat.
Setitik embun pun tak mampu menyejukkan hati.
Hati melihat dengan mata yang merasakan
Hidup diandaikan gelap dan terang
Yang selalu kulihat dan rasakan pahitnya hidup.

***
Hidup ini penuh misteri
Dengan perjalanan yang begitu panjang
Membawaku ke tempat perasingan.
Di pelupuk mata tersirat rasa rindu
Rindu akan hidup damai

***
Ini tempat perasinganku
Tempat aku mengais rejeki
Sepeser ku bersyukur,
tak ku pedulikan kerasnya pukulan kata demi kata,
matahari yang membakar punggungku,
hujan yang selalu membasah tubuh yang lemah ini.

***
Di tempat perasingan
Aku di tombak seribu tikaman kecewa
Penderitaan hari ini lukisan penderitaan di masa depan
Aku di tempat perasingan

Ruteng, 23 November 2016

Garis Pembatas

Aku membisu di balik angin malam
Menerpa wajah kering kerontang
Keadaan yang begitu kritis
Melenyapkan mimpi-mimpi ku.

***
Garis pembatas
Ia garis pembatas itu
Melumpuhkan angan-angan ku
Adakah kebahagian di setiap cucuran keringat ini
Ataukah kemalangan yang berdatangan?

***
Ingin rasanya aku menarik garis pembatas itu,
Tapi apalah daya tangan tak sampai.
Ini negeri orang, dan aku ada di garis pembatas
Aku dan mimpi hanya rindu di pembatas
Nasib kami kaum imigran di garis pembatas.

Ruteng, 23 November 2016


Handriani Sulastri Natal adalah mahasiswi PGSD STKIP St. Paulus Ruteng dan bergiat di Komunitas Sastra Hujan Ruteng, dan menetap di Tenda.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY