DUNIA TANPA MATAHARI DAN RAHASIA, Puisi-Puisi Edward Angimoy

0
140
Sumber Ilustrasi: "The Look" pensil di atas kertas, karya Gun Falls-Manggarai NTT

*) Edward Angimoy

Dunia Tanpa Matahari dan Rahasia

Hari ini mestinya kita berpesta
Merayakan matahari yang akhirnya mengaku berdusta
Pada jalan-jalan penuh pipa menuju lembah
Dan pada tepi terumbu laut yang disekap limbah

Namun, dari permulaan langit tiba-tiba jatuh petuah
“Simpan mabukmu sampai kita bersua”

“Tapi kami terlanjur mabuk”
Para pedagang coba menawar bujuk

“Maka anggaplah para bayi sedang coba kalian tipu”
Petuah lain menyusul jatuh

Arak-arak kembali dikubur
Katanya agar tumbuh lebih subur
Seperti nasehat para pemandu sorak
Yang lahir dari cawan perak

Masih ada senovel pagi untuk menunggu, bisikku
Biar tidur kita lelap tak terganggu
Dan terutama mimpimu tentang dunia
Tanpa matahari dan rahasia

Watulangkas, 24 November 2016

Jendela

Dari tepi jendela ini, Aku merambatkan daun-daun rindu
Kepada masa-masa yang telah berganti baju
Juga kepada kerling mata yang tak lagi seperti madu
Dan kepada suara-suara ceria yang telah meresap ditafsir waktu

Dari pinggir jendela ini, Aku lalu menyapu seluruh hamparan
Yang akhir-akhir ini gemar mengeluh kehabisan harapan
Yang juga mengadu tak lagi dijenguk nasib baik di persimpangan
Dan akhirnya memilih mengakhiri cerita tanpa permulaan

Lambat laun, jendela ini makin menyulut gairah
Ia menyusuiku dengan sari-sari dilema
Lalu membujukku menghisap setiap lara
Dalam perasaan yang selalu terkesima

Sejak masa itu,
Aku makin betah berlama-lama di tepi jendela
Dan barangkali karena itu,
Aku makin lihai menggaruk-garuk rasa bersalah

Watulangkas, 24 Oktober 2016

 


Edward Angimoy, pegiat seni dan sastra pada komunitas seni orang muda Bolo Lobo, Kopi Sastra Akhir Bulan Labuan Bajo Manggarai Barat. Sekarang aktif menjadi salah satu pengelola Rumah Kreasi Baku Peduli Labuan Bajo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here