KERINDUAN ZELIN, Cerpen Sulistiyo Suparno

0
54

*) Sulistiyo Suparno

Sedan merah itu ada di sana. Di antara mobil lain di pelataran parkir sebuah masjid. Jendela depan mobil itu terbuka separuh, menampakkan sepasang mata resah dari seorang gadis yang gelisah. Segumpal asap rokok menyelusup ke luar jendela, pecah, lalu hilang tertiup angin.

Gadis itu terus menghisap rokok, seakan berpacu dengan resah yang kian menyergap hatinya. Ia tak tahu apa yang harus dilakukan. Mengapa ia bersembunyi bersama resah hatinya di dalam mobil, di pelataran parkir sebuah masjid? Mengapa ia tak masuk ke masjid?

“Aku terlalu kotor memasuki masjid yang suci,” gadis itu bergumam, mengutuk diri sendiri. “Ya. Aku terlalu kotor!” ulangnya.

Sebenarnya, betapa ingin gadis itu masuk ke masjid, mendengarkan ceramah penyejuk rohani di Ahad pagi itu. Sebenarnya, betapa ingin gadis itu bersujud dan menangis di masjid itu. Sebenarnya, betapa ingin gadis itu….

“Masuklah ke masjid itu. Kau akan menemukan kedamaian.”
Hei, suara siapa itu?

Gadis itu gemetar. Rokok di tangannya hampir terlepas. Ia melakukan isapan terakhir, lalu membuang puntung melalui celah jendela mobilnya.

“Masuklah ke masjid itu….”
Suara itu lagi.
Gadis itu gemetar.
“Tidak!” gadis itu memekik tertahan. Ia menyulut lagi sebatang rokok, mengisapnya dalam-dalam, lalu menghembuskan asapnya kuat-kuat. “Aku terlalu kotor!”

Wajah gadis itu menegang dan resah. Keringat meleleh dari sela jilbab pink, meluncur ke keningnya. “Masjid hanya untuk orang suci. Bukan untuk pendosa sepertiku!”

“Jangan kau kutuk dirimu sendiri. Masuklah ke masjid itu. Kedamaian akan menyelimuti hatimu.”
“Tidak! Masjid itu terlalu suci untuk kumasuki!”
Rokok di jemari tangan gadis itu, lagi-lagi, hampir terlepas. Jemari gadis itu gemetar menjepit rokok putih yang tak dapat ia nikmati dengan sempurna.

“Masuklah. Masuklah…”
“Diam!” Gadis itu kembali menahan pekik. Tangannya memukul lingkaran kemudi. Napasnya tersengal-sengal. “Jangan atur hidupku! Siapa kau?”
“Aku adalah kerinduan yang sekian lama kau pendam.”
“Diamlah!” Gadis itu geram. “Kau tak berhak mengatur hidupku!”
“Kerinduan ada di depanmu. Masuklah ke masjid itu, Zelin.”
“Diam! Aku bilang diam!” Gadis itu memukul-mukul lingkaran kemudi.

Gadis itu memandang ke sekeliling kabin mobil, tapi ia tak menemukan siapa pun selain dirinya yang gusar dan meradang.

Gadis itu menghela napas lega ketika dirasa suara itu tak lagi berbisik. Wajahnya kuyup oleh keringat. Ia mengambil tisu di dashboard. Menyeka keringat yang telah melumerkan sebagian bedak di wajahnya. Ia memejamkan mata.

“Apa aku sudah gila?” desisnya risau.

Untuk beberapa lama sepasang mata bulat gadis itu memejam. Napasnya mulai teratur. Getar di tubuhnya mulai mereda.

Ponselnya berdering membuat gadis itu terhenyak sejenak. Malas ia meraih ponsel dari dashboard. Sebuah SMS masuk. Sebuah ajakan kencan dari lelaki yang ia kenal.

Gadis itu menghela napas dan tersenyum. Ia merasa telah mendapatkan sang pembebas. Ia mendapatkan alasan untuk meninggalkan pelataran parkir masjid yang membuatnya resah dan bimbang di Ahad pagi itu.

Gadis itu melepas jilbab pink dan membantingnya ke kursi di dekatnya. Ia menghidupkan mesin mobilnya. Detik berikutnya mobil itu telah merayap di jalanan, masuk ke jalur tol, melaju kencang seakan memburu (atau diburu) sesuatu yang meresahkan.

Gadis itu melirik ke kaca spion dalam mobil dan memastikan wajahnya masih menarik. Ia juga mengamati tubuhnya. Ia bernapas lega karena tidak memakai gamis. Ahad pagi itu ia memang memakai pakaian serba tertutup, tapi pakaian itu ketat membalut tubuhnya yang ramping.

Gadis itu melirik jilbab pink di kursi di dekatnya. Mendadak, ia menepikan mobil dan berhenti. Ia merenggut jilbab pink itu, keluar dari mobil, berjalan gegas ke bahu jalan, lantas membuang jilbab itu ke parit. Kemudian ia kembali masuk mobil dan melajukannya dengan kecepatan tinggi.

“Kerinduan yang kau pendam masih menunggumu, Zelin.”
Suara itu lagi!
Gadis itu terhenyak.
“Kau lagi! Bisakah kau diam?” Zelin mengurangi laju mobilnya.
“Berbaliklah arah, Zelin. Masuklah ke masjid itu.”
“Diam!”

Kemarahannya membuat gadis itu menginjak pedal gas kian dalam.
“Suatu saat kerinduan akan membawamu ke masjid itu, Zelin.”
“Diam! Mengapa kau selalu menggangguku! Aku menyesal telah datang ke masjid itu!” Gadis itu menginjak pedal gas lebih dalam.
“Kerinduan akan membawamu ke masjid itu, Zelin. Kerinduan akan membawamu….”

Sebuah lubang menganga di depan. Gadis itu terperanjat, memutar kemudi menghindari lubang di jalan tol itu. Mobilnya tak terkendali; melibas rumput, kerikil, menghantam besi pembatas dan terpelanting beberapa kali.
Ketika gadis itu membuka mata, semua tampak serba putih. Oh, di manakah ia? Apakah dirinya berada di alam lain?

“Di mana aku?” Gadis itu merintih.
“Nona di rumah sakit. Tenanglah, Nona.”
“Suster, saya tak ingin di sini. Saya ingin ke masjid, suster.”
“Tenang, Nona. Tenang….”
“Bawa saya ke masjid, suster. Bawa saya ke masjid….”
Gadis itu memaksa turun dari ranjang. Tetapi tubuhnya limbung, terhuyung-huyung…[]


Sulistiyo Suparno, kelahiran Batang, 9 Mei 1974. Cerpen-cerpennya tersiar di Minggu Pagi, Wawasan, Cempaka, Radar Surabaya, dan media lainnya. Bergiat di Komunitas Pena, perkumpulan penulis di Batang. Bermukim di Batang, Jawa Tengah.

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY