Imaji Perlawanan dalam Narasi Realis Liris

0
132
sumber foto: mojokstore.com

*) Elvan De Porres

“Tanpa ingatan, tidak ada kebudayaan.
Juga tidak akan ada peradaban, masyarakat, dan masa depan.”

(Elie Wisel)

Elie Wisel boleh jadi benar bahwa ingatan atau memori punya pengaruh kuat bagi derap langkah kebudayaan. Tidak pernah ada kebudayaan tanpa ingatan. Tanpa ingatan pula, peradaban sebagai tonggak bangunan-bentukan kebudayaan tidak akan pernah menampilkan wajahnya. Pun masyarakat dan masa depan hidup manusia.

Wisel sendiri merupakan salah seorang penyintas dalam perisitiwa pembantaian sistematis terhadap ras Yahudi oleh rezim Nazi. Sehingga konteks ujarannya di atas tak perlu disikapi secara gegetun dan bingung. Intip saja buku sohornya Night (1960) yang berisikan memoar-memoar peristiwa bengis-bebal bernama holocaust itu terjadi. Itu adalah semacam bentuk ingatan pagan guna memberi tanda bagi perjalanan kebudayaan manusia sendiri. Bahwa realitas kejam juga luka lama memang tidak boleh dilupakan. Tapi mesti diingat. Mesti dikenang. Sebagai pelajaran berharga ke depannya. Juga tentu saja sebagai bentuk semburat refleksi lanjutan.

Buku kumpulan cerpen (kumcer) Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali, terbitan Buku Mojok (2016), sama sekali tidak punya hubungan dengan peraih nobel perdamaian 1986 di atas. Juga tidak berkelindan sengkarut dengan kisah pembablasan holocaust. Namun, cerpenis Puthut EA, kelahiran 1977, dalam buku tersebut sejatinya menyuguhkan sebuah suar suara yang sama. Tentang ingatan, tentang masa lalu, tentang kisah kelam. Tentang sejarah, tentang pergolakan politik, tentang rezim. Dan yang lebih membeslah perhatian; tentang perlawanan.

Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali, yang berisikan lima belas cerita pendek adalah sebuah tuturan jujur mengenai realitas itu sendiri. Realitas pembungkaman, eksploitasi, bunuh-bunuh, krisis ekonomi, tutup mulut, tabu, dan berbagai laku lainnya di bawah represivitas kekuasaan. Maka sudah diduga, ujar-ujar soal komunisme, gerwani, juga kebebasan berekspresi, nalar kritis, dan suara-suara perlawanan menjadi lumrah dalam kumcer ini. Baik secara langsung maupun tak langsung.

Barangkali Puthut sengaja memberikan antidot kepada pembacanya untuk tetap larut dalam ingatan. Untuk tetap hidup dalam peradaban dan menjadi manusia yang sadar. Seperti yang dituturkan Sylvia Tiwon dalam pengantar buku ini, cerpen-cerpen Puthut tidak hanya mengingatkan pada bahaya lupa, tetapi juga memberikan ingatan bahwa masih ada ruang imajinasi yang hidup untuk membikin hancur lebur tangan besi sejarah resmi. Sudah barang tentu, yang disasar di sini ialah situasi kala rezim Orde Baru menancapkan kaki kekuasaannya.

Dengan memampatkan sudut pandang orang pertama tunggal, yakni tokoh “Aku” sebagai peran sentral dalam keseluruhan cerpen, Puthut membuka kumcernya dengan cerita berjudul sama. Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kali. Berkisah tentang tokoh “Aku” yang dituduh telah membunuh bebek di pinggir kali. Lantas tokoh “Aku” tak terima dan mengelak. Bukan dia yang membunuhnya. Dia hanya menyaksikan bagaimana bebek itu tergeletak mati tak berdaya.

Namun, masyarakat kadung memberinya label sebagai sang pembunuh bebek. Hidupnya pun menjadi semakin miris ketika peristiwa-perisitiwa lain datang menghantui. Mulai dari bapaknya yang didaku sebagai komunis sehingga harus diseret pergi dari rumah, buliknya yang tiba-tiba menghilang sendiri, dan serentetaan kisah terjal perjuangan hidup hingga ia lulus SMA. Tapi pada akhir cerita, sang pengarang menyodorkan sebuah kejutan. Bahwasanya setelah bungkam sekian lama, tokoh “Aku”rupanya membuat pengakuan. Bebek itu memang dibunuh olehnya.

“Aku membunuh bebek itu. Aku mengetapel tepat di kepala bebek itu. Aku melihatnya menggelepar….Aku mendengar suara rintihannya….”

Di sini, tokoh “Aku” barangkali merepresentasikan figur manusia yang hidup dalam ketakutan. Ketakutan terhadapcap atau anggapan minor masyarakat, ketakutan terhadap stigma. Ada keengganan untuk bersuara. Juga kecemasan mengakui yang sebenarnya. Sebab, bisa saja ia diadili dan dihakimi. Sementara, bebek mewakili mereka yang jadi korban. Dalam parade apa saja. Dalam bentuk represi, pembungkaman, penculikan, bahkan lebih sadis yakni pembunuhan itu sendiri. Atau meminjam terminologi Uskup Carlos Ximenes Belo, bebek yang mati di pinggir kali adalah suara kaum tak bersuara (the voice of the voiceless), atau sebagai kaum subaltern seturut gagasan Antonio Gramsci yang merujuk pada kelompok sosial pinggiran yang tertekan oleh hegemoni kekuasaan.

Narasi kejutan-kejutan memang tampak khas dalam buku ini. Misalnya, dalam cerita Berburu Beruang, terdeskripsikan secara detail ritual berburu beruang antara tokoh “Aku” dan tokoh Mas Burhan. Bagaimana keduanya menyiapkan peralatan, mengatur strategi juga posisi dan disposisi diri, dan bagaimana proses pemburuan itu berlangsung. Hingga mereka berhasil membunuh dan menguburkan jasad beruang itu. Tak satu jengkal kata pun dirunut secara sia-sia. Seolah-olah sang pengarang bukan hanya punya pengalaman berburu, melainkan lebih daripada itu, sangat lihai dalam gelar perburuan.

Namun, Puthut mengejutkan pembacanya dengan, “Sesungguhnya yang kami tanam itu adalah potongan-potongan pohon pisang. Wajah Mas Burhan tampak puas setelah kami usai bermain-main imajinasi ‘berburu beruang’.”

Jika dibaca sampai tuntas, sesungguhnya detail runtut berburu beruang hanyalah pengantar bagi pembaca. Sebab, pembaca akan mengetahui bahwa Mas Burhan rupanya seorang aktivis keras kepala yang punya idealisme perlawanan kuat. Dan, parade ontran-ontran berburu beruang hanyalah bagian dari simbol perlawanan termaktub. Adapun pesan tokoh “Mas Burhan” kepada tokoh “Aku” yang dapat dijadikan pegangan hidup, yakni “…Latihlah terus imajinasimu, perkuat daya hidupmu, dan terus asahlah daya ciptamu….”

Bahkan secara terang-terangan, Puthut pada akhir cerita seolah-olah merumuskan sebuah beleid, “…Malam itu, setiap kali tombak Mas Burhan menancap kuat di tubuh beruang, maksudku batang pisang, ia berteriak keras. Seperti mengeluarkan dendam. Seperti menancapkan serangan maut ke jantung kekuasaan….”
publication2
Kumcer alumnus fakultas filsafat UGM ini tak pelak juga bermain-main dengan peristiwa keseharian hidup manusia. Dia membaurkan tetek-bengek hal rumah tangga juga obrolan-obrolan di warung kopi dengan gagasan atau tendensi makna yang dianggapnya penting. Dan sekali lagi, Puthut begitu teliti menggambarkan semuanya itu. Dalam Kawan Kecil, narasi-narasi sederhana soal kopi, musik, dan masakan ternyata membawa tokoh “Aku” dan sebayanya Ron terlibat dalam diskusi serius ihwal krisis ekonomi,masalah tanah, dan kehidupan kelas menengah.

Ataupun yang paling santer juga banter ialah kisah tentang Koh Su. Koh Su adalah legenda misterius yang terkenal dengan jualan nasi gorengnya yang luar biasa nikmat. Dan tak tertandingi oleh siapapun. Sang cerpenis berhasil menjelaskan begitu rinci resep pembuatan nasi goreng Koh Su tersajikan. Juga tentang bagaimana sosok itu berpengaruh dalam kehidupan masyarakat.

Lewat kecerdikannya, di sela-sela gurihnya pembaca menikmati cerpen itu, seperti lagi asyik menyantap nasi goreng, Puthut menjelaskan bahwa Koh Su dianggap sebagai komunis. Karena ia tionghoa. Dan menurut cerita orang-orang tua, Koh Su lenyap dalam sebuah peristiwa berdarah.

