CURAHAN HATI IBU PERI KEPADA SEPATU KACA, Cerpen Lisma Laurel

0
59
Sumber ilustrasi: http://www.doublegames.com

*) Lisma Laurel

Di musim yang penuh dengan dedaunan jingga, seorang Ibu Peri berbadan tambun sedang duduk termenung di teras rumahnya. Rambut berombaknya terbang karena tertiup angin musim gugur. Wajah keriputnya tampak tak bersemangat.

Ada sesuatu yang dipikirkannya. Diam-diam dia merindukan peristiwa ajaib yang menimpa Cinderrella, tetapi sayang peristiwa itu sudah terjadi ribuan tahun lalu. Kini namanya tak lagi disebut. Nama ibu peri sudah seperti dongeng yang terlupakan begitu saja.

Sejurus kemudian, Si Ibu Peri masuk ke rumahnya. Ruangan yang penuh laci itu tampak seperti kandang. Sarang laba-laba bertengger dimana-mana. Bau apek segera menyeruak kala dia membuka sebuah peti kecil.

“Tidak ada di sini.”

Ibu Peri mengerucutkan bibir tebalnya. Dia menutup peti itu kembali. Lalu dengan tongkat sihirnya, dia melayangkan peti ke sudut ruangan. Si Ibu Peri mengamati laci-laci yang berjejer seperti ikan-ikan di pasar, mulai membukanya satu per satu.

“Dimana dia, ya?” Ibu Peri terus menggumamkan kalimat itu.

Tentu saja tak akan ada yang menjawab pertanyaannya. Karena rumah yang berbentuk persegi dengan dinding terbuat dari bambu tersebut, hanya dia tempatinya seorang diri.

Tanpa menghiraukan peluh yang mulai menetes di kening, Ibu Peri terus saja membuka laci-laci yang ada di rumahnya. Dia hanya mencari satu benda, yaitu sepatu kaca. Tetapi Ibu Peri sudah terlalu tua untuk mengingat dimana dia meletakan benda itu.

Pencarian tersebut dimulai ketika matahari baru saja terbit dari timur. Pencarian bahkan terus berlanjut sampai sore hari. Ibu Peri tidak memedulikan apakah sudah makan atau belum. Dia hanya minum sesekali apabila rasa hausnya sudah tidak tertahankan.

Ibu Peri seperti teringat sesuatu. Dia memukul-mukul kepalanya, sebagai tanda meruntuki diri sendiri karena kebodohannya.

“Kenapa aku sampai tak kepikiran?”

Ibu Peri mengacungkan tongkat sihir, mengarahkannya kepada vas bunga di atas meja. Vas kosong itu pun hidup. Dia menggeliat seperti seorang bayi yang baru lahir.

“Vas, bisakah kau memberi tahu dimana aku meletakan sepatu kaca?”
“Kenapa kamu tanyakan hal tersebut kepadaku?”
“Karena kau sudah ada di sini sejak lama. Aku bahkan tak memindahkanmu sama sekali.”
“Apakah kamu merindukan sahabatmu yang satu itu?”
“Sepertinya aku tak perlu menjawab pertanyaanmu yang satu itu.”
“Baiklah, kalau begitu kamu cari saja dia sendiri.”
“Hei, Vas!” teriak Ibu Peri. “Kalau kau tak memberitahukanku, aku akan menghancurkanmu!”

Ancaman Si Ibu Peri seketika membuat vas terdiam. Ibu Peri terus menatap benda berbentuk tabung itu dengan sorot tajam.

“Dimana letaknya?”
“D-d-di laci berwarna ungu,” suara vas terdengar gementar. “Tepat di sebelah pintu masuk.”

Setelah mendapat jawaban, Ibu Peri menyihir vas kembali untuk menjadi tidak hidup. Ibu Peri berlari ke samping pintu. Dia langsung mengarah ke laci ungu dan membukanya penuh semangat. Ditemukannyalah sepatu kaca kesayangannya. Sepatu itu masih tampak kinclong sekali pun sudah disimpan ribuan tahun. Seolah debu pun enggan menempel di kaca yang terlihat bersinar tersebut.

Ibu Peri mengangkat tongkatnya, menyihir si sepatu kaca agar dapat berbicara. Senyum Ibu Peri mengembang.

“Bagaimana kabarmu, sepatu kaca?”
“Ibu Peri, lama tidak melihatmu. Aku selalu baik selagi kamu tak membuangku. Kamu sendiri bagaimana?”
“Aku buruk. Hatiku sedang hancur. Tak ada lagi manusia yang berharap ibu peri datang. Mereka bahkan sama sekali tak menyebut namaku.”
“Lalu kenapa kamu mencariku?”
“Aku ingin bercerita kepadamu.”
“Kenapa harus aku?”
“Karena aku nyaman bila berbicara kepadamu.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Entahlah. Mungkin karena kau adalah barang pertama yang aku ciptakan.”

Ekspresi sepatu kaca tidak dapat tertebak. Dia memang tidak mempunyai mata ataupun hidung. Ibu Peri hanya menyihirnya agar dapat berbicara dan mendengar.

“Apa yang ingin kamu ceritakan?” tanya sepatu kaca.
“Sekarang kau mempunyai waktu luang kan?”
“Tentu. Waktuku selalu luang untukmu.”

Ibu Peri mengangkat sepatu kaca. Dia melangkahkan kakinya ke teras rumah. Ibu Peri meletakan sepatu kaca di meja bundar. Ibu Peri sendiri, duduk di kursi goyang sambil menikmati pemandangan hutan di hadapannya.

“Kenapa kamu harus begitu sedih apabila manusia tak lagi menyebutmu?”
“Entahlah. Mungkin aku rindu menolong mereka.”
“Kenapa kamu tidak menolong saja?”
“Masalahnya mereka tidak meminta.”
“Apakah menolong harus diminta? Kenapa kamu tidak mendatangi mereka saja?”

Pertanyaan terakhir itu membuat Ibu Peri terdiam. Dia memainkan jari-jemarinya. Kepalanya menunduk.

“Apakah kamu masih di sana, Ibu Peri?”
“Iya. Aku masih di sini.”
“Kenapa kamu diam? Apakah kamu sedang memikirkan sesuatu?”
“Ya. Aku memikirkan apa yang kau ucapkan tadi?”
“Kalimat yang mana?”
“Tentang kenapa aku tidak mendatangi mereka. Kau benar, sepatu kaca. Kenapa bukan aku saja yang mendatangi mereka? Seharusnya aku datang kembali sebagai teman lama. Bukankah seperti itu sepatu kaca?”
“Iya …”
“Baiklah, kalau begitu aku akan menemui mereka.

Masih belum berdiri dari duduknya, Ibu Peri terlihat sedang berpikir lagi. Senyum yang mulai mengembang, kembali menghilang.

“Tetapi … bagaimana kalau mereka tidak mengharapkan kedatanganku?”
“Kenapa kamu memusingkan hal yang bahkan kamu ragukan?” kata sepatu kaca.
Ibu Peri tersenyum malu. “Kau benar sepatu kaca. Lagi-lagi kau benar.”

Tanpa membuang waktu, Ibu Peri segera menghilang. Dia menuju dunia manusia dan menemui manusia yang dirindukannya selama ini.

Lama sekali Ibu Peri pergi. Malam kini telah datang. Suara-suara burung hantu mulai terdengar dari kedalaman hutan. Sepatu kaca masih terus menunggu seraya mendengarkan suara hewan-hewan malam.

Tak lama kemudian, Ibu Peri datang dengan senyum semringah. Saking senangnya dia bahkan berlari-lari kecil. Dia kembali duduk di kursi goyangnya seraya berkata, “Hidup manusia kini telah sejahtera. Keadilan pun sudah ditegakan. Ternyata selama ini mereka menanti kedatanganku untuk bermain. Terima kasih atas sarannya, sepatu kaca.”

Bangil, Oktober 2015


Lisma Laurel adalah gadis kelahiran Pasuruan, 5 Mei. Alumni SMKN 1 Bangil ini, karyanya pernah dimuat di Pikiran Rakyat, Femina, Kompas Klasikal dan Padang Ekspress. Karyanya juga masuk dalam beberapa antologi. Penulis bisa disapa di www.lismalaurel.com. Facebook: Lisma Laurel. Twitter:@lismalaurel. Instagram:@laurellisma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here