Selain itu, Puthut secara langsung, tanpa bertele-tele, menyajikan narasiperjuangan hidup. Misalnya, Di Sini Dingin Sekali yang menceritakan keluarga tokoh “Aku” yang hidup dalam posko bencana, sang kakak yang getol berdemonstrasi, Pak RT yang seringkali didamprat warga, dan sang adik yang dilanda trauma setiap kali mendengar bebunyian keras dan besar. Atau, dalam Bunga Pepaya yang menandaskan kisah tentang kehidupan para nelayan yang dieksploitasi dedengkot korporasi.

Pada cerpen Dongeng Gelapdan Rumah Kosong, tokoh “Aku” dibiarkan menjadi seorang yang lugu dan polos, yang merekam jejak perlakuan tak manusiawi terhadap anggota Gerwani, juga terhadap orang-orang PKI. Secara gamblang, Puthut memasukan term-term, semisal Lubang Buaya, film G30S/PKI, Gerwani, komunisme, penyembelihan, tentara, yang memang melatarkan nuansa kekuasaan Orde Baru. Membaca cerpen-cerpen ituseperti menemukan kejujuran realitas. Sejarah. Tanpa tedeng aling-aling.

Barangkali Aan Mansyur benar bahwa cerita-cerita di buku ini ditulis untuk mengajak pembaca memikirkan isinya, isu-isu di dalamnya. Pada epilog, Mansyur menulis, kita bisa melihat peran Puthut dalam Seekor Bebek sebagai sastrawan intelektual-atau intelektual yang dengan penuh kesadaran ingin menegaskan pikiran-pikirannya melalui karya sastra. Kelebihannya, Puthut EA rupanya begitu jeli memainkan diksi sederhana dengan cerita-cerita sederhana pula untuk mencungulkan nilai-nilai besar yang digagasnya.

Pada sumirnya, buku Seekor Bebek yang Mati di Pinggir Kaliadalahlantunan ingatan serentak representasi orang-orang kalah, kaum-kaum terpinggirkan, figur-figur yang tak bersuara, atau yang suaranya dihajar tangan bebal kekuasaan. Sekali lagi, dapat dikatakan bahwa cerita-ceritanya yang sederhana tapi menarik cum penuh kejutan ini menyapa ruang pembaca secara jujur. Tokoh “Aku” yang dipekerjakan dalam kumpulan cerpen ini memang tampil seperti seorang anak kecil yang bertuturapa adanya. Tak ada kepura-puraan, tak ada ketertutupan.

Puthut EA, yang lebih suka disebut sebagai penulis daripada sastrawan itu, memang sedang tidak main-main menunjukkan keberpihakan. Tentu saja pembaca boleh tidak sepakat bahwa perlawanan jadi hal yang membeslah perhatian, seperti yang terujarkan pada awal tulisan ini. Sebab, yang paling banyak ditunjukkan ialah gambaran realitas liris-miris yang bisa saja mengiris kemapanan garis berpikir pembaca itu sendiri.

Namun, di balik cerpen-cerpen itu, di balik usungan mazhab realisnya, di balik narasi-narasi sederhananya, di balik banjar kisah lirisnya, seyogianya ada imaji perlawanan yang hendak ditunjukkan. Lantas imaji itu bukanlah sebentuk hasutan atau agitasi atau provokasi jor-joran secara langsung. Imaji itu hanya berada di balik semuanya. Danhematnya, dalam tataran paling sederhana, imaji itu boleh jadi tersuarkan lewat ajakan untuk mengingat, menghidupkan ingatan, juga menambah amunisi ingatan itu sendiri.

Ingatan (terhadap masa lalu) adalah pijak refleksi yang bernas terhadap sejarah bangsa, terhadap tokoh-tokoh hebat yang terpinggirkan, terhadap korban hegemoni diktatorial, dan sudah pasti semuanya itu memberikan warna bagi kebudayaan masyarakat. Agar dalam lagak cipta, rasa, dan karsa selanjutnya, semua hal perih itu tak terulang lagi dalam wajah apa saja. Agar poporan senjata, merujuk pada cerpen Rahasia Telinga Seorang Sastrawan Besar, tak ada lagi atau sekurang-kurangnya dapat dikritisi dengan bijak. Lantas lebih jauh, barangkali ingatan sebagai ujar nyata dari imaji perlawanan ituakan berjuntrung pada “…berteriak keras. Seperti mengeluarkan dendam. Seperti menancapkan serangan maut ke jantung kekuasaan….” Sebuah bagian dari kebudayaan, peradaban, masyarakat, dan masa depan. Tentu saja.[]


Elvan De Porres, mahasiswa Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero, Maumere, Flores, NTT. Bergiat dalam Komunitas KAHE (Sastra Nian Tana) Maumere.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY